
Alfonso pulang kerumah dengan langkah lesu.
Tengah malam di acara perayaan permaisuri, ia permisi pulang duluan.
Alfonso menggenggam pegangan pintu dengan gemetar.
Melihat suasana rumah gelap gulita saja sudah membawa perasaan aneh dalam dirinya.
Perlahan, Alfonso membuka pintu rumahnya.
Netranya kembali disuguhi pemandangan gelap gulita persis seperti sebelum kehadiran Sophia di dalam hidupnya.
Perasaannya terasa kosong.
Perlahan ia melangkahkan kakinya. Nafasnya masih menghirup aroma tubuh Sophia yang tertinggal.
Alfonso segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Hanya sinar bulan yang menjadi penerang seadanya rumah Alfonso.
Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, Alfonso segera mengistirahatkan tubuhnya. Berusaha memejamkan mata.
Saat matanya terpejam, Kembali raut putus asa Sophia berputar di ingatannya.
Alfonso membolak balikkan badannya diatas kasur gelisah.
Nafasnya berhembus berat.
Setelah beberapa lama akhirnya ia tertidur.
***
Alfonso mengernyit memicingkan mata akan Sinaran matahari yang menerpa wajahnya.
Perlahan ia membalikkan tubuhnya membelakangi silauan itu.
Perlahan matanya terbuka mengerjap.
Ia melihat kamar yang terang benderang. Alfonso membalikkan badannya melihat jendela. Sudah sangat terang.
Ia bisa menebak ini hampir siang
"Mengapa dia tidak membangunkan aku" lirih Alfonso dengan kesadaran belum terkumpul sempurna
Alfonso geram pergi keluar kamar ingin menemui Sophia
"Kau tidak mem..." perkataannya tergantung melihat di kursi kesayangan Sophia, tidak ada sosok molek itu seperti biasa. Hanya ada beberapa bungkusan kain berwarna warni.
Kesadaran Alfonso terkumpul sempurna.
Ia mengingat bahwa istrinya telah tiada. Kembali perasaan kosong dan hampa itu menghampirinya.
Merasa haus, Alfonso pergi ke dapur.
Kembali semua hal di rumah ini mengingatkannya kepada Sophia.
Dapur ini, tempat Sophia memasak dan bersenandung. Kini sangat suram setelah ditinggal pemiliknya.
"Huh ini hanya beberapa saat. Setelah nya aku akan kembali terbiasa seperti sebelum kehadirannya" pikir alfonso
Setelah menuntaskan rasa dahaga nya, Alfonso kembali ke ruang tamu nya.
Ia menilik satu per satu bungkusan ini.
"Milik siapa ini" pikir Alfonso
"Apa ini hadiah dari permaisuri karena pemusnahan penghianat itu?" batin Alfonso
Alfonso membuka bungkusan kain berwarna merah terang.
Ada gambar wanita diatasnya. Seperti buatan gambar seorang balita. Sangat tidak enak dipandang.
Alfonso membuka nya perlahan.
Ia mendapati syal rajutan yang sangat indah. Bisa Alfonso bayangkan ini akan sangat menghangatkan ketika musim dingin.
Netra Alfonso tidak sengaja menangkap beberapa huruf disini.
Alfonso memperjelas ujung syal dan terdapat nama "Bibi Ma"
Dahi Alfonso mengernyit. Ia menilik ulang syal ini
"Ini adalah buatan Sophia" ucap Alfonso perlahan
Alfonso kembali melipat dan memasukkan syal itu kedalam bungkusannya.
Tangan Alfonso mengambil bungkusan berikutnya dan membukanya ada penutup kepala yang berisi nama
"Filips yang baik"
ia terus membuka beberapa bungkusan berikutnya hingga bungkusan terakhir.
Terdapat dua mantel disini akan tetapi berbeda ukuran
Mantel dengan warna dan model yang sama persis.
Alfonso mengangkat mantel yang ia yakini seukuran badan Sophia.
Tidak ada nama disini.
Alfonso meraba raba mantel mungil itu tanpa ia sadari.
Kemudian ia mengambil mantel satu lagi.
Mantel hitam itu memiliki bordir benang berwarna kuning keemasan yang bertuliskan
"Suamiku, cintaku"
Sontak saja mata Alfonso mengembun.
"Bahkan saat aku menyakitimu pun kau masih sanggup membuatkan ini kepadaku" lirih Alfonso.
Persetan dengan gengsinya.
Ia hanya ingin menangis saat ini. Dadanya sangat sesak. Nafasnya tersendat.
Tetapi semakin ia menangis, semakin ia kehilangan kendali.
Alfonso bahkan bingung ada apa dengannya.
Dadanya seperti tertimpa batu besar. Kepalanya memberat. Kosong! Sangat kosong. Ia merasa rumah ini terlalu besar.
Alfonso yang tidak pernah menangis, kini menangis untuk kedua kalinya kala kehilangan Sophia nya.
"Sudahlah bodoh" maki Alfonso pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan tangisnya.
"Dia pantas mendapatkan itu Alfonso" ingat Alfonso pada dirinya sendiri.
Alfonso pergi bersiap untuk memulai aktivitasnya
Ia tidak semangat. Di dapur kerajaan pun ia hanya sendiri. Filips pun kini meninggalkannya.
Tangannya mengaduk aduk makanan tidak berselera.
Setelah memakan beberapa suap tidak berselera, Alfonso kembali bergegas ke rumahnya.
Ia merasa sangat tidak bersemangat hari ini
Alfonso pulang memutuskan untuk mengistirahatkan diri dahulu.
Ia memasuki rumah kembali. Telinganya sayup sayup mendengar senandung dari dapur.
Entah apa yang dipikirkan Alfonso, ia bersemangat melangkah ke dapur.
Tetapi kosong. Ia hanya menghayal.
Alfonso kembali ke ruang tamu. Menyapu pandangan berharap masih menemukan tubuh Sophia disini
Tetapi yang muncul hanyalah imajinasinya yang semakin liar tidak terkendali
ia melihat meja, ia melihat Sophia yang menangis menahan sudut meja saat Alfonso ingin menyeretnya
Melihat itu, Alfonso terkejut mendekat
"Jangan..jangan seperti itu.. kau menyakiti nya.. Jangan ditarik seperti itu" lirih Alfonso mendekati bayangan itu.
Tetapi saat ia berusaha meraih Sophia, Semuanya menghilang.
Ia mendengar suara tangisan kuat dari belakang.
Ia melihat Sophia yang menangis karena kaki Alfonso menghantam kakinya
Alfonso kembali mendekat tergesa gesa
"Apa yang kau lakukan!!!! Dia terluka!!" bentak Alfonso mendekat
Tetapi semuanya kembali menghilang.
Ia memandangi seluruh sudut rumah. Entah mengapa, Di pandangannya Sophia semakin banyak
tetapi si semua sisi rumah hanya ada penyiksaannya yang terbayang.
Tangis Sophia berlomba lomba mengisi telinganya.
Alfonso mendekati setiap bayangan dengan cepat seperti orang kesetanan
"Jangan melukainya sialan!!!"
Alfonso kembali berlari menuju bayangan yang lainnya
"Sayang, kesini sayang. Jangan menangis disitu"
Mendekat dan kosong, Kembali menghilang.
Alfonso mondar mandir di dalam rumahnya seorang diri menyesali segala keputusannya.
Hingga petang, Alfonso hanya melakukan itu saja sepanjang hari.
Bagai orang yang kehilangan kewarasan akibat perlakuannya dan keputusannya sendiri.
Alfonso merasa lelah. Ia kembali menyapu ruangan ini. Bayangan itu muncul lagi.
Kini Alfonso sadar. Itu hanyalah imajinasinya yang semakin liar.
"Sophia" lirih Alfonso kembali meneteskan air mata.
"Mengapa sangat sakit" lirihnya serak dengan memukul mukul dada nya berusaha mengurangi sesak ini.
"Nyatanya dia yang meninggalkan aku, Semuanya begitu. Hector meninggalkan ku, Istri bahkan sahabatku" lirih Alfonso
Ia menyenderkan kepalanya berbaring di kursi Sophia setelah memindahkan bungkusan bungkusan ini ke meja.
Kejadian beberapa hari ini berputar di kepalanya.
Mulai dari perdebatannya dengan filips, Yang mengatakan pengaruh dari pelayan kaisar sangat buruk
Alfonso kembali memikirkan itu. Setiap perkataan yang keluar dari mulut pelayan itu hanya menjerumus kepada ketaatan Alfonso pada peraturan.
Alfonso menggelengkan kepalanya
"Tidak!! bukan begini cara pikir kaisar" batin Alfonso mengingat setiap keputusan kaisar selalu mengutamakan kenyamanan dan kebahagiaan Alfonso dahulu.
Bahkan walaupun Alfonso tidak setuju.
Alfonso bingung. Ia hilang arah.
Jika filips tidak bisa terbang jika tidak dituntun oleh Alfonso, maka Alfonso tidak bisa berlari jika tidak di tuntun oleh kaisar.
Kaisarlah panutannya selama ini.
Tetapi saat kaisar pergi, ia bingung seperti hilang arah.
Maka dari itulah Alfonso beralih mempercayai pelayan kaisar yang ia harap bisa menuntunnya
tetapi Alfonso baru menyadari. Pria tua itu hanya menjalankan dan memikirkan tentang keamanan kerajaan saja.
...****************...