
Di pagi buta, Filips memacu kudanya dengan kencang.
Ia pergi menuju kerajaan x untuk meminta pertolongan.
Filips kalap. ia tidak tau meminta pertolongan kepada siapa lagi
Ayah Alfonso? tidak. Bahkan ayah Alfonso tidak akan pernah memahami putranya sendiri.
Lagi pula ayah Alfonso masih memiliki dua pasien di dalam rumahnya.
Mendengar rahasia bibi Ma malam itu membuat filips akhirnya memutuskan untuk menjumpai sang raja baru. Stephano.
Menempuh jarak yang sangat jauh, Filips akhirnya sampai di sore hari.
Ia sempat di hadang oleh penjaga karena tidak membawa surat apapun
Akan tetapi, untunglah panglima Carlos melihat filips dan mempersilahkannya masuk
Melihat ada yang tidak beres dengan penampilan kacau pengikut setia serigala hector yang memaksa menemui stephano, akhirnya Carlos membawa filips menemui stephano dan meninggalkan mereka berdua.
Setelah beberapa lama, Akhirnya stephano keluar dengan langkah cepat berlari tergesa gesa diikuti oleh filips.
"Yang Mulia, apa kita tidak sebaiknya berjalan melalui jalan rahasia?" tanya Carlos menyadari tujuan kepergian mereka
"Jalan rahasia hanya bisa dilalui dengan berjalan Paman. Kita tidak bisa menunggangi kuda di sana. Kita akan sampai sangat lama" ucap Stephano seraya berlari.
Mereka bertiga memacu kencang kuda mereka demi nyawa malaikat kecil di kekaisaran.
sepanjang jalan stephano menyesal. Ia terlalu mempercayakan adiknya kepada monster itu.
Bahkan stephano pernah menyaksikan kekasaran Alfonso pada Sophia.
Bagaimana bisa ia mempercayai Alfonso begitu saja setelah melihat alfonso bersikap lembut kepada adiknya
Ya, Stephanolah yang dulu sering mengendap endap memasuki rumah Alfonso dan Sophia kala Alfonso masih suka menyakiti Sophia dulu
.
.
.
Mereka sampai di kerajaan di kala langit sudah gelap
Filips dan stephano berlari kencang menuju rumah Alfonso
Filips mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada yang membuka
"Tuan, semuanya tidak benar tuan, mereka bukan keluarga Sophia!!" teriak filips tetapi tidak ada suara apapun dari dalam.
"Sophia!! Sophia!! ini keluargamu Sophia" teriak filips.
Tapi nihil bahkan rumah yang biasa memiliki banyak penerangan di malam hari, kini gelap gulita
Tiba tiba dari jauh, nampaklah Bibi Ma yang lari tergopoh gopoh
"Filips Filips!!!!" teriak bibi Ma dengan deraian air mata yang sangat deras.
Filips berlari menghampiri bibi Ma
"Ada apa bibi? dimana Sophia?" tanya filips mengguncang bahu paruh baya ini
"Nona, nona sudah tiada filips. Mereka sudah membunuhnya sore itu" raungan bibi Ma mengisi kesenyapan kerajaan yang ternyata baru saja melakukan hal keji.
DUARRR!!!
Jantung filips dan stephano bertalu kencang. Mereka membatu
"Bibi mencarimu kemana mana!!! Mengapa kau pergi filips mengapa!!" teriak bibi Ma frustasi memukul mukul dada bidang Filips.
"Bibi berusaha menghentikan mereka. Tetapi bibi tidak sanggup sendiri" teriak bibi Ma dengan isakan mengeras.
Filips terlambat
"bi..bibi, katakan jika bibi sempat membuat racun itu. Katakan bibi" desak filips dengan deraian air mata menderas
"Bibi memerintahkan mu mencari bahannya, Bagaimana bisa bibi membuat racikan dalam waktu yang singkat Filips!!! Sophia meminum racun sungguhan. Anakku yang malang" teriak bibi Ma
Tidak dapat menahan kekacauan pikirannya, wanita tua itu terjatuh pingsan di kaki filips yang masih mematung.
Sadar dengan segalanya, Filips segera memapah bibi ma.
"Yang Mulia" ucap filips membalikkan badan. Melihat stephano yang sama kacaunya masih mematung tidak dapat mencerna segalanya.
"Panglima kau tenangkan Yang Mulia dulu. Aku akan mengantar bibi Ke rumahku. Tidak jauh dari sini" ucap filips kepada Carlos segera menggendong bibi Ma.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, filips datang berlari melihat Stephano yang menangis dengan tepukan Carlos di punggungnya
Saudara mana yang tidak sedih melihat kemalangan adik perempuannya
"Ayo yang mulia. Naik lah ke kuda. Biasanya orang orang yang dihukum mati di kerajaan, jasad mereka akan dibuang ke tempat pembuangan mayat.
Kita kesana. Setidaknya kita masih bisa melihat wajah nona sekali lagi. Kita berikan penghormatan terakhir kita" ucap filips.
Mereka segera memacu kuda nya menjauhi gerbang kerajaan menuju jurang tempat pembuangan mayat seperti biasanya.
***
"Berbahagialah Panglima, nikmati pesta kita ini" ucap Permaisuri merayakan kemusnahan penghianat penghianat dan keamanan kerajaannya akibat gagalnya kemunduran Alfonso.
Alfonso hanya mengangguk samar memainkan gelas nya yang berisi minuman keras itu.
Hatinya kosong. Hampa. Bahkan ini lebih sesak dari pada kematian Sang Kaisar.
Pikirannya menerawang tatapan putus asa dan pengharapan Sophia sore itu
#flashback#
Pagi hari yang cerah, Alfonso terbangun melihat Sophia masih berada di tempatnya malam itu. Disaat Sophia kehilangan kesadarannya akibat benturan keras dari kakinya.
Alfonso membangunkan Sophia tetapi tidak ada reaksi apapun.
Dengan kesabaran menipis, Alfonso menyiramkan air kepada Sophia.
Sophia terlonjak bangun terbatuk batuk.
ia mengabaikan Sophia dan pergi membuka pintu yang terdengar ketukan.
"Panglima, permaisuri memanggil anda" ucap prajurit hormat
Alfonso segera bersiap siap, pergi meninggalkan rumah tanpa mengatakan apa apa kepada Sophia yang menatapnya sendu.
"Panglima, aku permaisuri memerintahkan mu untuk menghukum mati penghianat itu hari ini juga. Segala persiapan akan di siapkan.
Acara akan disaksikan oleh anggota kerajaan. Sebagai penebus dosanya."
Alfonso melotot. lututnya melemas.
"Yang Mulia, apa apaan ini. Mengapa tiba tiba begini? Anda bahkan tidak mendiskusikan nya padaku terlebih dahulu" ucap Alfonso kesal
"Ini perintah dan sesuai peraturan kerajaan Alfonso. Apa kau ikut menghianati peraturan kerajaan? Kau tidak ingat jasa kaisar kepadamu?" tanya permaisuri menekan harga diri Alfonso
"Baiklah aku memberikan mu hak untuk memilih hukuman kematian yang tepat untuk nya. Kau ingin hukuman pemancungan kepala?"
Alfonso diam memikirkan. Rasa tidak rela itu muncul lagi. Demi menyingkirkan perasaan tidak enak itu, ia membayangkan segala kebaikan Kaisar dulu kepadanya
"Ia akan diracun saja seperti tawanan wanita seperti biasa" ucap Alfonso setelah berpikir lama.
Tentu ia tidak akan bisa menyaksikan pemenggalan kepala itu tepat di depan matanya.
"Huh baiklah. Sore nanti setelah persiapan, kau seret wanita itu kesini. Ke halaman umum kerajaan" ucap Permaisuri angkuh
"Ingat tujuanmu!! Jangan ikut menghianati kerajaan!! Ingat sumpahmu mengikuti segala aturan kerajaan" tekan Permaisuri
Alfonso keluar menuju kamp pelatihan nya dulu.
Masuk ke dalam tenda tempat kaisar biasa berada
"Hector, apa ini tujuanmu meninggalkan kerajaanmu? Aku tidak tau apa yang harus kulakukan hector, tolong aku" ucap Alfonso sendu memandang tempat duduk yang biasa Alfonso duduki.
"Apa ini yang terbaik? Jika dulu aku tau wanita itu memiliki hubungan darah dengan penghianat itu, tentu aku tidak akan menaruh hatiku kepadanya" lirih Alfonso bercerita kepada kursi kosong ini
Setelah puas mengatakan segala curhatannya kepada kursi kosong kaisar, Alfonso keluar.
Memanggil prajurit nya dan memerintahkan
"Sore nanti, seret wanita yang berada di rumahku ke halaman kerajaan. Paksa jika ia memberontak" ucap Alfonso menutup segala bisikan hatinya.
...****************...