
"Tuan dan Nona telah tiada"
DUARRR
Jantung semua orang disini hampir terlepas
"APA MAKSUDMU FILIPS" teriak Lukas menggebrak meja
"Hiks maafkan aku Tuan, kemarin siang, kami kembali melanjutkan pencarian nona, kami berpencar, hingga..hingga.. Tuan pergi sendiri. Aku..aku.."
"Tenang lah nak, duduk kemari" ucap Alena yang merasa kasihan akan filips yang pasti terguncang. Ia tidak memiliki siapun lagi di dunia ini
Lukas menghirup nafas berat
"Katakan dengan jelas filips, Tenang lah" ucap Lukas
Ingin rasanya ia mengancam akan membunuh filips. Tetapi tentu saja ia tau, bahwa disaat ini Filips memang menginginkan kematiannya
"Aku menemukan Tuan di kediaman lama nya, bersama dengan Nona. Sepertinya Nona sudah lebih dahulu pergi ke surga. Aku tidak tau bagaimana nona berada di sana, Mungkin Tuan melihat nona terbujur kaku seperti itu, dan Tuan mengakhiri hidupnya menyusul Nona" ucap filips tersendat
Mendengar penjelasan filips, semua netra yang berada disini mengeluarkan air mata
Jadi inilah ujung kisah cinta kedua manusia menderita itu
"Apa.. apa nona yang kau maksud adalah Putriku Nak?" tanya Stephanus perlahan
Filips mengangkat kepala, melihat wajah keriput namun tegas ini. Netra yang sama persis dengan Sophia
Filips mengangguk
"Maafkan aku" ucap filips lagi
Lukas menghembuskan nafas
"ini bukan salahmu. Takdir mereka yang tertulis seperti ini. Tenanglah filips jangan berpikiran sempit. Katakan dimana Tuanmu saat ini" ucap Lukas
"Aku membawanya kemari, mereka masih berada didalam kereta" ucap filips bangkit berjalan diikuti oleh stephano dan Lukas.
Kereta kuda dibuka dan memperlihatkan kedua majikannya yang terlelap damai
Melihat hal ini, sangat mengiris hati Lukas.
"Aku bahkan tidak pernah membahagiakan putraku sendiri filips" ucap Lukas miris
"Dia mencari dan berpegangan kepada Hector dan orang orang yang salah. Seharusnya akulah yang menuntunnya memegang tangannya" ucap Lukas meneteskan air mata
Filips mengangkat Alfonso. Begitupun dengan Stephano yang menggendong tubuh ringkih adik nya.
Akhir nya ia melihat adiknya. Tetapi bukan dengan keadaan seperti ini yang Ia mau
Untung saja kediaman Lukas berada di pinggir kota. Jarang ada pelintas yang melintasi tempat ini
*
*
*
Tabib mulai memeriksa Alfonso dan Sophia yang tangannya selalu digenggam oleh sang ayah yang baru melihat wujud sang Puteri
Tabib ini dipanggil dan dijemput oleh Bastian dari kerajaannya, mengingat tabib ini adalah tabib Sophia waktu lalu.
Saat membawa Keduanya ke kediaman, Lukas yang memang memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih, dapat merasakan bahwa putera nya masih hidup. Walaupun sangat kecil kemungkinannya.
"Dugaanmu benar Tuan, Tuan Alfonso masih hidup. Untung saja belati ini tidak dicabut dari tubuh Tuan, Tuan hanya kekurangan darah, Belati ini tidak menembus jantung nya. Kulit Tuan muda pucat dan dingin itu karena tuan kehilangan banyak darah, dan udara dingin membuat tubuh Tuan semakin membiru" jelas tabib setelah membersihkan dan membalut luka Alfonso
Tidak terjabarkan lagi rasa bahagia filips dan orang orang di dalam ruangan
tetapi
"Bagaimana dengan nona saya tabib" tanya filips
"Aku harus memeriksa secara menyeluruh. Mustahil nona Masih hidup tetapi tidak ada salahnya mengecek bukan? emm bisakah kalian memindahkan Tuan ke ruangan lain? agar Tuan bisa beristirahat, dan juga pergerakan ku sedikit terbatas" ucap tabib
"ah baiklah" ucap filips berhati hati menggendong Alfonso dibantu oleh stephano
Beberapa hari berlalu, hingga Alfonso mengerjapkan mata nya kembali ke kesadarannya
#FLASHBACK END#
Lukas membawa Alfonso keruangan di sebelahnya.
Alfonso melihat sang istri yang terbaring memejamkan mata, dengan tabib yang berada di sebelahnya
"Mengapa belum memakamkan nya, dia pasti tersiksa begini" lirih Alfonso menggenggam tangan kurus milik Sophia
Rasa rindunya sangat membuncah, ingin rasanya ia membawa Sophia mengurungnya di ruangan yang hanya ia dan sophianya yang berada di dalam.
Tetapi tentu saja ia tidak ingin Sophia merasa kesakitan lagi di alam lain nya.
"Tuan, nona masih hidup tuan" ucap tabib
DEGGG
Bola mata Alfonso hampir keluar mendengar hal ini
"APA? Bagaimana.. bagaimana bisa" ucap Alfonso tersenyum dengan air mata mengalir
"Keadaanya sama seperti tuan, Detak jantungnya berhenti karena udara yang sangat dingin membekukan aliran darah dan jantungnya (author tidak tau ya bisa begitu atau tidak hihi, di novel semua bisa terjadi ok👌👌)
Alfonso memeluk erat Sophia.
"Lalu mengapa istriku belum bangun juga?" tanya Alfonso
"Itulah yang ingin saya jelaskan tuan, Keadaan nona sangat kritis. ia berada di ambang batas kehidupannya.
Racun itu tetap berproses Tuan, selama hilangnya nona, tidak ada obat ataupun ramuan yang masuk kedalam tubuh nona.
Maafkan aku tuan, Jikapun nanti nona telah sadar, Nona akan kehilangan kemampuan melihat dan berbicara nya.
Racun itu sangat merusak saraf nya."
mendengar itu, dunia Alfonso kembali runtuh.
Ia terdiam menatap dalam wajah teduh kesayangannya ini
"Lalu bagaimana dengan anak kami tabib" lirih Alfonso menghapus air matanya
"Saya tidak menemukan tanda tanda adanya janin lagi didalam perut nona Tuan" ucap Tabib
"Jadi maksudmu dengan keadaan istriku yang sakit, istriku mengeluarkan jasad janin itu sendirian?" tanya Alfonso yang memang tidak mengerti
"Janin yang sudah meninggal, secara dianggap sebagai benda asing didalam tubuh Tuan, kontraksi otot rahim akan terjadi untuk mengeluarkan janin tanpa perlu penanganan khusus. Mungkin saat nona masih sadar, Nona telah mengeluarkan janin itu tuan" ucap Tabib menjelaskan
"Saya hanya akan membuat obat pembersih rahim saja" lanjutnya
Alfonso hanya terdiam tidak menanggapi. Tangannya sibuk membelai kepala Sophia dengan sayang.
"Tuan, mulai hari ini, saya akan melanjutkan kembali tetapi dan pengobatan Nona. Walaupun angka kehidupannya sangat kecil, saya mohon ikutlah berusaha bersama saya." ucap tabib yang beberapa waktu belakangan ini merasakan ketidak stabilan emosi dan pikiran pria ini
ia takut jika Alfonso melihat banyaknya jarum yang tertancap di tubuh istrinya atau kesadaran istrinya yang memakan waktu yang lama, membuat Alfonso kehilangan kesabaran dan mengakhiri pengobatan.
Walaupun kemungkinan Alfonso memikirkan itu sangat kecil tetapi tidak ada yang tau bagaimana perubahan spontan seorang Alfonso.
"Sophia akan ayah pindahkan ke kamarmu nak" ucap Lukas mengakhiri keheningan ini
" terserah ayah saja" ucap Alfonso yang netranya tidak terlepas dari Sofi nya.
"Terimakasih ayah, tetapi.. bisakah ayah membantuku? katakan kepada Yang Mulia untuk tidak membawa istriku" ucap Alfonso mengingat jika tadi ia melewati tubuh keriput tegap itu
"Tidak ada yang akan mengambil Sophia darimu nak, Yang Mulia tidak sejahat itu. Ia tau kau yang lebih berhak atas putrinya" ucap Lukas menjelaskan ketakutan Alfonso
"Walaupun ia tau bagaimana perlakuan ku selama ini kepada Sofi?" tanya Alfonso
"Ya, Yang Mulia sudah tau, awalnya ia marah, tetapi Yang Mulia mengatakan mungkin ini ganjarannya karena aku merawat puteranya dan meninggalkan puteraku sendiri" ucap Lukas sendu.
"Yang Mulia bahkan tidak berani meminta hak nya untuk memeluk puterinya hingga stephano menyuruh nya, Ia merasa bersalah kepada stephano dan Sophia" ucap Lukas
...****************...