
Setelah menyelesaikan drama salah paham Sophia dan ke posesifan Alfonso, dimana Sophia tidak mau menyimpan uang nya yang berakhir Alfonso akhirnya mengalah menyimpan hasil pertama istrinya, Alfonso yang semakin mengetatkan peraturan Sophia, Belum lagi Sophia yang merengek ingin bekerja menghasilkan uang lagi, membuat Alfonso pusing.
Masalah selesai dengan Alfonso yang mencoba memberi pengertian kepada Sophia secara perlahan dan ditutup dengan adegan dewasa yang Alfonso lakukan berulang hingga dini hari.
Pagi hari memulai aktivitas, Alfonso meletakkan sarapan diatas meja kecil di sebelah pembaringan yang menampung si jelita yang masih terlelap kelelahan.
Alfonso menaikkan selimut menghangatkan tubuh polos Sophia hingga sebatas leher. Mengusap kepala dan mencium dahi Kesayangannya. Dan berlalu pergi memulai aktivitas dan tanggung jawabnya.
***
Brraakkk!!
Pagi hari disambut dengan Kaisar Hector yang membanting meja setelah membaca surat dari kerajaan Eros.
"Mengapa mereka selalu memperlakukan aku seperti boneka mereka!!! Ini kerajaan ku. Hak ku menaikkan pajak atau tidak. Yang mereka tau hanya mengancam. Sialan!!!" Teriak Hector membuang surat Eros
Saat berjalan santai pagi hari bersama Alfonso seraya berbincang, Ada prajurit yang menghampiri dan memberikan surat dari kerajaan X.
Alfonso mengambil surat dan membaca. Eros lagi lagi menyuruh Hector menaikkan pajak, dan meminta banyak budak budak wanita muda secara tidak terhormat untuk mengurus kerajaan X dengan upah yang sangat kecil.
"Hufffttt aku pikir kita harus secepatnya memusnahkan mereka Yang Mulia" ucap Alfonso muak menggiring Hector menuju markas rahasia mereka. Akan berbahaya jika amarah Hector lepas begitu saja disini.
Hector menarik nafas perlahan, duduk dan merilekskan pikirannya
"Kau perintahkan mata mata dan pelayan untuk memulai rencana awal kita" Ucap Hector mulai tenang.
"Baik Yang Mulia" hormat Alfonso melangkah meninggalkan Hector dan Filips yang sedang mengawasi pelatihan.
***
"Bibi Ma, Urusan kita belum selesai" tegas Alfonso saat menemui bibi Ma yang sedang bertugas di barak para pelayan rahasia mereka
Bibi Ma yang melihat Alfonso menghampirinya dan bertanya kepadanya menelan ludah kasar.
Ia bimbang apakah harus menceritakan hal tersebut atau tidak. Ia pikir Alfonso harus tau keadaan istrinya. Ia hanya akan menceritakan ulah wanita muda itu bukan firasat Kaisar.
"Panglima, mari kita berbincang di sana, saya Bibi akan membawakan teh" ucap Bibi Ma mencoba tenang.
Entah apa yang akan terjadi jika serigala Hector ini mengetahui jika seseorang mengusik Sophia di pasar.
Alfonso duduk bersisian dengan Pelayan Ma. Alfonso mulai menyisip teh hangat dan mulai mendengarkan cerita Bibi Ma.
"jelaskan!" tegas Alfonso memandang kedepan.
"Beberapa saat setelah panglima pergi, Sophia mengatakan ingin menyulam dan menjahit untuk membuat pakaian kepada panglima"
Mendengar itu terbit segaris senyuman samar di bibir Alfonso. Istri kecilnya mempunyai hati yang hangat.
"Jadi saya membawa Sophia berbelanja bahan terlebih dahulu di pasar. Sophia tidak ingin memakai pakaian biasa nya Panglima. Ia memakai pakaian pelayan agar tidak mengundang perhatian banyak orang"
Alfonso menyimak mengerti mengapa Sophia memakai pakaian pelayan. Sophia tidak berbohong malam itu.
"Bagaimana keadaan nya saat di pasar? Dia tidak terlalu menyukai keramaian Bibi!" sela Alfonso.
"Emmmm itu Panglima. Ada sedikit masalah, Nona.."
"Panglima maafkan aku. Aku tidak tau akan terjadi masalah" lirih Pelayan Ma dengan nyali menciut. Keberaniannya yang ia kumpulkan tadi nyaris lenyap melihat wajah tampan yang kesal ini.
"Lanjutkan!" perintah Alfonso
"Saat berbelanja di pasar, Ada seorang wanita muda yang menghampiri kami. Ia menghina Nona Sophia. Mungkin beberapa masyarakat masih mengenali wajah Sophia saat kerajaan mengambil budak budak waktu itu Tetapi..."
Pelayan Ma menggantung kata katanya ragu
"Ada apa?" tanya Alfonso menoleh
"Ada yang aneh Panglima. Wanita muda itu mengatakan hal aneh. Bahwa ibunya menyerahkan Sophia saat pengambilan budak kerajaan.
Seolah olah Sophia bukan putri dari ibunya. Saya berpikir apakah Sophia bukan putri mereka, Atau Sophia putri mereka tetapi tidak diperlakukan dengan baik semasa hidupnya" Jelas Bibi Ma
Dahi Alfonso mengkerut. Ia juga pernah memikirkan ini sebelumnya. Ibu mana yang menelantarkan putrinya begitu saja di tengah hutan sendirian di malam hari.
"Bahkan saat kaisar memerintahkan untuk merawat dan merias Nona Sophia saat pernikahan, Saya melihat ada luka goresan pedang yang cukup dalam di lengan kirinya" Jelas Bibi Ma
Mendengar itu Alfonso menggaruk tengkuknya tidak gatal. Tentu saja luka gores itu adalah ulahnya. Saat malam itu bibir mungil menggemaskan Sophia tidak bisa terdiam.
"Setelah hari berbelanja dan mendapat makian dari wanita muda di pasar itu, Sophia banyak murung Panglima, Saat kami menjahit dan menyulam pun Sophia lebih banyak diam. Maka dari itu setiap sore saya membawa Sophia berjalan di sekeliling gerbang kerajaan agar mengalihkan pikirannya" Lanjut Pelayan Ma
"Ekhem. kau masih mengenal wajah wanita muda itu bibi Ma? aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."
"Emm bibi tidak terlalu mengenalnya lagi Panglima tetapi jika bibi bertemu dengannya bibi pasti akan cepat mengenalinya. Tetapi apa Sophia tidak apa apa jika ia tau kau membunuh?" Tanya bibi Ma hati hati
"Maka dari itu jangan memberitahunya Bibi. Ia tidak pernah tau aku banyak menghilangkan banyak nyawa. Yang ia tau aku hanya panglima kerajaan.
Aku membatasinya bersosialisasi kepada banyak orang salah satunya karena itu. Orang orang akan mempengaruhinya. Aku tidak ingin ia takut kepadaku" Ucap Alfonso panjang seperti bercerita kepada ibunya. Tidak susah sebenarnya mencairkan hati beku yang haus kasih sayang ini.
"Sepandai apapun kau menyembunyikan pasti suatu saat nona akan mengetahuinya Panglima. Akan lebih baik jika Nona mengetahuinya dari Anda suaminya sendiri dari pada orang lain" lirih bibi Ma memperingatkan
Alfonso terdiam memikirkan ucapan Bibi Ma. Benar. Setiap hari ia dihantui bahwa suatu saat nanti Sophia akan meninggalkannya.
"Baiklah terimakasih bibi Ma" ucap Alfonso
"Aku minta bibi Menyiapkan sekitar sepuluh pelayan setia markas kita yang menurut bibi pandai memanipulasi keadaan dan menyamar. Rencana awal kita akan segera dimulai" ucap Alfonso serius.
"Ah jangan lupa menyiapkan dan meracik racun yang sama dengan racun yang bibi berikan kepada penyusup itu saat aku masih kecil kepada lima pelayan yang nanti bertugas menuju dapur prajurit,
dan Racik racun yang melemahkan kemampuan dan daya tahan secara perlahan lahan, berikan kepada lima pelayan yang akan bertugas di dapur khusus kerajaan" ucap Alfonso memelankan suaranya.
Bibi Ma yang mendengar merespon serius Dan mengangguk.
"Baik panglima semoga segalanya berjalan sempurna"
"Ah sebentar Panglima" Cicit Bibi Ma berlari menuju barak para pelayan dan kembali dengan kotak berukuran sedang dan bungkusan
"Ini peralatan menyulam dan menjahit nona, Ada pakaian yang hampir jadi juga di dalam. Nona pasti bosan berada di rumah seharian. Berikan ini Tuan. Biar Nona menyelesaikan kegemarannya" Ucap Pelayan Ma memberikan perkakas bawaannya tadi.
...****************...