
Bu Sulis berjalan agak pincang karena kakinya sakit. Pletak... "Apa lagi ini ?" Ada ranting pohon kapuk yang jatuh menimpa kepalanya. Bu Sulis menghentikan langkahnya, mendongak ke pohon kapuk yang tumbuh di pekarangannya sendiri. Apakah pohon kapuk ini sudah menua seperti pohon kenanganya Pak Joko? Wowo tampak bertengger di atas pohon kapuk sambil melotot ke arah Bu Sulis.
Bu Sulis memutuskan segera berlalu karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan.
#Di rumah Pak Joko
"Bu, apakah Bu Sulis tadi berbicara yang menyakitkan lagi?" Pak Joko mendekati Bu Joko yang sedang duduk melamun di ruang tengah.
"Tadi Mbak Sulis (Mbak adalah panggilan Bu Joko kepada Bu Sulis) berkata yang tidak pantas kepada Bida." Pak Joko menghela nafas panjang lalu duduk di samping bu Joko.
"Dimana Bida sekarang bu?"
"Setrika pak, Bida menyetrika di kamar kita."
Biasanya Bida setrika di kamar depan tapi sejak kedatangan tamu mahasiswa KKN itu, Pak Joko memindahkan meja setrikanya ke dalam kamarnya.
"Pak, tadi sepertinya Bida melihat bibi dan nenek lagi. Kan para mahasiswa itu sudah berangkat ke balai desa."
"Bu... apakah Ibu juga berpikiran yang sama dengan Bapak. Apakah ibu mencurigai salah satu dari mereka adalah jodoh Bida?"
"Aku harap begitu Pak. Aku sangat senang mengetahui Bida tidak berhubungan dengan Makhluk halus selama ada mereka di rumah."
"Kita berdoa saja bu, agar Bida bisa terlepas dari gangguan makhkuk halus." Pak Joko diam mengingat kembali perkataan Bu Sulis tadi."
"Bida tidak pernah mengatakan diganggu Pak, justru orang yang menyakiti Bida yang akan diganggu."
"Ya bu. Bukankah bisa saja makhluk halus itu salah persepsi lalu menyakiti siapa saja yang mendekati Bida. Mungkin dengan mengubah wajah Bida menjadi jelek ketika ada laki-laki yang memandangnya." Pak Joko menyiratkan wajah cemasnya."
Benarkah bisa seperti itu? Bukankah nak Levi yang sering memandang Bida dengan ekspresi yang tidak bisa dilukiskan. Setiap nak Levi memandang Bida, nak Levi seperti memikirkan sesuatu lalu terlihat gugup. Bahkan akhir-akhir ini seperti selalu berusaha memalingkan wajahnya dari Bida setelah memandangnya lama. Aku bahkan pernah melihat jarinya sedikit gemetar ketika menunjukkan desain kamar mandi kepada Bida. Apakah wajah Bida tiba-tiba sangat jelek ketika nak Levi terus memandangnya. Bu Joko rasanya ingin menangis. Ia sangat menyayangi putrinya.
"Bu... Ibu ada apa? Mengapa Ibu diam saja?"
"Pak, sebenarnya aku tidak percaya 100% bahwa Bida akan bebas dari makhluk halus setelah menikah. Tapi kita memang harus berusaha, kita harus membahagiakan anak kita."
"Ya bu. Bapak sudah ada janji dengan calon pembeli sapi kita. Kita akan buatkan kamar mandi yang bagus untuk Bida."
"Bukan itu maksud ibu, Ibu berbicara soal jodoh Bida Pak."
"Maksud ibu bagaimana? Kita harus membuat Bida tampil cantik. Mereka jumlahnya 5 orang pak. Mereka sudah ada disini lama, sudah lebih dua minggu. Masa tidak ada satupun yang mendekati Bida. Ibu tidak terima, Bida anak ibu itu sangat cantik pak. Tidak ada yang menandinginya." Bu Joko rupanya sudah terpengaruh ucapan Bu Sulis.
"Bu... Mengapa ibu jadi seperti ini? Bida itu masih kecil bu. Bida belum tahu cara menarik perhatian laki-laki, lagi pula sepertinya Bida juga tidak tertarik dengan satupun di antara mereka."
"Ibu tidak suka hal itu. Salah satu dari mereka harus tertarik kepada Bida."
"Jika ibu bisa memilih, siapa di antara mereka yang paling cocok untuk Bida?"
"Levi pak. Tadinya sih ibu lebih suka nak Roni tapi ibu pikir-pikir, sepertinya nak Levi yang paling cocok."
"Sudahlah pak. Mengapa kita jadi seperti ini? Kita tidak boleh lengah tapi kita juga harus berusaha namun tidak boleh berlebihan seperti ini. Mbak Sulis sih... perkataannya pedas seperti merica ditumbuk lalu disemprotkan dengan mulutnya"
"Lain kali tutup saja telinga kita, kita Bu Sulis berbicara atau kita tinggalkan saja, kita sampaikan bahwa kita ada keperluan lain. Jangan meladeni Bu Sulis." Pak Joko memberi ide menghadapi Bu Sulis.
"Ya pak. Bapak benar. Kita harus selalu mendukung anak kita. Jangan terpengaruh, ambil positifnya saja. Tapi ibu akan tetap membuat mereka menyadari bahwa anak kita Bida adalah gadis cantik secantik Bidadari. Ibu pastikan itu."
"Terserah ibu saja. Bapak tidak tahu dunia kecantikan wanita. Bapak akan ke rumah Pak Muhit dulu, mau survei lokasi proyek perumahan yang akan dikerjakan Pak muhit."
"Ya pak, hati-hati."
*****
#Di kamar Bu Joko waktu yang bersamaan dengan ketuka Bu Joko mengobrol dengan Pak Joko
"Bida, kami berusaha menyentuh benda sekitar ketika mereka ada di sekitar sini, agar kami masih bisa berkomunikasi denganmu. Mereka benar-benar melemahkan kami di hadapanmu."
"Benarkah bi? Apakah kalian benar-benar terpengaruh dengan keberadaan mereka. Tapi siapa sih calon jodohku?" Bida menyetrika baju sambil mengobrol ditemani bibi dan nenek.
"Kamu penasaran ya. Kami juga tidak yakin sih tapi kami setengah yakin akan seseorang."
"Benarkah nek, ayo nek beritahu aku."
"Bida jangan biarkan setrikamu nanti bajumu gosong." Bibi memperingatkan Bida karena Bida menghadap nenek dan mengabaikan setrikanya.
"Mengapa kamu penasaran ya?" Nenek menggoda Bida.
"Ya nek. Bude Sulis bilang, tidak ada di antara mereka yang tertarik kepadaku."
"Jangan dengarkan ocehan wanita tua itu !" Nenek sedikit membentak Bida. Membuat Bida takut menatap wajah nenek.
"Nenek... jangan begitu. Lagi pula nenek mengatakan Bu Sulis tua. Memangnya nenek masih muda?" Bibi menggoda nenek.
Bida, nenek, dan Bibi tertawa bersama-sama. Bu Joko yang berniat masuk kamar, tertegun di pintu kamar. Menatap sedih melihat Bida putri kesayangannya berbicara dan tertawa sendiri. Mungkin Bu Joko paham bahwa Bida sedang berkomunikasi dengan makhluk halus namun orang lain akan mengira Bida mengalami gangguan jiwa.
"Bida... Sudah selesai ?" Bu Joko mendekati Bida yang masih terkekeh
"Hampir selesai bu. Maaf bu, Bida masih ada perlu dengan nenek dan bibi." Bida mengisyaratkan agar Bu Joko meninggalkannya.
"Baiklah, ibu tinggal ke dapur ya." Bu Joko sangat sedih dengan kondisi putrinya lalu berlalu ke dapur.
Setelah Bu Joko keluar kamar. Bida kembali mengobrol dengan bibi dan neneknya. Bida sengaja ingin membahas tentang calon jodohnya. Maka itu Bida tidak mau ibunya men dengar obrolannya.
"Nenek, ayo katakan padaku. Siapa dia? Apakah dia memperhatikanku, apakah dia tertarik padaku? Tapi Bude sulis mengatakan jika penampilanku seperti karung, sama sekali tidak menarik." Bida menunduk sedih. Bida tidak mengira jika ia terlihat sangat jelek.
bersambung...