
"Apakah berita ini benar Filips? Apa apa yang harus kupersiapkan untuk menghadiri undangannya besok" ucap Bibi Ma parau.
Filips yang hanya berpedoman kepada satu manusia panutannya, tentu saja ia tidak suka berbasa basi dengan orang lain termasuk bibi Ma.
Filips menundukkan kepala, beralih pergi meninggalkan Pelayan Ma tanpa menjawab cercaan pertanyaan wanita Tua itu.
***
Pagi menyingsing, terjadi perdebatan kecil di kediaman elegan yang hanya diisi oleh pasutri muda tersebut.
"Sayang, bukan seperti itu, bisa bisa bibi Ma tidak berani berbicara jadinya" komplen Sophia melihat wajah datar itu.
"Lalu bagaimana? Sudahlah Sofi, tidak perlu mengubah apapun, cukup diam biarkan dia berbicara lalu suruh pulang. Sederhana bukan" ucap Pria dingin dengan segunung keangkuhan
"Bukan begitu menyambut tamu, Kita harus tersenyum" bantah Sophia
"Tersenyum? yang benar saja kau menyuruh suamimu tersenyum kepada wanita lain, kau tidak menyayangiku Sofi?" tanya Alfonso mendramatisir keadaan
"Bukan begitu Suamiku, Baiklah tidak usah tersenyum. Tetapi jangan tatap Bibi Ma dengan tajam nanti, Biar aku yang mulai pembicaraan nanti" ucap Sophia
**
Pelayan Ma menatap aneh pasangan di hadapannya.
Sophia yang tersenyum kepadanya, dan Alfonso yang tidak menatapnya. Ia hanya menatap wajah jelita istrinya.
"Jangan tatap aku terus, Bibi Ma dihadapanmu" ucap Sophia berbisik tetapi bisikannya membuat siapapun bisa mendengarnya.
"Aku tidak menatapnya dengan tajam sesuai perkataanmu" dingin Alfonso
"ck, ah sudahlah. Bibi Ma bagaimana kabar bibi?" Tanya Sophia mengawali pembicaraan
"Bibi baik nak, terimakasih sudah mengundang bibi, Bibi sangat menunggu saat ini" lirih Bibi Ma mengembun
"Tidak apa bi" jawab Sophia tersenyum
Membuat Alfonso jengkel. Sophia tersenyum kepada siapapun yang ditemuinya.
"ekhm mungkin bibi tidak bisa berlama lama nak, Bibi punya banyak pekerjaan di istana. emmmm jadi Panglima, Saya ingin meminta maaf dahulu akan perlakuan saya kepadamu sewaktu kecil" ucap bibi Ma dengan netra tertunduk mulai mengembun.
Jari jarinya ia tautkan dengan erat mengusir rasa gugup.
"Benar, saat itu ayahmu menitipkanmu kepadaku pada peperangan lalu. Pada saat suasana permusuhan oleh dua kerajaan besar, membuat keadaan istana tidak stabil nak, banyak anggota kerajaan X yang menyelinap masuk kedalam istana" ucap bibi Ma menerawang.
Alfonso mulai mengubah tatapannya menoleh kepada Pelayan Ma.
#flashback
"Kau jaga dia, hanya dia satu satunya yang kupunya. Aku tidak tau apakah aku akan kembali dengan selamat. Aku harus melindungi Kaisar Agung (ayah Permaisuri) dan Hector" ucap Lukas yang saat itu masih menjabat sebagai panglima perang dengan genggaman menguat kepada anak yang berusia sekitar 8 atau 9 tahun.
"Baik Tuan, kembalilah dengan selamat" ucap Bibi Ma menundukkan kepala.
Memandang punggung tegap Lukas yang menjauh dengan Alfonso kecil yang masih belum mengerti dengan jelas dengan kepergian ayahnya yang mengatakan "Ayah mencari uang dulu, untuk membeli kuda kepada Alfonso"
setelah menghantar Alfonso kekamar nya untuk beristirahat, Ma pergi ke dapur kerajaan ingin mengambil makanan.
Tetapi ditengah perjalanan, Ia melihat beberapa orang dengan tubuh gagah tegap sedang berbicara dibalik tembok kerajaan.
Bibi Ma yang merasa itu bukan pakaian prajurit kerajaan mereka berjalan mendekat dan bersembunyi.
"Maaf jenderal tetapi kerajaan ini benar benar sepi saat ini. Hanya beberapa pelayan yang mengisi kerajaan ini" ucap salah satu dari mereka
"Pasukan kita semakin sedikit. Kita tidak bisa menyerang kerajaan ini walaupun disini sangat sepi" ucap suara berat yang Ma yakini sebagai pimpinan mereka.
Bibi Ma syok dan gemetar. Penyusup dari kerajaan X sudah masuk ke kerajaan mereka
"Kita hanya perlu menghabisi pondasi mereka. Kaisar dan menantunya itu hanyalah orang bodoh. Bukan mereka yang menjadi tiang sandaran dan pondasi penguat kerajaan ini. Tetapi panglima perang mereka yang tidak terkalahkan" ucap Jenderal perang kerajaan X itu
"Bagaimana kita bisa membunuh panglima tuan, Panglima kerajaan ini sedang berperang dikerajaan kita" ucap salah satu bawahannya.
"Bukan seperti itu cara yang tepat untuk menghancurkan seseorang. Aku dengar Panglima memiliki satu orang putra. Kita bisa mengancam dan melemahkannya melalui putranya.
Kalian hanya perlu mencari putra dari Panglima sialan itu" ucap Jenderal X yang mengagetkan bibi Ma yang sedang bersembunyi
Perlahan lahan air mata Bibi Ma menetes. Menutup mulutnya rapat agar tidak mengeluarkan suara isakan.
"Panglima sangat memanjakan putranya. Carilah anak laki laki yang memiliki postur tubuh yang bagus dan sehat dikerajaan ini" lanjutnya
"Tuan, aku pikir ada beberapa anak laki laki yang berada di istana ini" Ucap prajuritnya
"Tangkap semua anak laki laki yang memiliki ciri ciri seperti itu. Memiliki aura dan potongan bangsawan. Pasti salah satunya adalah anak Panglima"
"Aku akan menyebarkan pelayan dan prajurit kita yang tersisa dan menyamar di kerajaan ini agar penculikan itu tidak terdeteksi" ucap Jenderal X
Dengan langkah gemetar, Ma pergi menuju kamarnya. Ia melihat sekeliling. Ia tidak mengenali yang mana pelayan kerajaan ini dan yang mana pelayan kerajaan X.
Jantungnya berdetak kencang. Ia melihat Alfonso kecil yang terbaring tertidur diatas futon miliknya. Wajah tampan dan kulit putih yang sehat itu sangat mendeskripsikan anak kalangan bangsawan.
Diusapnya Kepala Alfonso sambil menangis.
"Maafkan Bibi nak"
Maka dari itulah Bibi Ma mulai menyiksa dan membuat tubuh Alfonso luka luka, serta memberi pakaian lusuh dan kumuh kepada Alfonso.
Agar mata mata yang disebarkan oleh kerajaan X beranggapan bahwa Alfonso hanyalah anak dari pelayan atau bahkan budak kerajaan.
...****************...
Sedih bgt hidupnya Alfonso๐ญ๐ญ๐ญ
jangan lupa vote dan like yaa,๐
nantikan episode selanjutnya ๐ป๐ป