
Netra tajam keriput perlahan lahan mengerjap.
Ia mengernyitkan matanya merasa silau dengan cahaya matahari yang menembus tirai tirai
setelah sepenuhnya membuka mata, ia melirik kesana kemari. Netranya menyapu seluruh ruangan
Ia mengerutkan kening merasa asing dengan suasana ini.
Ingin menegakkan tubuh, tetapi ia merasa tubuhnya berat, kaku tidak dapat di gerakkan.
Kreettt
"Yang Mulia!!!!!! Anda sudah sadar?" Ucap Lukas yang tiba tiba memasuki kamar tempat Stephanus dirawat didalam rumahnya
Stephanus mengerutkan kening menatap lekat lekat wajah tegas ini. Ia merasa tidak asing dengan wajah ini
Ia pindai seluruh lekuk wajah Lukas dan ia mengingat, pria ini adalah panglima kekaisaran dahulu.
"Jangan banyak bergerak dulu Yang Mulia, saya akan memanggil tabib terlebih dahulu" ucap Lukas bersemangat
"Tu..tunggu" lirih Stephanus yang nyaris tidak terdengar
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Lukas menatap wajah keriput tegas ini
"Di..dimana ini?" tanya Stephanus
"Ini dikediaman saya Yang Mulia, saya akan menjelaskan segalanya nanti" ucap Lukas berlari keluar kamar tempat stephanus dirawat
*
*
*
"Keadaan Yang Mulia mulai pulih Tuan, Yang Mulia juga mulai merasakan rangsangan di sekitar. Penglihatannya dan kemampuan bicaranya akan semakin jelas dari waktu ke waktu. Tenang saja" ucap tabib menjelaskan keadaan
"sayang, kita harus memberitahu ini kepada stephano bukan?" tanya Alena istri Lukas
"Ya, tetapi akan berbahaya jika mengirim surat kesana sayang, keadaan Yang Mulia harus kita rahasiakan setidaknya hingga Yang Mulia pulih total" ucap Lukas
"lalu bagaimana kita memberitahu stephano?"
"Kita akan mengutus Bastian. Dia masih bekerja di istana sebagai Panglima sementara bukan?" tanya Lukas pada istrinya
"ah ya Bastian sayang, dia merupakan mata mata putra kita, Alfonso." ucap Alena meyakinkan
"Baiklah, Kita akan mengirim surat undangan makan malam kepada Bastian" ucap Lukas
"Ekhemm Yang Mulia, apakah anda mendengar saya?" tanya Lukas bersimpuh di sebelah kasur Stephanus
"Apa..apa tadi kau me.. mengatakan stephano?" tanya Stephanus berharap stephano yang mereka bicarakan adalah stephano putra kebanggaannya
"Iya Yang Mulia. Putra anda stephano. Dia masih hidup. Pangeran stephano telah menjadi Raja kerajaan X sekarang. Kerajaan anda sangat maju ditangan Yang Mulia Stephano, Yang Mulia" jelas Lukas
"Ba..bagaimana bis bisaaa?" tanya Stephanus terbata
"saya akan menjelaskan nanti saat Tabib sudah memeriksa Yang Mulia"
*
*
*
Membaca surat undangan makan malam yang ia terima, Bastian mengernyit heran.
Ia memiliki jadwal kunjungan biasanya dan ini bukan hari kunjungannya.
Ia yakin bahwa ini bukan sekedar makan malam biasa. Pasti ada sesuatu.
"Apa ini tentang panglima Alfonso lagi?, Bukankah mereka sedang berada di tempat kesukaan Yang Mulia Hector saat ini?" pikir Bastian.
Tanpa berpikir panjang, ia segera menyudahi latihan prajuritnya, dan bersiap siap menuju kediaman Lukas.
tok.. tok..tok
Bastian mengetuk pintu kediaman Lukas setibanya dirumah Lukas.
Cekrek
Alena membuka pintu dan langsung mempersilahkan Bastian masuk.
"Ada apa bibi memanggil ku? apa paman dan bibi baik baik saja?" tanya Bastian yang memang sudah akrab dengan keluarga Alfonso
"Kemari nak, lihatlah ini" ucap Alena menuntun langkah Bastian
DEGG
Binaran mata tegas tetapi juga memiliki tatapan lembut itu sangat persis seperti stephano
Bastian segera berlutut merendahkan diri akan aura kekuasaan yang dikeluarkan Stephanus
"Salam Yang Mulia. Saya bahagia mendengar kesehatan anda" ucap Bastian Patuh.
"Kau Bastian yang ikut menyelamatkan saya bukan? Terimakasih nak" ucap Stephanus perlahan
"Aku sudah mendengar segalanya dari Lukas, Semuanya mulai dari awal penyerangan, Perlindungannya kepada stephano yang mengorbankan anaknya sendiri, hingga anak Lukas yang berperan menyelamatkan ku, Bastian, apakah kau bisa membawa stephano dan Alfonso kemari? aku ingin memeluk anakku dan bersujud meminta maaf kepada Alfonso" ucap Stephanus yang sangat merasa bersalah mendengar penuturan dari Lukas.
Tidak bisa ia bayangkan pasti Alfonso sangat menderita.
"Baik Yang Mulia. Saya akan menjemput Yang Mulia Stephano dan Alfonso secara rahasia" ucap Bastian menunduk kembali melangkahkan kaki meninggalkan kediaman
Stephanus menghembuskan nafas. Ingin melanjutkan ceritanya kembali
"Yang Mulia, ada satu hal yang harus kau ketahui, Aku akan melanjutkan ceritaku
Yang menikah dengan puteraku Alfonso adalah.. emm adalah Puteri anda Sophia" ucap Lukas memelankan suara
"APAA?? Ja..jadi.. Kedua anakku masih hidup? Panggil Bastian Lukas, katakan menjemput Puteri ku juga" ucap Stephanus bersemangat
"Maaf Yang Mulia, Puteri anda saat ini sedang menghilang. Alfonso setiap hari mencari istrinya" ucap Lukas merasa bersalah
"Bagaimana bisa? apa maksudmu? ceritakan Lukas" ucap Stephanus panik
"Saya tidak bisa menceritakan hubungan Alfonso dan Puteri Sophia Yang Mulia, Hanya Alfonso yang berhak mengatakan segalanya. Saya tidak memiliki hak akan itu maafkan saya" ucap Lukas tertunduk
"Kau benar Panglima, Baiklah terimakasih telah menjaga kedua anakku. Aku tidak tau bagaimana berterimakasih kepadamu" ucap Stephanus yang belum mengetahui kondisi putri nya dan apa yang dilakukan Alfonso kepada putrinya sendiri.
"Yang Mulia, saya mohon apapun yang terjadi nanti, apapun yang Yang Mulia dengar, saya mohon, jangan pisahkan Puteri Sophia dari Alfonso. Mereka memiliki hidup yang sulit Yang Mulia" ucap Lukas takut jika Stephanus mendengar perlakuan Alfonso kepada putrinya, maka Sophia akan diambil dari Alfonso.
Sudah cukup ia menyaksikan kesengsaraan hidup putranya sendiri selama ini.
Hidup Alfonso adalah Sophia, tidak bisa ia bayangkan jika saat Sophia sudah ditemukan, Sophia kembali dipisahkan dengan putera nya
"Apa maksudmu Lukas? apa terjadi sesuatu?" tanya Stephanus membaca raut muka Lukas
"Ada sesuatu Yang Mulia, tetapi biarlah Alfonso yang menjelaskannya nanti" ucap Lukas merasa tidak memiliki hak untuk lebih dulu menyampaikan segalanya.
*
*
*
"Tuaaannn!!!! Dimana kau?"
"Tuaaann!!!"
Sedari pagi Filips tidak menemukan Tuannya dimana pun ditempat pencarian
Ia panik. Hari sudah semakin gelap, tetapi Tuannya tidak terlihat dimana pun.
Filips menghentikan kudanya ditempat ia dan Alfonso mulai berpencar
"Tuan, apa Tuan tampan tadi sudah keluar hutan? Apa dia kembali ke rumah bukit?" tanya Hera si gadis kecil
"Tidak mungkin Tuan pergi tanpa ada alasan yang jelas, Tetapi baiklah mari kita lihat apakah Tuan masih ada di rumah bukit atau tidak" ucap filips melangkahkan kudanya
Sesampainya dirumah tempat penyekapan tadi, semuanya kosong. Bahkan kuda sang panglima juga tidak berada disini
mereka menyusuri tempat itu.
Tetapi tidak ada Alfonso didalam.
Netra Filips tidak sengaja melihat buku dibawah tempat tidur saat filips menyusuri kamar
Filips mengambil dan
Whuussss
Filips meniup debu yang menempel tebal di atas buku tersebut.
Filips membaca lembar perlembar. Bibirnya tersenyum tipis membaca ini.
Ini adalah catatan kejahatan dan korupsi permaisuri dan jenderal jenderal serakahnya
"Akan mudah menjatuhkan kerajaan itu dengan ini" ucap Filips riang
"Baiklah ayo lanjut mencari Tuan"
...****************...