
Matahari bergerak naik, Alfonso menikmati hangatnya matahari duduk sembari menyesap teh hangat miliknya.
"Kenapa kau santai sekali? Kau seperti tak punya tujuan hidup. Kau tidak lupa masalah kita bukan?" tanya Hector dengan raut jengkel.
"Benar kata Filips semenjak kau menikah, kau semakin aneh dan konyol. Sifatmu berubah ubah seperti bunglon" Lanjut Hector memaki.
"Kenapa kau kaku sekali? Aku memikirkan rencana saat ini. Tunggulah Filips datang kita akan berdiskusi" ucap Alfonso santai seraya menaikkan satu kaki
"Sebenarnya aku ingin memberitahumu sesuatu. Tetapi kita lebih baik berdiskusi dahulu" Ucap Hector.
"Apa istrimu masih terpukul dengan kematian putri?" tanya Alfonso berbasa basi menunggu Filips mengamankan prajurit kerajaan inti.
Walaupun memiliki prajurit rahasia khusus, Hector tetap menyediakan prajurit kerajaan untuk menghindari kecurigaan Eros mertuanya dan permaisuri.
"Ia memang menangis. Tetapi aku tau, bahwa ia tidak terpukul akan hal itu. Dia menangisi ayah yang merupakan sumber harta karunnya" Ucap Hector sembari menyesap teh hangatnya.
"Tuan, Yang Mulia" ucap Filips memberi hormat
"Kau sudah datang? duduklah Alfonso memiliki rencana pengganti" Ucap Hector mempersilahkan
"Aku pikir kita tidak bisa lagi menjalankan rencana utama kita. Semalaman aku berpikir tentang rencana pengganti" Ucap Alfonso
"Dengan prajurit kita yang sedikit, akan berbahaya bagi kita menerobos masuk menyerang kerajaan.
Kita harus melumpuhkan orang dalamnya terlebih dahulu. Selain Eros dan panglima perang mereka, Aku pikir kita harus mencari tau dahulu siapa pondasi kerajaan mereka.
Penyerangan kita lakukan dalam 3 tahap.
yang pertama, Memasukkan penyusup dan mata mata untuk membunuh petinggi dan keamanan Eros. Jika bisa membunuh Eros langsung aku pikir lebih baik
yang kedua, Prajurit kita bagi atas 3 kelompok besar. Setelah keamanan mereka melemah, kelompok 1 akan menyerang bagian barat tembok kerajaan, dan kelompok ke dua akan menyerang bagian timur.
Kelompok ketiga akan masuk menyerang dari inti dan pintu masuk kerajaan.
Dan tahap yang ketiga yaitu menyerang kekaisaranmu sendiri Yang Mulia" Jelas Alfonso panjang lebar.
"Bukankah akan lebih baik jika menuntaskan kekaisaran ini dulu Tuan?" Tanya Filips
"Bisa saja, akan tetapi akan sedikit berbahaya. Pusat kekaisaran ini ada pada Eros. Jika kita menyerang kekaisaran, tidak mustahil bagi Eros menggantikan Tahta dengan salah satu anaknya, dan memberi prajurit kerajaannya" Jelas Alfonso.
"Ini rencana yang bagus Alfonso tetapi akan berbahaya jika kelompok 123 bergegas begitu saja. Setidaknya kita harus memberi pancingan terlebih dahulu bukan? Alihkan pikiran mereka." ucap Hector.
"Baiklah Yang Mulia. Kita akan mengecoh mereka terlebih dahulu" ucap Alfonso
"Tuan bagaimana dengan penyusup dan mata mata yang memantau Kerajaan. Bagaimana mereka bisa masuk tanpa dicurigai" tanya Filips
"Aku sudah memikirkan itu sebelumnya" Ucap Hector mengambil alih
"Ini yang ingin kusampaikan padamu Alfonso. Aku telah mengusir Adik dan kakak permaisuri" ucap Hector
Alfonso dan Filips terkejut
"Mengapa Yang Mulia, Eros bisa marah dan curiga" ucap Alfonso
"Terjadi perdebatan besar semalam di kerajaan inti. Tenang saja. Aku akan mengirim surat untuk menjelaskan kepulangan mereka" ucap Hector
"lalu? apa Yang Mulia rencanakan" tanya Alfonso
"Aku sengaja memulangkan mereka. Agar kita bisa menyusup masuk memantau dan mencari informasi kerajaan X dengan alasan yang jelas" ucap Hector dengan anggukan dari Filips dan Alfonso.
"Baik aku mengerti, Siapa yang akan berangkat tuan? aku akan menyiapkannya" ucap Filips.
"Tentu saja Alfonso dan kau. Bawa anggota kalian seperlunya" Potong Hector
Alfonso terkejut
"Yang Mulia, Bagaimana bisa Yang Mulia mengambil keputusan tanpa membicarakannya dahulu kepadaku" ucap Alfonso.
"Astaga bagaimana dengan kucing kecilku" batin Alfonso
Alfonso tertegun diam.
Tentu saja Filips tau mengapa Tuannya sangat berberat hati.
"Tuan, aku akan menjamin keamanan Nona dengan nyawaku. Aku akan memerintah prajurit yang banyak di kediaman Tuan" ucap Filips mengetahui kerisauan hati sang panutan
"Mengapa berlebihan? Bukankah kau sudah berbaikan dengan Pelayan Ma?, percayakan saja istri kecilmu kepadanya" ucap Hector santai.
"Tidak ada yang kupercaya selain diriku sendiri Yang Mulia, Hanya aku yang bisa menjaganya" ucap Alfonso posesif dengan rasa trauma ditinggal oleh orang terdekatnya.
Menyadari bahwa mental dan fisik Alfonso tidak sesempurna manusia lain akibat Trauma dan pertumbuhan yang mengerikan, Hector menghembuskan nafas perlahan.
"Tenanglah Alfonso. Tidak ada yang akan terjadi." ucap Hector menenangkan
"Bahkan waktu itu dua orang asing masuk dengan mudah ke kediamanku Yang Mulia" Tegas Alfonso dingin dengan rahang mengeras
Filips merasakan aura gelap Alfonso kembali
Hector menepuk bahu Alfonso
"Kau ingin membawanya?" tanya Hector memantik rasa terkejut Filips dan Alfonso
"Yang Mulia, nona bisa saja dalam bahaya" bantah Filips memikirkan segala ancaman yang akan datang.
Berbeda dengan Alfonso yang melamun, Ia bukan memikirkan bahaya. Ia bisa melindungi Sophia dari apapun. Yang ia lamunkan adalah biasanya tempat tidur mereka para prajurit, yang biasanya akan beristirahat di tempat yang sama.
Bagaimana dengan Sophia? Apalagi dengan kebiasaan posisi tidur ambigu mereka.
Sophia tidak akan bisa tidur jika tidak dengan posisi itu.
Belum lagi para mata mata lapar dan Raja Eros yang menduda.
Tidak!! ini tidak benar!!
"Baiklah aku akan bertanya dahulu kepada Sophia. Ia ingin bersama bibi Ma atau ibunya. Jika tidak ada lagi, saya pamit yang Mulia" ucap Alfonso
***
"Bagaimana jika ada hantu yang lain, Aku tidak mau tidur sendiriaaann" rengek Sophia. Memanjat dan bergelantungan dileher Alfonso yang sudah biasa akan hal ini.
Alfonso sedang berlalu lalang mengemasi keperluannya. Tetapi ada mahkluk aneh mengganggu kegiatannya. Ukuran tubuh Sophia yang hanya sebatas dada Alfonso membuat Sophia bebas bergelantungan di pohon bernyawa nya.
"Hanya 3 hari Sofi, Aku harus mengantar kakak ipar Yang Mulia dengan selamat" Ucap Alfonso memegang pinggang ramping ini dengan satu tangan agar tidak terjatuh. Dengan tangan yang lain mengemasi pakaiannya. Kaki Sophia menjuntai bergoyang seirama dengan langkah Alfonso.
"Hey nanti kau jatuh. Jangan seperti itu. Lingkarkan kakimu!!" ucap Alfonso bergidik dengan kelakuan Wanita aneh ini
"Aku ikuuttt!!" Rengek Sophia melingkarkan kakinya menempeli Alfonso kesana kemari.
"Tidak, disana sangat berbahaya" bantah Alfonso
"Kau tidak menyayangiku lagi?" lirih Sophia memasang wajah menyedihkan.
Alfonso menghembuskan nafas kasar.
"Hanya sebentar sayang, aku akan menitipkanmu bersama bibi Ma" ucap Alfonso memberi pengertian.
Sophia terkejut berbinar
"Apa? Bibi Ma? mengapa tidak bilang dari tadi sayang" Riang Sophia beralih turun meloncat dari gendongan Alfonso
Dengan semangat Sophia membuka lemari pakaiannya
"Aku mengemasi pakaianku dulu yaa, pergilah sayang berapa lama waktu yang kau butuhkan" ucap Sophia riang memantik rasa kesal dalam diri Alfonso.
🗿🗿🗿
...****************...