
Beberapa tahun telah berjalan, Stephano telah tumbuh besar. Meskipun hidup di tengah hutan, Stephano memiliki otak yang cerdas dan kuat akibat latihan dari Lukas.
Tiba tiba Hector mendatangi kerajaan x. Kerajaan ayah mertuanya.
Sepanjang pasar menyambutnya.
Lukas bersembunyi bertanya tanya, Dengan alasan apa Hector datang ke kerajaan ini
Tiba tiba ada tepukan di bahu nya. Lukas menoleh mendapati Carlos berada di belakangnya
"Hector dipanggil ke kerajaan. Eros sedang murka. Seseorang memberitahukan kepada Eros hubungan Hector dengan Stephanus" bisik Carlos yang keluar dari barisan pengawalan tamu kerajaan saat melihat Lukas bersembunyi.
"Apa? Jadi Eros telah mengetahui bahwa stephanus adalah kakak Hector?" tanya Lukas
"Ya, aku tidak tau apa yang akan terjadi. Tetapi, Raja Eros telah membunuh Yang Mulia Stephanus malam tadi saat mengetahui kebenarannya. Aku sempat mendengar, bahwa Eros membuat kesepakatan dengan Hector dan akan menyuruh Hector mengurus jasad kakaknya sendiri"
"APA? Stephanus telah tiada?" tanya Lukas dengan wajah pucat dan jantung berpacu
"Bagaimana bisa ini terjadi?" batinnya
"Aku pikir ini saat yang tepat untukmu keluar dari kerajaan ini" ucap Carlos
"Apa maksudmu?"
"Ikutlah denganku ke istana. Sebelum Hector berjumpa dengan Eros malam ini, kau harus menjumpai Hector terlebih dahulu. Pulanglah dengannya. Ikuti rombongannya seolah olah kau berada di rombongan yang sama dengannya. Jadi kau akan mudah melewati perbatasan" jelas Carlos.
"Aku tidak memiliki hubungan lagi dengan Hector. Ia bukan sahabatku lagi. Aku tidak akan meminta bantuannya untuk hal apapun" ucap Lukas menjaga harga dirinya.
"Kau tau? dia masih mengosongkan posisi panglima kerajaannya. Dia masih mengakui bahwa kau adalah panglima perangnya. Dia tidak mencari penggantimu" ucap Carlos membuat Lukas tertegun
"aku pikir aku akan tetap disini Carlos, Aku telah menikahi Alena. Aku tidak mungkin membiarkannya" ucap Lukas
"Kau tidak memikirkan putramu disana?" tanya Carlos geram.
Hal ini membuat Carlos merasa bersalah akan kelakuannya dulu yang sampai sekarang masih di sembunyikannya
"Huh baiklah jika kau tidak ingin kembali bersama Hector. Tetapi aku pikir kau harus mengetahui satu hal. Saat peperangan beberapa tahun lalu, Aku sempat menyusup ke kerajaanmu. Untuk membunuh putramu" ucap Carlos perlahan
Lukas terkejut. Ia mencengkram leher Carlos.
"Apa masalahmu sialan!!!! Aku merawat pangeranmu dan kau melukai Anakku?" tanya Lukas geram
"Maafkan aku Lukas. Tetapi saat itu belum ada kesepakatan antara kita. Saat itu belum terjadi tragedi menyedihkan itu. Kau yang merupakan kaki tangan Eros membuatku ingin melemahkan kekuasaan Eros. Untuk melindungi raja ku." sendu Carlos
"Lalu mengapa kau baru mengatakan sekarang ha? Putraku telah meninggal? Dia meninggal saat masih anak anak dan aku merawat anak orang lain disini? dimana makamnya? dimana anakku?" ucap Lukas frustasi
"Aku akui aku memang egois Lukas. Tetapi jika aku memberitahukannya saat itu, maka kau akan meninggalkan kerajaan dan meninggalkan pangeran kami"
"Lalu kau mengorbankan anakku Demi pangeranmu? Sialan!!! Kalian semua sialan!!" ucap Lukas kalap mengeluarkan air mata nya pilu menangisi keputusan bodohnya
"tetapi, Lukas. Tidak ada yang memberi tahu tentang putramu disana. Kami membunuh siapapun yang menurut kami putramu. Kami membunuh banyak anak lelaki di kerajaanmu" ucap Carlos
"Jadi? apa maksudmu masih ada kemungkinan putraku masih hidup?" tanya Lukas berharap
"Aku harap begitu Lukas. Maafkan aku"
"Aku harus pulang. Dia tidak memiliki siapa siapa disana. Jikapun ia telah tiada, siapa yang akan mengurus pemakamannya" ucap Lukas tergesa gesa mendekati kerumunan Hector tanpa berpikir panjang
"Tunggu dulu Lukas!! kau bisa mati jika begitu" ucap Carlos menghentikan Lukas
"Saat aku menyusup kerajaanmu, aku membangun ruang bawah tanah. Lewatlah dari situ. Selama ini aku tidak memberitahukan nya kepadamu karena Eros telah mengetahui jalan rahasia itu. Saat ini ada tamu kerajaan. Fokus Eros pasti akan terbagi. Eros pasti tidak akan memeriksa jalan rahasia itu" ucap Carlos meyakinkan.
"Baiklah. Aku akan membawa pangeran bersamaku, dan membawa istriku" ucap Lukas bergegas pulang menyampaikan berita kepada istri dan Stephanus agar bersiap siap.
#Flashback end#
"Begitulah nak, Ayah pulang dan bergegas kerumah kita. Syukurlah ayah menemukanmu disini. Ayah sangat bersyukur kau masih hidup.
Maafkan ayah. Ayah yang bersalah mengambil keputusan tidak memikirkan perasaanmu. Ayah mengabaikan tanggung jawab ayah, melewatkan tumbuh kembangmu, membiarkanmu berjuang hidup sendirian sementara ayah merawat anak orang lain disana" lirih Lukas sendu dengan air mata tidak berhenti mengalir dari matanya.
Mata Alfonso memerah. Kenyataan yang ayahnya beritahukan lebih mengiris jantungnya daripada kenyataan yang diberitahu oleh Bibi Ma.
Membayangkan ayahnya setiap sore membawa lauk dan makanan kepada Stephanus sementara anaknya mencari dan mengais makanan sendiri, memancing ikan, menjual nya dan membeli makanan. Tidak jarang juga mencuri makanan milik keluarga kerajaan.
Ingin membenci Stephano, tetapi Stephano sendiri juga memiliki hidup yang sangat berat.
Tanpa mengatakan apapun, Alfonso pergi membanting pintu ruangan Lukas bergegas menuju kamarnya.
Ia melihat istrinya. Satu satunya manusia yang memikirkannya. Satu satunya orang yang mengkhawatirkannya. Satu satunya manusia yang bertanya keadaanya. Satu satunya manusia yang memeluk nya hangat, menenangkan kegelisahannya.
Ia mendekati Sophia yang masih tertidur pulas
"Sayang, Bangunlah kita harus pulang" ucap Alfonso mengguncang bahu sophia.
Sebenarnya ia tidak tega membangunkan pujaan hatinya yang masih terlelap menyelami alam mimpinya
Tetapi, disini lebih lama dengan pria yang memikirkan kebaikan orang lain, membuatnya sesak tidak bisa bernafas dengan normal.
"Sayang, Bangunlah ayo. Kita sarapan di restoran seperti biasa saja nanti. Ayo bangunlah" ucap Alfonso sabar
"Eenggghhh sayang, aku masih ngantuk. Nanti saja pulangnya" rengek Sophia mengalungkan tangannya dileher Alfonso.
Alfonso bangkit terduduk membuat Sophia ikut bangkit karena lilitan tangannya. Selimut merosot hingga ke pinggang Sophia memperlihatkan harta berharga Alfonso.
Alfonso membelit selimut itu kembali menutupi dada Sophia. Membelit sang empunya tubuh seperti kepompong seraya terkekeh jahil. Mengangkat Sophia dan mendudukkannya diatas pangkuannya.
"tidak sayang tidak! kita harus pulang. Atau aku akan meninggalkan mu disini" ancam Alfonso membuat Sophia membuka mata sempurna
"Mengapa ingin pergi lagi?? Kemarin sudah pergi sekarang ingin pergi lagi? kau baru saja sampai semalam!! apa kau sudah mempunyai istri lain di luar sana ha??" tanya Sophia membulatkan mata Alfonso
"Sayang apa yang kau pikirkan? Kau pikir aku mata keranjang seperti si tua sana ha?" tanya Alfonso kesal membayangkan ayahnya
"Aku tidak ingin pergi sayang, tetapi ada kepentingan di kerajaan. Kaisar telah tiada. Kita harus segera kembali" lanjut Alfonso
"APAA??? Bagaimana kaisar bisa tiada sayang? Lalu.. lalu kau tidak apa apa kan?" tanya Sophia memeriksa tubuh Alfonso. Mengangkat tangan, Memeriksa kaki, membuka mantelnya. Eh apa? mantel?
"Sayaangg, dari mana kau mendapat ini. Seharusnya kau tidak boleh melihat ini dulu" cemberut Sophia memegang mantel yang ia rajut untuk Alfonso.
Wajah Sophia yang berubah ubah membuat Alfonso geli. Inilah yang mewarnai hari harinya.
"Tidak tau, aku mendapatnya dari tasmu. Tidak mungkin aku keluar dengan tidak memakai baju bukan?" tanya Alfonso terkekeh
Perdebatan terus berlangsung dengan Alfonso yang selalu mengerjai Sophia. Kehangatan pasangan ini mengisi pagi hari persiapan kepulangan mereka.
...****************...
Jangan lupa like dan komen 🦖🦖🦖🦖🦖