IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 54. KERAGUAN ALFONSO


Mendengar suara berat yang memerintahkan bawahannya memenggal kepalanya membuat gadis muda itu menjerit histeris


"TIDAK!! Tidak Tuan. Apa yang terjadi. Ini bukan salahku" teriakan nya menghiasi langkah tegap sang panglima


BLAMM!!


Pintu tertutup dengan rapat menyisakan Filips dan anggotanya.


"Kau tau apa kesalahanmu nona?" Tanya Filips menyeringai. Sudah lama ia tidak melakukan permainan ini.


"Tidak aku tidak bersalah pasti ada kesalahpahaman disini!!" Teriak gadis itu meraung


"Wanita yang kau hina budak rendahan itu adalah istri dari panglima agung!"


Jdarrrrr!!!!


Ucapan itu terngiang ngiang di telinganya. Wajahnya pucat


"Bagaimana bisa" batinnya menangis tidak habis pikir.


"Ramalan itu terbukti nona. Prajurit membawamu dengan hina. Tidak terhormat!!" Ucap Filips kejam mengiris hati wanita yang terduduk pucat itu


"Tapi bukan menjadi budak. Tetapi menjadi santapan peliharaan Kaisar" Sinis Filips kejam.


Filips mendekat menyeret pedang berkilau yang sudah memakan banyak nyawa manusia.


"Tidak...tidak jangan mendekat" teriaknya mundur menjauhi jangkauan Filips


"AAAAAA!!!"


Sreekkkk!!!


Lengkingan menembus pintu yang tertutup rapat.


Filips keluar menggesekkan pedangnya di lengan bajunya dengan senyuman samar.


Menghirup aroma darah itu membuatnya bahagia.


"Lakukan perintah Panglima, urus sisanya" ucap Filips kepada bawahannya melangkah pulang membersihkan noda.


***


Alfonso pergi ke hutan mengendarai kuda hitam kesayangannya dengan sangat cepat. Pikirannya kalut


"Mengapa Sophia merahasiakannya dariku?


Jika Sophia bukan anak dari pasangan tua itu, lalu siapa orang tuanya?


Mengapa Sophia selalu ketakutan setiap aku bertanya hal itu?"


"Mengapa ia berbohong"


Banyak pertanyaan yang menghantui pikiran Alfonso saat ini.


Pikirannya kacau. Ia tidak ingin pulang kerumahnya. Alfonso takut emosinya akan membuncah dan menyakiti Sophia yang berujung penyesalannya sendiri.


***


Malam hari datang, gelap nya yang tenang dengan kesunyian serta suara hewan malam


tok..tok..tokk


"Sayang kau sudah pu.."


ucapan Sophia tergantung melihat bukan suaminya yang berada dibalik pintu


"Filips? dimana suamiku?" Tanya Sophia mencari cari keberadaan sang Suami


"Tuan tidak ada dirumah? Aku ingin menjumpainya memberi laporan." ucap Filips heran


"Apa? Kau tidak tau dimana suamiku? bagaimana ini Filips, kemana Suamiku" cemas Sophia mulai panik.


Filips merutuki kesalahannya yang membuat nonanya Sophia cemas


"Nona, Aku pikir Tuan sedang ada di barak prajurit. Memang beberapa hari ini ada strategi dan pelatihan yang tidak beres" ucap Filips berkilah menenangkan Sophia


"Baiklah Filips jika kau sudah menemukannya, katakan agar dia segera pulang ya, sebentar lagi tengah malam" ucap Sophia cemas


Filips mengangguk memberi hormat dan berbalik meninggalkan Sophia


Filips yang cemas berlari ke arah kandang kuda nya menaiki dan memacu kudanya berlari cepat ke dalam hutan


"Ini tidak biasa. Tuan tidak pernah meninggalkan nona begitu saja. Apa pengakuan wanita tadi membuatnya terluka?" batin Filips


Ia menyusuri hutan. Mengingat bahwa setiap Alfonso mempunyai masalah, ia akan pergi menenangkan diri di sungai.


Filips memacu kudanya di tengah gelap malam


Langkah nya memelan saat dugaannya benar


kuda Alfonso tegap berada di sungai dalam hutan tersebut.


Cahaya bulan menambah suasana dingin dari hawa yang dikeluarkan Alfonso.


"Pergi" Ucap Alfonso datar tetap dengan mata tertutup mengetahui pasti itu Filips yang mengenal kebiasaannya


"Tuan, Nona menunggu anda" ucap Filips memelankan suara beralih duduk disebelah Alfonso.


"Kau mengabaikan perintahku Filips" tegas Alfonso setia dengan posisinya


"Maafkan aku Tuan. Tapi apa ada yang mengganggumu?" tanya Filips memandang Alfonso yang membuka mata memandang langit malam


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Filips. Pulanglah, katakan pada istriku aku tidak akan pulang malam ini" ucap Alfonso


Filips tidak bergeming. Mereka berdua terdiam.


Filips membiarkan Alfonso tenang. Biasanya Alfonso akan menceritakan sendiri jika ia sudah ingin bercerita.


beberapa menit berlalu keheningan menghantui mereka. Hingga Alfonso membuka suara


"Kau tau Filips, aku sudah berusaha menerimanya. Aku memberikan segala perhatianku kepadanya. Tetapi mengapa ia berbohong kepadaku" ucap Alfonso merasa kesal


Filips senantiasa diam menyimak perkataan Alfonso


"Ia tidak mempercayaiku? Aku bahkan memberikan segalanya untuknya" ucap Alfonso frustasi merasa bahwa Sophia tidak setulus itu kepadanya


"Aku merasa kesal Filips. Ia mengetahui apapun yang terjadi kepadaku, Ia mengetahui masa kecilku seperti yang diceritakan bibi Ma. Tidak ada yang kusembunyikan padanya. Bahkan hubunganku dengan orang tuaku pun dia mengetahui nya Filips"


"Ia mengetahui segalanya. Tetapi apa yang ku ketahui tentang dia? Bahkan aku tidak tau siapa orang tuanya. Ia tidak pernah menceritakan hidupnya kepadaku seperti aku menceritakannya. Apa dia tidak mempercayaiku Filips?" tanya Alfonso.


Alfonso menyenderkan kepalanya ke batu seperti semula memejamkan matanya


Merasa Alfonso tidak mengeluarkan suara lagi, Filips membuka suara


"Setidaknya ia tidak meninggalkanmu kan Tuan?" lirih Filips mengundang lirikan dari Alfonso


"Tuan, tidak biasakah kau menutup mata tentang latar belakang keluarganya seperti nona menutup matanya tentang permasalahan keluargamu?"


"Apa Nona pernah bertanya tentang masalah keluarga anda Tuan?"


"Aku pikir nona merahasiakan segalanya agar segalanya tetap berjalan normal. Aku pikir nona hanya takut kehilangan mu Tuan"


Alfonso bergeming. Ia berpikir memang Sophia tidak pernah mempermasalahkan apapun kepadanya.


"Bagaimana aku bisa meragukannya, Ia bahkan tidak pernah mengeluh aku merenggut kebebasannya" pikir alfonso


Perasaan bersalah dan lega menghampirinya secara bersamaan


Bersalah karena berpikiran buruk tentang istrinya, dan lega karena ia tidak langsung pulang dan akan melukai istrinya.


"Kau benar Filips. Tidak seharusnya aku meragukan nya." ucap Alfonso merasa tenang. Hanya Filips lah satu satunya yang menemaninya dari dulu.


"Baiklah Tuan. Aku pikir kita akan mencari tau segalanya setelah keadaan kerajaan sudah stabil, dan rencana kita berhasil sempurna. Jangan cemari pikiran anda dulu Tuan. Kita masih harus membuat taktik yang lebih kuat" ucap Filips.


***


Bunyi hentakan kaki kuda bergema di sepanjang hutan


Alfonso segera bertolak pulang melihat waktu sudah tengah malam bahkan hampir dini hari.


"Sophia pasti menunggu" gumamnya.


Sesampainya di rumah, Alfonso memasuki rumah dengan tergesa melihat Sophia tertidur di kursi kayunya


bukan itu yang menjadi perhatian Alfonso. Tetapi keberadaan Bibi Ma yang berada dirumahnya, terduduk di lantai menyandarkan kepalanya ke pinggir kursi tempat Sophia terlelap.


"Mengapa Bibi Ma berada disini" pikir Alfonso


Alfonso mengguncang pelan bahu Bibi Ma dan membangunkan wanita tua ini


Bibi Ma terkejut segera berdiri.


"Tuan, Maafkan aku tertidur di rumahmu. Aku hanya menenangkan Nona Sophia. Tadi dia.."


"engghhhh" erangan Sophia menghentikan penjelasan bibi Ma


Alfonso mengelus kepala Sophia menenangkannya. Alfonso membuka mantelnya membalut tubuh Sophia.


Merasa Sophia mulai tenang dan kembali tertidur , Alfonso mengajak bibi Ma keluar seraya mengantarkannya pada Filips yang masih menunggu diluar khawatir dengan adanya pertengkaran Tuan dan nonanya.


Tetapi saat pintu terbuka, filips yang berjaga melihat Bibi Ma yang keluar pintu bersama dengan Alfonso.


"Tuan" ucap Filips.


"Jelaskan" perintah Alfonso pada Bibi Ma.


"Bibi menemukan Sophia berjalan seorang diri menangis, memasuki istana. Permaisuri hampir saja memanggilnya dan menghampirinya jika saja Kaisar tidak memanggil permaisuri"


...****************...