Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Kecelakaan Beruntun


Sepanjang perjalanan, Bu Joko diam. Bu Joko tampak kecewa atas sikap Levi yang diam atas candaan Bida.


"Bu, aku buka hadiah dari Prendi ya?"


Levi mencoba melirik Bida dari spion.


"Buka saja, harusnya kamu menolaknya tadi" Bu Joko tidak suka Bida menerima hadiah dari Prendi.


"Bida juga mau menolaknya bu. Tapi kasihan Prendi, nanti Bida dikira tidak menghargai."


Bida membuka bungkus kado lalu membukanya.


"Bagus bu, bros ini akan Bida pakai. Bida kan akan pakai hijab dari awal sekolah SMK nanti sampai seterusnya."


Levi mencoba melirik dari spion tapi tidak bisa melihat bros yang dibicarakan Bida.


"Mas Bagus kan?" Bida menunjukkan bross tersebut di depannya membuatnya kaget hingga hampir menyenggol sebuah becak.


"Bida!" Bu Joko marah kepada Bida


"Maaf bu." Bida tertunduk sedih.


"Bida, mas Levi juga akan beri kamu hadiah, lihat saja nanti."


"Tidak usah mas, terima kasih." Bida masih tertunduk karena merasa bersalah.


Levi melaju lurus ketika mencapai pertigaan.


"Loh nak Levi salah jalan, harusnya belok kiri." Bu Joko memperingatkan.


"Tidak bu, saya masih ada perlu sebentar."


Tidak lama kemudian, Levi meminggirkan mobilnya, dengan masih membiarkan mesin mobil menyala, Levi lalu masuk ke sebuah gerai busana muslim. Sekitar 15 menit kemudian, Levi sudah kembali ke mobil sambil menenteng 3 kresek besar lalu membuka pintu mobil.


"Bida ini hadiah kelulusanmu dari mas Levi." Levi menyerahkan 3 kresek besar kepada Bida.


"Apa isinya mas? Kok cepet belanjanya?"


Ibu menepuk paha Bida. "Sampaikan terima kasih, jangan cerewet." Bu Joko sungkan mau meminta Bida menolak hadiah dari Levi karena sudah membantu meminjamkan kebaya bahkan mendatangkan periasnya juga.


"Terima kasih mas."


Levi tersenyum, "Mas levi tidak tahu, Bida suka yang mana. Jadi mas Levi minta tolong pramuniaganya yang milih 7 warna berbeda."


"Apa sih mas, kok 7 warna?" Bida bertanya lagi.


Bu Joko melotot ke Bida. Bida langsung terdiam.


"Jangan marahi Bida bu. Bida... itu adalah gamis. Bida ingin pakai hijab kan. Mas Levi dukung. Jangan pakai baju yang terbuka di depan orang lain."


Maksud Levi orang lain siapa? Apakah memang terjadi sesuatu di antara Bida dan Levi? Bu Joko curiga karena berkali-kali memergoki Levi memandang Bida dari kaca spion.


# Di halaman rumah Pak Joko


"Bida itu pasti ditempeli jin. Salahnya Pak Joko memberi nama Bidadari Jini. Memang sih Jini itu katanya singkatan dari Joko dan Rini tapi kan tetap ada kata Jin." Bu Sulis mendongak ke atas pohon kenanga.


"Jangan begitu bu. Tidak perlu mengurusi orang lain." Pak Ridwan kepala adat akhirnya komentar karena risih mendengar perkataan Bu Sulis


"Saya kan tetangganya Pak, saya yakin pohon ini ada penghuninya. Mungkin Gunduruwo yang tinggal di pohon ini menyukai Bida dan ingin memperistri Bida makanya Bida dibuat terlihat jelek jika ada laki-laki memandangnya."


Semua orang yang mendengar mendongak ke atas pohon kenanga. Hal itu membuat Wowo marah tak terkendali. Wowo mengerang marah menampakkan gigi taringnya.


*****


Mobil Alphard berhenti, Levi turun membukakan pintu. Bida dan Bu Joko turun dari mobil. Roni datang menghampiri lalu Levi meminta Roni membawa barang-barang Bida.


Roni bergegas masuk ke dalam menenteng kresek besar. Ayu langsung menyambutnya.


"Apakah mas Levi sudah datang?"


"Ayo Pak Tomo, cepat bawa barang-barangku."


Ayu yang kekar namun gemulai berjalan melewati para sesepuh di halaman. Ia berjalan sambil melambaikan tangannya.


"Ayu pergi dulu ya da... da..."


Semua mata tercengang dengan penampilan Ayu yang berkulit putih mulus, rambut panjang, memakai celana jeans dan kaos ketat. Dadanya bidang berotot.


Bu Sulis sampai melongo.


"Mas Levi thank you sudah datang. Nanti kebayanya kirim saja ya, dada..." Ayu berbicara sambil masuk ke dalam mobil.


Levi menyerahkan kontak mobil kepada Pak Tomo. "Terima kasih ya Yu, Pak Tomo."


Pak Tomo melajukan mobilnya, Ayu membuka kaca mobil lalu memberikan kecupan jauh "mmmh dada Bida..."


Bida melewati halaman, hendak masuk rumah. Pak Joko menatap tidak percaya dengan penampilan Bida. Pak Joko tadi tidak sempat melihat Bida setelah dirias.


Bu Sulis melongo, "Siapa dia?"


Bida melewati Bu Sulis lalu menyapa, "Bude Sulis, permisi Bida mau masuk dulu."


"Bida, kamu Bida?" Bu Sulis tiba-tiba menghadang Bida hingga Bida kaget hampir jatuh karena sandal high heelnya. Untunglah Levi menangkap pinggangnya.


"Eh kamu kok pegang-pegang Bida." Bu Sulis menghempaskan tangan Levi dari pinggang Bida.


Levi mendengus kesal. Mak lampir ini mengapa jadi tetangganya Bida.


"Ya bude. Ini saya Bida."


"Cantik sekali." Puji Bu Sulis


"Bukan saya yang cantik bude, kak Ayu perias tadi yang sangat pintar merias jadi Bida terlihat cantik." Bida akan meneruskan langkahnya menyusul Levi dan ibunya yang sudah mendahuluinya tapi berhenti lalu keduanya menoleh ke Bida seolah memberi isyarat agar Bida segera meninggalkan Bu Sulis.


"Kamu lulusan sekolah saja, dandannya seperti pengantin. Sayhrini saja kalah, memangnya kamu mau menggoda siapa?"


Ocehan bu Sulis semakin pedas.


Wowo berteriak marah, ia menggerakkan pohon kenanga dengan brutal hingga terdengar suara kretek, sebuah dahan yang berdaun lebat terlihat bergerak siap jatuh.


Levi tergopoh ingin melindungi Bida dengan meraihnya ke dalam pelukannya tapi karena dahan itu jatuh menimpa dengan cepat membuat Levi kehilangan keseimbangan. Bida terjatuh dengan tubuh Levi di atas tubuhnya. Bibir Levi menempel sempurna di bibir Bida. Deni dan Miki panik berusaha menggeser dahan besar itu, untunglah dahan yang besar itu hanya mengenai deretan kursi kosong sedangkan rantingnya yang sangat rimbun menimpa tubuh Levi, Bida dan Bu Sulis.


Bu Sulis segera bangkit lututnya lecet. Sementara Levi masih tertegun di posisinya.


"Lihat bapak ibu yang mereka lakukan, di depan banyak orang mereka seperti ini apalagi di dalam rumah selama ini?" Pak Joko yang melihat kejadian tersebut sangat marah dengan tuduhan Bu Sulis. Pak Joko mendatangi Bu Sulis mengangkat tangannya namun kemudian menggenggamkan tangannya erat lalu menurunkannya.


Bibi yang kecewa dengan niat Pak Joko yang tidak jadi menampar Bu Sulis.


Kemudian, Plak Bibi menampar Bu Sulis.


Nenek kaget lalu ikut menampar Bu Sulis. Plak. Kejadiannya sangat cepat membuat wajah Bu Sulis oleng ke kiri dan ke kanan.


"Aow.." Bu Sulis menjerit memegangi kedua pipinya.


"Berani sekali Pak Joko menamparku!"


Bu Sulis tampak sangat marah. Semua orang menatap Bu Sulis heran. Karena Pak Joko hanya diam membeku di depan Bu Sulis sama sekali tidak menyentuh Bu Sulis


Sementara Levi yang mulai sadar dengan posisinya berusaha bangkit namun kepala ikat pinggangnya tersangkut di kebaya Bida. Bida tidak bisa bergerak karena Levi di atas tubuhnya. Bida hendak membantu Levi melepas kaitan ikat pinggang di kebayanya, Bida berusaha bangkit namun justru wajahnya bertabrakan dengan wajah Levi membuat stempel merah bata berbentuk bibir Bida di pipi kanan Levi. Bida terkejut, apalagi Bida juga melihat ternyata lipstik Bida juga menempel di bibir Levi.


"Roni bantu aku, ambilkan gunting." Levi memerintah Roni.


"Jangan. Tadi Sisca lihat di istagram, kebaya seperti ini harganya 25 juta, nanti rusak."


Apa yang dipikirkan Bida ? Mengapa membahas uang? Kebaya ini pasti jauh lebih mahal. Harusnya Bida memikirkan pandangan orang-orang ini. Levi menatap Bida tidak percaya.


Bu Joko berjongkok membantu Bida melepas kaitannya. Setelah terlepas, Levi langsung berdiri. Pak Joko membantu Bida bangun karena Bida kesulitan berdiri.