IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
AMORA MENOLAK STEPHANO??


"Aku kembali membuat keputusan yang bodoh ayah" sendu stephano mengembun


Stephanus hanya bisa menghela nafas perlahan


"Kau tau bagaimana besarnya rasa sayang Alfonso kepada adikmu bukan? Jangan meminta sesuatu yang sangat mustahil untuk dilakukan Alfonso nak, Seharusnya kita sebagai keluarga menguatkannya bukan? Dia bertahan menunggu dan mencari Sophia. Lalu? saat Alfonso sudah menemukan istrinya, kita menyuruhnya menyerah begitu saja?" ucap Stephanus memberi penjelasan


"Aku..Aku, maafkan aku ayah, aku tidak tau mengapa bisa begini. Aku hanya ingin seluruh anggota kerajaan ini tidak hanya berfokus kepada Sophia. Banyak yang perlu diperbaiki ayah"


"Berfokus pada Sophia? Semua pejabat kerajaan mengerjakan tugas mereka masing masing. Siapa yang kau sebut hanya berfokus pada Sophia nak? Huuffftttt, apa Amora menolak lamaranmu lagi?" tanya Stephanus perlahan yang menduga kekacauan pikiran putra nya ini ada pada kekasihnya.


Stephano mengangguk lesu


"Amora mengatakan akan menerima lamaranku jika Sophia sudah sadar Ayah, dia masih merasa bersalah. Dia belum mengucapkan kata maaf kepada Sophia, Mendengar penjelasan ayah tentang Sophia yang mustahil untuk sadar, apa aku tidak akan mendapatkan Amora ayah?"


"Apa kau sudah memikirkan konsekuensi dari segalanya nak? Seluruh kerajaan maupun kekaisaran mengetahui Amora sudah meninggal bukan? kau sendiri yang bercerita kepada ayah.


Kerajaan kita juga tau, Amora merupakan Puteri dari permaisuri, cucu dari raja Eros yang kejam.


Apa kau memikirkannya hingga kesana? Nyawa Amora juga bisa terancam nak" jelas Stephanus


"Ayah, Amora akan tetap seperti ini ayah, walaupun aku menikah dengannya, aku tidak akan membiarkan siapapun mengetahui keberadaannya" jelas stephano


"Huffttt kau ingin mengurung nya dan menyembunyikan nya? apa kau tidak berpikir itu akan menyakiti perasaannya nak? Kau ingin kejadian yang sama menimpa Amora? Dahulu Alfonso juga tidak memberikan kebebasan kepada Sophia, Dia menjadi takut kepada semua orang bukan?"


Mendengar hal itu, membuat stephano termenung.


Ia membayangkan hari hari adiknya yang terkurung didalam sangkar emas Alfonso waktu lalu. Dihantui perasaan cemas dan ketakutan jika ada seseorang yang melihatnya.


"Lalu apa yang harus ku lakukan ayah"


"Pertama, pergilah meminta maaf kepada kakakmu. Jelaskan apa yang menjadi beban pikiranmu. Sudah saatnya kalian saling bertukar pikiran nak. Kalian sama sama puteraku. Aku bahkan memiliki niat untuk mengadakan upacara penobatan Alfonso sebagai pangeran di kerajaan kita"


"Pangeran? apa kakak akan setuju itu ayah?"


"Setuju atau tidak setuju, itu tidak penting, anggap saja itu hadiah dariku. Lagi pula dia menikahi Puteri kerajaan ini bukan? maka tidak ada salahnya dengan jabatan pangeran itu"


"hmm ya, aku setuju ayah. Baiklah aku akan mencoba meminta maaf kepada kakak terlebih dahulu"


*


*


*


tok..tok..tok..


Alfonso yang sedang berselonjor disebelah Sophia sembari membaca buku, terusik akibat terdengar bunyi ketukan pintu


Alfonso bangkit dan membuka pintu


"Kakak, apa aku menganggumu?" tanya Stephano canggung setelah Alfonso membuka pintu


"Masuklah" singkat Alfonso seperti biasa


Stephano duduk di pinggir ranjang. Ia mengamati garis wajah teduh ini. Ia menyadari dirinya sangat keterlaluan melepaskan adik berharganya begitu saja.


"Ada apa?" tanya Alfonso mencairkan kecanggungan yang terjadi beberapa menit ini


"Maaf kak, maafkan aku" lirih stephano dengan tatapan tidak lepas dari sang adik.


Ia tentu saja tidak berani menatap serigala yang duduk di samping istrinya, di sisi sebelah ranjang.


"Kau sudah menyadari kesalahanmu?" tanya Alfonso


"Hufffttt aku hanya terbawa emosi kak, pikiranku kacau. Aku..." (Stephano menjelaskan keadaannya)


Mendengar penjelasan stephano, Alfonso terdiam beberapa saat memikirkan kekacauan stephano


"Selesaikan permasalahan identitas istrimu dahulu. Tenang lah Amora tidak akan meninggalkanmu. Hanya kau yang dia punya sekarang" jelas Alfonso


"Tapi kak.."


"jadi, apa aku harus menyingkirkan permaisuri dahulu?"


"hmm rebut singgasananya seperti rencanamu dahulu." ucap Alfonso beralih menggenggam tangan si cantik nya


"Kalau begitu aku akan melatih dan menambah pasukan terlebih dahulu" ucap stephano


"Tidak stephano, jangan membuat pertumpahan darah lagi." cegah Alfonso yang memikirkan pasti ada anak anak yang terpisah dari orang tuanya seperti ia dan Sophia jika peperangan terjadi


"lalu bagaimana merebut singgasananya kak?"


"Rebut kepercayaan masyarakatnya. Masyarakat kekaisaran itu menganggap orang orang dalam kerajaan sebagai Tuhan yang tidak pernah salah. Filips menemukan bukti bukti kejahatan dan kecurangan permaisuri serta para jenderal nya. Kau bisa gunakan itu untuk mempengaruhi masyarakatnya."


"Cih, kekaisaran itu akan tetap berdiri walau tanpa masyarakat kak, Negeri itu kaya dan subur, kerajaan lain pasti menopang mereka" bantah stephano


"Kau pikir selama ini aku diam saja? Satu persatu kerajaan yang bekerja sama dengan mereka sudah kami pengaruhi filips. Ada Bastian di dalam kekaisaran yang bekerja dengan baik" jelas Alfonso


"Apa? apa kerajaan kerajaan dari barat juga?" tanya stephano


"Hmm. Jika ia kehilangan kepercayaan dari rakyat dan juga kerajaan kerajaan itu, maka akan mudah menjatuhkannya. Dia tidak bisa hidup dalam kesederhanaan. Tetapi hati hati. Permaisuri sangat licik. Bahkan permaisuri sudah mengetahui bahwa Sophia masih hidup."


"Baiklah kak, hmm kak, aku belum memberitahumu satu hal. Aku sudah menutup jalan penghubung rahasia itu."


"hmm bagus. Jangan memberi akses sekecil apapun kepada mereka"


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Aku ingin mengunjungi Amora. Oh iya kak, dimana filips? aku ingin menyampaikan pesan ayah kepadanya"


"Tentang posisi panglima itu? Aku yang akan berbicara kepadanya nanti" jelas Alfonso


"Oh kakak sudah tau?"


"hmm, ayah memberitahuku. Dia tidak berada di kerajaan. Dia pergi"


"Cih, mengunjungi anak kecil itu lagi?" tebak stephano yang tidak asing lagi dengan ini


"Kak aku pikir akan bahaya jika membiarkan Filips keluar masuk kerajaan dan wilayah kekaisaran begitu saja. Bujuk filips kak, agar membawa anak itu tinggal di kerajaan saja. Kakak juga lebih baik membawa bibi Ma"


"Tidak mudah membujuk mereka stephano. Anak itu ingin selalu dekat dengan ibunya. Dan bibi Ma tidak mungkin meninggalkan nya sendirian begitu saja. Aku akan mencoba berbicara dengan filips juga kalau begitu"


*


*


*


"Sayang aku datang" teriak stephano memasuki rumah masa kecil nya dulu di hutan yang masih menjadi tempat tinggal Amora hingga saat ini


Amora menolak untuk tinggal dikerajaan dan memilih bersembunyi di hutan belantara ini


"Kau datang lebih awal sayang? Bagaimana? Apa Sophia sudah membaik? apa ada perkembangan?" tanya Amora bersemangat


" Kau menanyakan hal yang sama setiap hari. Mengapa tidak menanyakan kabarku hmm?" tanya stephano memeluk sembari melangkahkan kaki memasuki kamar Amora.


"Haisss, kabar adikmu yang paling penting sayang"


"Huuffftttt Sofi masih sama seperti kemarin kemarin sayang, berdoalah lebih kencang hmm?" jawab stephano menyembunyikan wajahnya di leher Amora melihat kesenduan wanita ini


"Apa tidak ada cara lain agar Sophia bisa segera membaik" lirih Amora


"Hey hey, jangan menunjukkan wajah sendu itu, tenang lah, kakak ada bersamanya. Dia akan baik baik saja hmm?" tanya Stephano menutup pintu membaringkan Amora di atas ranjang.


"Sekarang, fokus kepadaku, aku merindukanmu" ucap stephano menindih Amora dan mencium bibir merah itu perlahan


Malam semakin larut, kedinginan malam mengobarkan perasaan pasangan yang tengah mabuk asmara itu


"Ahh, puaskan aku Amora" suara stephano menggema di tengah gelapnya hutan


...****************...