
Sesampainya Alfonso di dalam rumahnya, Alfonso duduk di kursi Sophia
Pikirannya kalut. Kesetiaan dan sumpahnya kepada kaisar diuji.
Alfonso memejamkan matanya. Mencari kebenaran dalam hatinya.
Netra Alfonso terbuka melihat ke jendela. Sudah sangat gelap.
Pikirannya kembali kepada Sophia yang ia tinggalkan di hutan seorang diri.
Pikirannya memerintahkan untuk membiarkan Sophia, Sementara hatinya berkata untuk menjemput istri kecilnya.
Alfonso berusaha mengabaikan bisikan bisikan bertentangan dalam pikirannya.
Ia berjalan menuju kamar dan mencoba mengistirahatkan pikirannya.
Tetapi nihil. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya diambil alih oleh Sophia.
Alfonso duduk mengacak acak rambutnya.
"Sialan!!!" teriak Alfonso beranjak berlari menuju kandang kuda kerajaan untuk mengambil kuda hitam kesayangannya.
"Ya aku menjemputnya agar aku tidur tenang. Tidak ada maksud apapun kaisar" janji Alfonso dalam hatinya.
Dinginnya malam ia terobos demi menjemput sang istri yang saat ini berusaha Alfonso abaikan demi sumpah dan janjinya pada kerajaan.
Alfonso berhenti di tempat pemberhentiannya bersama Sophia.
Netranya melihat Sophia yang terduduk menekuk lutut dan tangannya kedinginan.
Hati Alfonso tercubit melihat itu.
"Bagaimana bisa aku sekejam ini kepada istriku? dia yang memberi warna kepadaku. Dia tidak memiliki siapapun lagi selain aku"
"Ah tidak!! Keluarganya menjadi penyebab masalah besar di kerajaan. Keluarganya menjadi penyebab kaisar di hajar oleh Eros. Seharusnya wanita ini berterimakasih kepadaku aku belum membunuhnya"
Pikiran dan hati Alfonso berperang. Alfonso kesulitan saat ini.
Alfonso turun dari tunggangannya, Mendekati Sophia
"Hey bangun!!" dingin Alfonso menendang kecil kaki Sophia
Sophia tersentak mendongak. Dan tersenyum lebar
"Sayang!! Kau datang? maafkan aku mengabaikanmu tadi" ucap Sophia
Alfonso yang mendengar itu hanya memasang wajah datar membentengi pikirannya.
"Naik!!" singkat Alfonso berjalan menuju kudanya.
"Ah ya aku naik aku naik" ucap Sophia berjalan tergesa gesa. Ia takut melihat perubahan Alfonso.
Sepanjang perjalanan, Alfonso dan Sophia hanya terdiam.
Sophia tidak berani berbicara. Ia takut Alfonso akan menurunkannya.
Sesampainya di rumah, setelah Alfonso mengikat kudanya, Alfonso masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Sophia.
BLAMMM!!!!
Alfonso membanting pintu tepat saat Sophia ingin memasuki rumah.
Sophia kembali membuka pintu masuk perlahan lahan tanpa menimbulkan suara apapun.
Ia tidak melihat alfonso. Alfonso telah berada di kamar.
Sophia duduk di kursinya. Ia tidak berani memasuki kamarnya.
Hati Sophia teriris sedih memandangi kamar. Suaminya yang biasanya bersikap hangat padanya.
Baru tadi siang ia merasakan keperdulian suaminya seperti biasa. Mengapa sekarang berubah?
"Apa aku membuat kesalahan lagi?"
"Apa suamiku marah aku tidak memiliki siapa siapa lagi? Aku hanya menjadi bebannya"
"Apa suamiku marah melihat paman sudah tiada? Aku hanya membuang buang waktunya beberapa hari ini"
Batin Sophia menduga duga perubahan suaminya.
Sophia takut. Suaminya berubah seperti dahulu lagi.
Membayangkan itu membuat Sophia gemetar hebat.
ia menahan air matanya yang telah menggenang.
Kekasaran Alfonso dulu berlomba lomba memenuhi pikirannya.
Sophia panik melihat kesana kemari. Tangannya saling meremas dengan keringat dingin membasahi tangannya.
Ya, trauma nya muncul kembali.
Trauma yang dulu sudah Alfonso sembuhkan, kini datang lagi dengan penyebab yang sama.
Sophia berdiri dan melangkah dengan cepat.
Ia melihat guci di atas meja. Ia membayangkan bisa saja Alfonso memukulkan guci itu kepadanya.
Sophia mengambil guci, dan menyembunyikannya di bawah kursinya.
Sophia bergegas menyembunyikan hiasan itu di bawah kursinya lagi.
Kepanikannya semakin menjadi jadi.
Sophia memeriksa kesana kemari. Melihat lihat benda apa yang bisa Alfonso raih untuk menyakitinya.
Setelah merasa aman, Sophia duduk kembali di kursinya.
Matanya tidak pernah lepas dari pintu kamar yang tertutup.
Ia memandangi dengan sayu. Berharap Alfonso muncul memandangnya dengan hangat kembali menjadi suami nya yang sangat baik dan perduli.
Alfonso pernah mengabaikannya karena Alfonso merasa lelah dengan kekacauan filips
Sophia berharap perubahan Alfonso hanya karena Alfonso merasa lelah.
"Bagaimana aku mengganti pakaianku" batin sophia melihat pakaiannya yang penuh dengan tanah dan abu bekas pembakaran
Apalagi Sophia duduk di tanah tadi.
Sophia menunggu duduk diam, Ia menunggu beberapa saat berharap Alfonso sudah tidur.
"Semoga suamiku telah tidur" batin Sophia melangkah menuju kamarnya bersama sang suami.
Saat membuka pintu, Ada lemparan bantal mengenai wajahnya.
"Tidur dibawah!!" dingin Alfonso mengira Sophia masuk ke kamar ingin tidur.
Sophia terkejut berusaha menormalkan raut wajahnya. Ia akan mencoba berperilaku seperti biasanya.
"Sayang? kau marah? bagaimana bisa aku tidur tidak memelukmu?" tanya Sophia mendekati Alfonso.
Sophia menggali kuburannnya sendiri. Segalanya tidak sama lagi sophiaaa
Alfonso membuka mata nya menatap Sophia tajam.
"Apa karena aku bersikap baik kepadamu kau menjadi berperilaku sesuka hati seperti wanita murahan?" tanya Alfonso
"MENJAUH DARIKU SIALAN!!!!" bentak alfonso mengarahkan kakinya mendorong kaki Sophia agar menjauh.
Sophia mematung. Pikirannya benar. Tebakannya benar. Alfonso yang dulu telah kembali.
Dengan langkah kaki gemetar, Sophia mundur.
Menundukkan kepalanya seperti dulu lagi.
Dengan gemetar, Sophia membuka lemarinya pelan.
Sesekali ia menoleh kebelakang memastikan Alfonso masih berada di tempatnya.
Jika Alfonso beranjak, sudah pasti Alfonso akan memukulnya seperti dulu lagi.
Sophia mengeluarkan pakaian gantinya.
Udara disini membuat Sophia sesak.
Sophia tidak bisa bernafas dengan normal. Dada nya seperti ditimpa ribuan batu.
Dengan langkah perlahan tidak ingin menimbulkan kebisingan, Sophia mengambil bantal yang tergeletak di lantai.
"Sayang, aku akan tidur diluar saja ya, tidurlah dengan nyenyak" lirih Sophia memandangi Alfonso yang bahkan tidak membuka matanya tidak perduli.
Sophia menghembuskan nafas, menutup pintu perlahan dan bersiap untuk beristirahat
Seusai mengganti pakaian, Sophia berbaring menatap langit langit
"semoga besok segalanya kembali normal" batin Sophia berharap.
Ia meraba kursinya. Nyatanya ia kembali berbaring di tempat ini.
Kesenangan dan kebahagiaan yang diberikan Alfonso tidak berlangsung lama. Kebahagiaan semu itu hanya singgah beberapa saat di dalam hidup sophia
Otak lugu itu masih berpikir apa yang membuat suaminya berubah dengan cepat.
Ia memutar segala kegiatan mereka hari ini. Tidak ada yang aneh bagi Sophia
"Tapi raut wajahnya berubah saat berada di dalam ruangannya tadi. Apa suamiku marah aku pernah lancang memasuki ruangan pribadinya? Aku pikir begitu. Besok aku akan meminta maaf kalau begitu" pikir Sophia
Segalanya masih terlalu berat bagi Sophia.
Mengingat kenyataan Paman nya yang sangat ia sayangi telah meninggalkannya, membuat Sophia meneteskan air mata.
Memori berputar di dalam pikiran Sophia.
Pamannya begitu menyayanginya.
"Bagaimana aku mencari ayah dan ibuku kalau begini? Hanya informasi dari paman yang aku harapkan. Jika ayah dan ibu masih ada, pasti suamiku tidak akan marah. Karena aku masih memiliki keluarga." lirih Sophia seperti kebiasaanya. Meracau hingga lelah sampai tertidur.
"Bagaimana jika aku mendatangi peramal itu saja? Suamiku bilang peramal bisa menggambar wajah. Aku akan meminta gambar wajah kedua orang tuaku saja" pikir Sophia mendapat ide cemerlang
...****************...
Jahat bener Alfonso🦖🦖🦖
Like dan comment yaaa, Biar semangat🤧