
Pak Joko masih sudah memejamkan mata disamping istrinya yang sudah sejak tadi pulas. Namun pikiran Pak Joko masih kemana-mana. Wajah Bida yang muram ketika Levi meninggalkannya membuat hati Pak Joko seperti teriris perih sekali.
Besok pagi aku akan mengambil sapi-sapiku di rumah Pak Ridwan. Sapi-sapi itu bukan milikku lagi tapi milik Levi. Aku harus merawatnya.
Tidak lama kemudian, Pak Joko terlelap memasuki alam mimpinya.
Pak Joko berada di padang rumput hijau yang sangat luas. Ia duduk bersama Bida di sebuah batu besar. Tidak jauh dari mereka, tampak dua ekor sapi yang merumput.
"Rumputnya hijau dan segar, sapi-sapi itu tampak sangat menikmati." Bida mengarahkan pandangannya ke arah sapi yang merumput. Rambutnya dikepang kebelakang, beberapa helai rambut terlepas dari kepangannya, berkibar tersapu angin.
Pak Joko mengamati wajah Bida yang segar berseri. Pandangan Bida tidak lepas dari sapi-sapi itu. Seolah Bida menganggap sapi-sapi besar itu seperti kelinci mungil yang lucu.
Senyum sesekali menghias wajahnya.
" Bida... saat kau lahir, kita hanya punya 3 sapi kemudian sapi tersebut beranak." Pak Joko menceritakan sapinya.
"Coba jika bapak tidak menjual sapi-sapi kita, kemudian dibiarkan terus, pasti sapi kita banyak." Bida menoleh sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bapak hanya mampu merawat maksimal.4 ekor sapi. Memangnya Bida mau membantu bapak merawat sapi?" Pak Joko menggoda putrinya yang masih tersenyum menatap sapi-sapinya merumput.
Apa yang membuat Bida tersenyum seperti itu? Apa lucunya sapi besar bertanduk itu? Pak Joko berusaha memperhatikan sapi-sapi itu tapi tidak menemukan hal yang istimewa pada sapi-sapi itu selain badannya yang gemuk besar tanda harganya akan tinggi dengan begitu akan cukup sepadan menambah kekurangan biaya rehap rumah kepada Levi yang Pak Joko tidak ketahui secara pasti nominalnya.
"Boleh. Bida siap membantu merawat sapi-sapi itu. Sekalian saja sapi-sapi itu kita biarkan beranak pinak hingga mas Levi datang." Bida tersenyum lebar.
Dari kejauhan, datanglah seseorang yang Pak Joko kenal. Semakin dekat, semakin jelas wajahnya. Itu adalah kakeknya yang bernama Joyosono. Beliau menggunakan baju serba hitam dengan sorban berwarna hitam pula. Wajahnya masih sama ketika dilihatnya semasa kecil.
"Kakek... " Pak Joko tertegun lalu menyalami kakeknya. Pak Joko mencium punggung tangan laki-laki itu.
Bida memperhatikan laki-laki yang baru pertama ini dilihatnya dengan penuh tanya.
Siapa beliau? Mengapa bapak memanggilnya kakek? Apakah beliau kakek Bida?
"Bida... Salimlah (bersalaman) pada kakek buyutmu." Pak Joko menyenggolkan lengannya di tubuh Bida.
Bida mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan laki-laki itu seperti yang bapaknya lakukan.
Kakek Pak Joko mengamati wajah Bida lekat-lekat. Posisi Pak Joko dan Bida yang sedang duduk di atas batu besar membuatnya tidak perlu repot menunduk untuk meluruskan pandangannya ke wajah Bida.
Bida hanya diam, ketika tangan kakek buyutnya itu mengangkat dagunya lalu menatap bibir Bida lama.
"Siapa namanya? Kakek Pak Joko bertanya dengan pandangan masih tertuju ke bibir Bida.
"Namanya Bida". Pak Joko menjawab pertanyaan kakeknya.
"Aku tanya nama laki-laki yang meninggalkan jejak padanya?" Kakek Pak Joko masih belum melepaskan tangannya dari dagu Bida, beliau masih menatap bibir Bida.
Jejak, jejak apa maksud kakek? Kakek mengamati bibir Bida. Tidak ada jejak apapun di bibir Bida. Bida juga tidak menggunakan lisptik. Pak Joko lalu teringat peristiwa ketika Bida dan Levi tertimpa dahan pohon kenanga. Saat itu ada jejak lipstik Bida di bibir Levi dan pipinya juga. Tapi mengapa pertanyaan kakek siapa yang meninggalkan jejaknya di bibir Bida. Bukankah jejak itu ada di bibir dan pipi Levi. Lipstik merah bata riasan Bida ketika wisuda itu yang menempel pada Levi. Menimbulkan peristiwa heboh yang membawa Bida dan Levi ke jenjang pernikahan atas desakan sang provoktor bernama Bu Sulis.
"Namanya Levi." Pak Joko mengucapkannya dengan jelas.
Kakek Pak Joko melepaskan tangannya dari dagu Bida lalu tersenyum.
Bida menunduk malu, mengingat kecupan Levi di bibirmya. Dua kecupan singkat itu masih terasa dibibirnya. Setiap mengingatnya, Bida merasakan seolah Levi sedang mengecupnya saat itu. Wajah Bida merona merah.
"Joko jangan terlalu menghawatirkan Bida, jejak itu menghalanginya dari pandangan yang menakutkannya. Ia hanya akan melihat kawannya. Ada saatnya nanti ia tidak akan melihat ataupun dilihat bangsa mereka lagi."
Kakek mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula. lalu berbalik meninggalkan mereka. Dengan waktu singkat, tubuhnya sudah tampak mengecil karena jaraknya yang semakin menjauh lalu menghilang dari pandangannya. Pak Joko menatap Bida yang juga masih menatap ke arah kakek buyutnya menghilang.
"Pak bangun Pak." Pak Joko merasakan ada yang mengguncang bahunya pelan. Ia membuka mata, istrinya sudah duduk di ranjang dengan kondisi rambut basah.
"Ibu barusan mandi?" Pak Joko bangkit duduk lalu membelai rambut istrinya yang basah.
"Ya Pak. Benar kata Bida, berendam di bath up dengan air hangat dan busa melimpah sangat menyenangkan. Tadi ibu bangun lebih awal dan berendam lama. Bangunlah Pak, aku akan menyiapkan bath up nya untuk bapak."
"Tidak usah bu. Aku mandi pakai shower saja. Tapi jika lain kali ibu mandi pakai bath up, ajak bapak ya. Sepertinya bath up nya cukup untuk kita berdua."
Pak Joko bergegas mandi karena adzan subuh dari Musholla sudah terdengar.
*****
Bida baru selesai menyapu teras, ia meletakkan sapunya lalu menuju halaman, Ia mendongakkan kepalanya ke atas pohon kenanga, mencari keberadaan Wowo disana. Tapi Wowo tidak terlihat.
Wowo kemana ya?
Bida masuk kembali ke dalam rumah. Menenteng sapunya lalu meletakkannya di sebuah paku yang tertancap di dapur ruangan paling belakang rumahnya.
Bida mengamati ibunya yang sedang mencuci perlengkapan makan setelah sarapan tadi. Ibunya tampak cantik menggunakan daster batik warna hijau botol dengan rambut terurai yang terlihat masih basah.
Bida mendekati ibunya.
"Bu, mengapa ibu tidak masak di dapur yang baru?"
"Ibu sudah terbiasa memasak di dapur ini. Lagipula dapur itu terlihat sangat bersih, ibu kuatir mengotorinya. Bida saja yang memakai dapur itu. Ibu akan pakai dapur itu untuk sekedar membuat minuman saja."
"Terserah ibu saja. Ibu lebih suka menggunakan dapur yang mana. Ibu, ... Mengapa Bida tidak melihat Wowo ya?"
Bida memainkan kuku jarinya.
"Benarkah? Bagus lah jika Bida tidak melihatnya. Kata Bida, Wowo itu sosoknya mengerikan kan?" Bu Joko senang mendengar Bida tidak melihat Wowo.
Bu Joko hendak menceritakan pernyataan Bida kepada Pak Joko.
Pasti sekarang Bida sudah terbebas dari dunia makhluk halus. Aku akan menemui bapal untuk menceritakannya. Bu Joko mengeringkan tangannya dengan dasternya tergesa.
"Nenek, bibi... Akhirnya kalian menemuiku. Mas Levi sudah pergi kemarin. Senang rasanya bisa melihat kalian lagi." Suara riang Bida menghentikan langkah Bu Joko yang berniat menuju ke kandang sapi untuk menceritakan pernyataan Bida karena Pak Joko sedang menyiapkan kandang sapi sebelum mengambil sapi yang dititipkannya kepada Pak Ridwan.
Bu Joko berbalik melihat Bida sekarang. Bida melayangkan pandangannya ke arah atas ruang dapur. Bu Joko mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruang dapur. Tidak ada siapa-siapa disana. Bida sering cerita bahwa nenek dan bibi suka melayang-layang.
Apakah Bida sedang melihat nenek dan bibi?
Wajah Bu Joko yang tadi sumringah tampak kembali murung. Ia ingin membawa Bida keluar ruang dapur. Berharap Bida tidak berkomunikasi dengan makhluk halus.
"Mari kita bicara di ruang tengah nek."
Bida melangkah ringan menuju ruang tengah.
Bu Joko mengikuti Bida. Bu Joko duduk di kursi yang ada di dapur baru, mengamati Bida dari sana.
"Nek, kamar tidur dan kamar mandiku bagus sekali. Tapi aku tidak mengijinkan nenek dan bibi melihatnya karena mas Levi bilang..."
"Mas Levi tidak akan memberi kesempatan pada setan yang akan masuk ke kamar ini untuk menemanimu dan mas Levi, sebelum kamu lulus. Nanti jika kamu sudah lulus, mas Levi akan datang. Mas Levi akan tidur di kamar ini. Tapi sebelum saat itu tiba, tidurlah sendiri, biarkan mas Levi tidur di kamar depan!"
Bida tampak diam, matanya menatap lurus ke arah kursi kosong di depannya.
"Mas Levi ternyata galak juga. Padahal waktu itu Bida hanya menawarkan agar mas Levi yang tidur di kamar Bida. Sedangkan Bida tidur di kamar depan. Selama tidak ada ibu dan bapak, mas Levi suka menghindari Bida dan bersikap galak ke Bida."
Bida kembali terdiam, Apa yang Bida bicarakan dengan mereka ? Bu Joko merasakan pandangannya berkabut. Meraba permukaan meja di kitchen set yang berkilau.
Ya Allah, kembalikanlah nak Levi kepada Bida pada saatnya nanti. Bu Joko mengusap matanya sebelum air matanya berhasil menetes.
"Jadi Wowo masih ada di atas pohon kenanga bi? Kok Bida tidak melihatnya ya."
Bida kembali berbicara, pandangannya ke arah atas tembok ruang tengah.
Bu Joko sering mengamati Bida ketika berkomunikasi dengan yang dipanggil nenek dan bibi oleh Bida itu. Bu Joko tidak berani meninggalkan Bida ketika itu terjadi. Malam Harinya sebelum tidur, Bu Joko akan menceritakan semuanya kepada suaminya.