IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 39. AMORA


Mulai menjalankan hukuman berdiam diri didalam kamar nya membuat Amora sangat bosan dan kesal.


Yang bisa Amora lakukan hanyalah menyulam, membaca, dan melukis untuk mengisi hari harinya.


Hari pertama hukumannya, ia memberontak kepada Pelayan pribadinya. Ia ingin keluar. Tetapi, Pelayan itu tidak memberi izin.


Hingga Amora membuat ulah dengan memecahkan guci, penerangan, dan beberapa rak bahkan lemari di kamarnya untuk mencari perhatian.


Tetapi, tetap saja tidak ada yang perduli kepadanya.


Sifat nya yang kasar dan arogan semata mata hanya ingin mendapat perhatian.


Ibu dan ayahnya sama sekali tidak perduli kepadanya.


Kenakalannya berlanjut hingga sering menggoda prajurit maupun pelayan pria untuk tidur dengannya.


Permaisuri hanya mengunjunginya ketika ada hal hal penting atau mendesak yang berkaitan dengannya.


Permaisuri sangat akrab dan ramah dengan teman teman dan petinggi petinggi kerajaan.


Kaisar juga tidak pernah memperdulikannya. Kaisar sibuk bertugas bertemu banyak orang setiap harinya.


Maka dari itulah Sophia sangat menyukai Alfonso. Alfonso tidak mudah bersosialisasi dengan orang orang. Ia tidak ramah kepada sembarang orang.


Sophia berpikir jika Alfonso menjadi miliknya, maka hanya ialah satu satunya wanita yang akan berbicara hangat kepadanya.


Alfonso tidak akan mengabaikannya.


Tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Karena Alfonso memiliki jiwa yang anti sosial. .


Hanya Alfonsolah yang tidak pernah tertarik akan tawarannya. Saat berada di akademi, Amora pernah terang terangan menggoda Alfonso.


Tetapi hanya raut datar tidak bernafsu yang ditampilkan oleh Alfonso.


Amora semakin yakin saat Alfonso nanti menjadi miliknya, Alfonso pasti akan mengabaikan wanita wanita lain dihadapannya.


Tetapi takdir berkata lain. Ayahnya malah menjodohkan Alfonso dengan gadis desa.


Hari berikutnya, beberapa teknisi kerajaan datang berkunjung untuk memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh Amora dan dipantau oleh pelayan kerajaan.


Beberapa teknisi pria akan menundukkan kepala, memberi rasa hormat kepada Amora.


Tetapi ada seorang teknisi yang menarik perhatiannya.


Pria yang mengangkat kepala memandang datar tidak perduli kepada Amora.


Pria itu cenderung mengabaikannya.


"Seperti Alfonso. Persis seperti Alfonso" batin Amora merasa tertarik.


Saat semuanya telah selesai, satu persatu teknisi meninggalkan kamar amora. Saat pria dingin itu hendak keluar, Amora menghadang dihadapannya.


"Minggir!!" Tegasnya.


Amora tertegun


"Suara ini, seperti tidak asing, dimana aku pernah mendengarnya?" batin Amora.


"ekhem, Kau siapa namamu?" tanya Amora angkuh


Pria itu mengambil langkah menghindari Amora. Tetapi Amora tetap menghalangi jalannya.


"Vano" ucap nya singkat melangkah pergi walaupun sedikit menabrak bahu Amora.


***


Hari berikutnya, Amora kembali membuat ulah dengan harapan pria itu kembali mendatanginya.


Dan terbukti, pria dingin itu kembali datang memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan Amora.


Saat teman teman teknisi nya melangkah keluar, Amora menghadang Pria itu dengan gerakan cepat menutup pintu kamarnya.


Pelayan yang berjaga didepan pintu kamar Amora terjangkit kaget menggedor pintu dan memanggil Amora.


"Putri, permaisuri bisa menghajarmu nanti" ucap pelayan itu


Amora tidak perduli dengan teriakan itu.


"Siapapun kau, aku tertarik kepadamu. Kau harus jadi milikku" perintah Amora sombong.


"Hentikan omong kosong mu putri, kau sangat tidak bermartabat" dinginnya.


"Vano, aku tidak memiliki teman selama ini. Kalau begitu jadilah temanku" bujuk putri meyakinkan


"Tidak!" tegasnya seraya melangkah menuju pintu


"Aku mempunyai tawaran kepadamu. Jadilah pelayan setiaku. Akan kuberikan apapun kepadamu"


"Ya, apapun. Aku mempunyai segalanya" yakin Amora.


"Baik. Apa yang harus kulakukan" tanya Vano dengan suara mengecil.


"Cukup datang, temani aku setiap hari. Jam kerjamu kumulai malam ini. Datanglah malam ini kemamarku" ucap Amora dengan nakal.


"Baik" ucapnya


"Eh tunggu, tetapi kau tidak boleh datang seperti ini. Kau harus menyamar. Pakailah pakaian samaranmu. Agar tidak ada yang mengenalimu. Bisa bisa Panglima membunuhmu jika tertangkap menyusup" ucap Amora.


Mendengar kata panglima, membuat pria itu tersentak


"Dimana panglima?" tanyanya


Amora menyipit


"Untuk apa kau bertanya tentangnya. Aku tidak tau. Aku tidak perduli. Semua hukuman ku juga karena dia" Ucap Amora bersungut sungut


"Baiklah aku akan datang. Ingat berikan apapun yang ku minta nanti" ucap Pria itu berlalu pergi membuka pintu


Saat pintu terbuka, Pelayan Amora masuk memeriksa keadaan.


"Ada apa bibi, Tidak ada apa apa yang terjadi. Aku hanya memintanya memperbaiki pembuangan bilik mandi ku.


Aku malu jika teman teman dan yang lain melihatnya. Aku terlihat seperti pengotor. Aku lihat pria itu tidak banyak bicara jadi pasti keburukanku disimpan didalam otaknya saja. Ingat bibi! jangan beritahu Ayah dan Ibu" perintah Amora.


Pelayan Amora mengangguk, memberi hormat dan beralih pergi.


***


Malam harinya, Saat keadaan sudah senyap. Terdengar suara ketukan dari jendela Amora.


Amora membuka dan masuklah Vano melompati jendela kamarnya. Dan Amora menutup jendela rapat rapat.


Amora memakai pakaian tidur yang sangat tipis. Kain sutera mahal khas kerajaan melekat di tubuhnya yang sangat menggoda.


Vano hanya duduk memandangi Amora tidak berminat.


"Katakan apa yang harus kulakukan" ucapnya


"Tidak ada, kau hanya perlu menemaniku"


"Kau sangat bodoh. Aku bisa saja mencelakaimu putri" ucap Vano


"Tidak masalah, aku yakin kau orang baik. Setiap orang yang berkarakter dingin itu adalah orang baik" ucap Amora dengan otak dangkalnya.


"Baiklah aku akan menjadi temanmu" Ucap Vano mengikuti permainan Amora.


Amora duduk dihadapannya bersila menampakkan paha mulus ranum milik Amora


Amora mengalungkan tangannya ke leher Vano


"Sebelum itu, perkenalkan dulu dirimu." ucap Amora mendayu


"Aku Vano Puteri, Aku dari desa X dibawa oleh Tuan Filips dalam perekrutan teknisi kerajaan." jawab Vano yang semakin tidak fokus akibat kelakuan putri merapatkan dadanya hampir memeluk Vano


"Lalu? bagaimana keseharianmu" ucap Amora


"Kehidupanku tidak menarik, sssst" Ucapan Vano terhenti karena gigitan Amora di leher nya


"Tidak ada yang istimewa, aku tinggal dan besar seorang diri. Aku memiliki adik pada awalnya tetapi adikku menghilang aku tidak tau kemana. Aku bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat mewah ini" ucap Vano dengan nafas tertahan


"Huh sangat menyedihkan cerita hidupmu" Ucap Amora bagai cacing kepanasan naik diatas pangkuan Vano si teknisi yang mematung.


"Putri jangan seperti ini. Turunlah" ucap Vano


"Diamlah. Ekhm sampai mana tadi. Ah kau tau? sangat banyak yang menarik di kerajaan ini. Kau tidak akan mati kebosanan di dalam kerajaan ini" ucap Amora mendayu seraya mengelus elus dada bidang Vano


"Apa contohnya putri" pancing Vano


"Banyak Vano, apapun hal yang ingin kau tau" Ucap Amora bergerak erotis dengan nafsu yang membesar dan pikiran setengah sadar.


Demi mendapat banyak informasi, Vano sengaja me*de**h mengikuti nafsu dan permainan Amora yang menggila mendengar suara de*a**n Vano.


"Aku tertarik dengan hal hal yang misterius putri. Seperti sesuatu yang tersembunyi, rahasia, mengerikan, dan lainnya" Ucap Vano seraya mendongak memejamkan mata akibat petualangan basah Amora di lehernya.


Amora yang sudah tenggelam dalam nafsunya, tidak memikirkan apalagi yang diucapkannya


"Benarkah? Aku punya jalan rahasia. Biasanya kakek mengirimkan orang melalui jalan itu" ucap Amora belepotan


Vano membuka mata dan tersenyum sinis.


"Bawa aku bermain di tempat itu Putri"


...****************...