
Kedatangan Bastian secara tiba tiba sedikit membuat Alfonso penasaran.
Alfonso mengajak Bastian untuk duduk di kursi yang ada di kamar nya akan tetapi sedikit jauh dari ranjang istrinya.
Tempat berbincang ini hanya dibatasi oleh pembatas ukiran kayu yang menutup hanya setengah dari ruangan sebagai pemisah.
Tentu saja manusia posesif ini tidak akan membiarkan orang lain melihat istrinya
"Ada apa Bastian? mengapa kau datang secara tiba tiba? dan juga apa ini? penyamaran mu berubah? kau bahkan persis seperti orang gila sekarang" ucap Stephano duduk disebelah Alfonso yang menerka apa tujuan kedatangan Bastian.
"Permaisuri menambah jumlah mata mata nya Tuan, Yang Mulia, mereka tidak hanya bergerak di sekitar pasar, tetapi permaisuri memerintahkan mereka untuk menjarah setiap tempat" jelas Bastian
"Lalu? mengapa kau cemas Bastian? tidak mungkin mereka bisa menembus dinding kerajaan. Keamanan akan aku tingkatkan tenang saja" ucap stephano
"Permaisuri menargetkan nona Sophia Yang Mulia"
mendengar itu, Alfonso melirik ranjang istrinya dari lubang lubang ukiran ini, dan menghela nafas
"Apa yang dia mau dari istriku Bastian" ucap alfonso yang akhirnya membuka suara
"Permaisuri masih menganggap nona Sophia yang menjadi penyebab anda meninggalkan kekaisaran Tuan, Permaisuri masih menginginkan anda kembali"
"hmmm, baiklah, bagaimana kondisi mereka sekarang" tanya Alfonso menyudahi kegelisahan tentang istrinya itu.
"Kekaisaran sangat mengkhawatirkan, Tuan. Kerajaan yang biasanya membeli daging sapi dari kekaisaran dan menukar dengan kain sutera, kini memutus kerja sama Yang Mulia. Pasokan daging di kekaisaran menjadi melimpah, para peternak dan penjagal kebingungan Tuan" lapor Bastian
"Hmm bagus, katakan kepada mereka untuk menjual kepada kerajaan ini." ucap Stephano
"Mengapa begitu Yang Mulia" tanya Bastian keheranan
"Bukankah kepercayaan mereka terhadap permaisuri akan semakin berkurang? permaisuri tidak bisa memberi solusi bukan? maka kita masuk memberi solusi" ucap stephano ringan
"Ya, stephano benar. Ciptakan gosip disekitar pasar kekaisaran, bahwa kerajaan tetangga mereka mau membeli daging" ucap Alfonso yang merasa hal ini merupakan sebuah kesempatan.
*
*
*
Sepulangnya Bastian, Stephanus mendatangi kamar pasangan suami istri itu.
Setelah Alfonso mempersilahkan nya masuk, Pertama sekali yang ia lakukan adalah berjalan mendekati ranjang Puteri tidur dan mengelus sayang pucuk kepala nya.
"Bagaimana kabarmu hari ini Puteri ayah? Buka matamu kalau kau sudah lelah tertidur yaa" ucap Stephanus
"Ada apa ayah? apa ayah ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Alfonso yang merasa bingung dengan kedatangan ayah mertua yang bukan pada jam berkunjung nya seperti biasa.
"Hufftt begini nak, sedari penobatanmu sebagai pangeran saat itu, aku belum memberikan bingkisan apa apa kepada ayahmu. Pergilah, kunjungi Ayahmu. Beritahu posisi mu dan kabar istrimu. Ayahmu pasti akan senang mendengarnya dari mulutmu sendiri" ujar Stephanus yang memang saat penobatan, Ia tidak mengundang Lukas dan istrinya dengan alasan kenyamanan Alfonso.
"Ayah, bukan kah ayah tau sendiri aku tidak bisa meninggalkan istriku ayah" ucap Alfonso berat hati
"Ayah akan menjaga Sophia sebentar. Apa kau ragu? Aku ini adalah ayahnya sendiri Alfonso. Tidak mungkin aku menyakitinya. Segeralah pulang setelah semua urusan selesai. Aku tidak akan beranjak barang sedikitpun dari kamar ini" ucap Stephanus meyakinkan
"Huffttt baiklah. Jaga istriku sebentar ayah, lagi pula ada yang ingin kudiskusikan kepada ayahku"
*
*
*
Setelah kepergian Alfonso, perlahan Stephanus kembali mendekati ranjang perlahan lahan.
Ia mengeluarkan botol kecil yang berisi cairan ekstrak tumbuhan yang dicari oleh tabib kemarin.
Karena itulah ia menyuruh Alfonso keluar. Jika serigala itu ada disini, Segalanya akan menjadi rumit. Suami posesif itu tidak akan dengan mudah membiarkan obat itu menyentuh Sophia nya.
"Kata tabib, cukup dioles saja di sekitar hidung, dahi dan leher, kemudian sisanya ditetes kedalam mulut Sophia. Baiklah ini sangat mudah, jangan gemetar tangan yang bodoh" dumel Stephanus
Ia mulai meneteskan cairan itu ke jari nya dan mengoleskan nya sesuai anjuran tabib.
Lalu mengapa bukan tabib saja yang melakukannya?
Tentu saja karena tabib tidak seberani itu.
Belajar dari pengalaman selama ini setiap ia menemukan obat baru dan mencoba mengganti obat lama Sophia, Alfonso akan menjatuhkan mental nya terlebih dahulu.
Segala bentakan dan pertanyaan aneh Alfonso akan membuatnya depresi terlebih dahulu.
"Baiklah sudah selesai. Istirahatlah Puteri ayah, Maaf ayah sudah mengganggu tidur mu hmm?" ucap Stephanus memperbaiki selimut Sophia
Stephanus berdiri melangkah, duduk di sebelah rak buku milik Alfonso.
Ia menelisik dan membaca catatan catatan kecil Alfonso
"Puteriku sangat beruntung menikah dengan pria jenius sepertinya" gumam Stephanus
Berjam-jam berlalu, Stephanus tenggelam dalam kefokusannya membaca dan mempelajari catatan hasil analisa Alfonso, tanpa menyadari ada pergerakan kecil dari jari telunjuk lentik milik sang Puteri tidur.
"engghhhhh" terdengar lenguhan merdu yang sangat perlahan akan tetapi mampu mengganggu kefokusan Stephanus
Stephanus mendongakkan kepala, melihat sisi ranjang yang menampung puterinya.
Ia memfokuskan penglihatannya, Ia melihat kepala yang biasanya tertidur kaku itu kini bergerak gelisah.
Stephanus melompat berlari menuju ranjang.
"Sophia!! Sophia!! kau sudah sadar? ini ayah nak, ini ayah" panggil Stephanus menepuk pelan pipi tirus itu.
Perlahan lahan mata sayu itu terbuka. Ia melirik ke kanan dan kiri, tetapi hanya kegelapan yang bisa ia lihat.
Ia menutup mata dan membuka kembali berharap ia bisa melihat barang setitik cahaya, tetapi tetap saja, kegelapan itu kembali menyapanya.
Ia bingung, dengan telinga berdengung, lidah dah tubuhnya terasa kaku.
Ada apa ini
Ia mencoba mengingat ingat apa yang terjadi. Ia mengingat terakhir kali ia berada dirumah suaminya di dalam kekaisaran.
Apa ia masih berada disini?
Sayup sayup, Sophia mendengar suara yang memanggil manggil namanya.
Belum sepenuhnya jelas, Kadang suara muncul kadang hilang.
"Apa suamiku datang menjemputku? tidak, bagaimana jika suamiku marah karena aku datang kerumahnya, bagaimana ini" batin Sophia cemas
Pergerakan nya semakin gelisah. Trauma itu datang lagi.
"Maafkan aku, maafkan aku" batin Sophia berusaha mengeluarkan suara tetapi tidak bisa.
Semakin ia paksa, semakin ia lelah dan merasa sakit.
"Ayolah keluarkan suaramu, minta maaflah nanti suamimu marah" batin Sophia mulai meneteskan air mata nya.
Semakin ia menajamkan telinganya, semakin ia mendengar suara
"Tidak, ini bukan suara suamiku, siapa ini, ini bukan suamiku, apa dia akan membunuhku? dia menyentuh pipiku, suamiku akan marah jika melihat aku bersama orang lain" tangis Sophia semakin deras.
Pikirannya kacau
"aku mau suamiku, aku mau suamiku saja" teriak Sophia dalam hati
Melihat Sophia yang lepas kendali, histeris menangis membuat Stephanus gelagapan
"TABIBB!!!TABIB!!" panggil Stephanus bergegas keluar kamar melihat Sophia frustasi
Tabib bergegas memasuki kamar Sophia. Ia segera memeriksa keadaan Sophia yang histeris
...****************...