
Kicauan burung mengganggu tidur wanita berambut hitam legam itu. Rambut yang terurai berantakan menambah kesan menggemaskan pada dirinya.
Mata sendu dan indah itu berkedip kedip berharap kedipan berikutnya akan membawa perubahan dan memperlihatkan keindahan dunia.
Tetapi usahanya nihil. Hanya kegelapan lah yang tampak di pandangannya.
Panik, ia mulai panik seperti tadi malam. Ia menggerakkan badannya tetapi hanya tangannya yang bisa ia gerakkan.
Tangannya bergerak kesamping meraba, berharap ada sesuatu yang bisa ia jangkau dan seperti harapannya, Ia merasa menyenggol sesuatu.
Ia meraba raba dan berusaha menebak apa benda kotak kotak keras yang sedang ia pegang ini. Ia merasa sedikit familiar tetapi apa ini.
Tangannya bergulir perlahan lahan ke atas dan ia merasa jarinya mendarat di tempat empuk. Ini seperti bibir seseorang. Siapa lagi kalau bukan Alfonso yang masih tertidur lelap disebelah dan menghadap sang istri yang tadi malam meraung menangis ketakutan
Alfonso baru bisa memejamkan matanya pada dini hari sebelum matahari terbit. Ia baru tertidur beberapa jam saja
Dahi Sophia berkerut.
"Siapa ini? ada seseorang yang tidur di sebelahku? bagaimana jika suamiku mengetahui nya, pasti ia sangat marah, siapa ini? Bagaimana bisa ia masuk kerumah ku dan suamiku" pikir Sophia yang kembali melupakan hal hal terakhir
Ingatannya kembali pada saat ia berbaring pasrah menunggu ajalnya di dalam rumah nya dahulu bersama Alfonso.
Kegelapan ini, ia juga hanya menganggap kegelapan ini karena rumahnya yang tidak memiliki penerangan lagi.
Pikirannya sedikit kacau. Seperti tadi malam, ia tiba tiba terbangun dan merasa ada seseorang yang menekan kepalanya dengan bantal. Ingatannya kembali pada saat Amora berusaha membunuhnya waktu itu.
Sophia menggerakkan tangannya kembali. Ia berusaha berbicara mengeluarkan suara dan meminta tolong.
Tetapi ia semakin panik kala ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Ia ingin berlari keluar menghindari penyusup ini, tetapi kakinya tidak bisa ia gerakkan. Kembali, ia kembali menangis
Tanpa sadar, Ia meremas lengan sang suami yang tertidur dengan tangan lentik nya, yang mengganggu tidur serigala dingin itu.
Alfonso yang sedikit terganggu di dalam tidurnya segera membuka mata dan mendapati Sophia kembali menangis. Tentu saja Alfonso terkejut
"Sayang, ada apa? apa yang sakit hm? mengapa menangis? tenanglah, ini aku suamimu, aku disini" ucap Alfonso kembali menenangkan istrinya
Sophia yang mendengar suara suaminya terkejut. Jadi yang tidur bersamanya adalah suaminya.
Bagaimana bisa
Melihat Sophia yang berhenti meraung, Alfonso merendahkan tubuhnya memeluk Sofinya dengan elusan itu tidak berhenti di kepala Sophia
"Stttt tenanglah. Jangan menangis." ucap Alfonso yang tidak tau ingin berbuat apa. Ia tidak mengerti bagaimana berkomunikasi dengan istrinya
Apakah istrinya kesakitan, apakah istrinya tidak nyaman, apakah istrinya merasa lapar? haus? kedinginan?, Alfonso tidak tau.
Hal itu membuat Alfonso merasa tidak berguna
"Apa yang harus kulakukan agar aku memahamimu sayang" batin Alfonso pilu.
"Ini salahku, jika dahulu aku tidak menolak saat kau meminta aku untuk mengajarkanmu membaca dan menulis, mungkin itu akan sedikit membantu" sesal Alfonso dalam hati
"Apa sofiku kembali tertidur?" ucap Alfonso melembutkan intonasi suaranya
Lama ia menunggu respon Sophia, hingga akhirnya Sophia menggeleng
Hal itu memberikan Alfonso ide
"Sayang, Jika aku bertanya, bantu aku dengan menganggukkan atau menggelengkan kepalamu hmm?" tanya Alfonso yang dibalas anggukan Sophia
Sophia kembali menggeleng dalam pelukan hangat itu
"Lalu mengapa menangis? apa ada yang tidak nyaman?"
kembali respon yang ditunjukkan Sophia hanya gelengan
"Kau haus?"
"Kau ingin mandi?"
"Kau merasa kesakitan?"
berbagai pertanyaan Alfonso dijawab gelengan oleh Sophia. Alfonso kembali bingung.
Ia menyudahi pertanyaannya, takut membuat sang istri merasa terbebani.
"Baiklah, Kalau begitu kita melakukan pemeriksaan dulu ya? Setelah itu kita sarapan. Tenang saja Tuan Puteri, suamimu akan mengurus mu" ucap Alfonso ringan.
Saat Alfonso ingin berteriak memanggil pelayan agar pelayan memanggil tabib, terdengar bunyi ketukan pintu disusul Stephanus memasuki kamar.
"Kalian sudah bangun? kudengar dari pelayan dan prajurit yang berjaga di depan kamar, lampu kamar menyala semalaman. Apa kalian terjaga semalaman? apa ada masalah?" tanya Stephanus yang khawatir akan aduan dari pelayannya.
Mendengar ada suara orang lain di dalam kamar, membuat Sophia kembali gelisah.
Kepalanya pusing, badannya seperti ditarik kuat oleh sesuatu. Ingatannya berputar kembali saat prajurit membawanya paksa untuk menjalankan penghakiman nya waktu itu
Sophia kembali panik.
"Mereka datang lagi, mereka akan benar benar membunuhku kali ini. Aku tidak mau meminum minuman itu lagi, aku tidak mau dipermalukan berlutut di depan banyak orang, suamiku, aku harus bersama suamiku" batin Sophia mengenggam erat lengan Alfonso.
Sangat erat hingga kuku nya menancap melukai lengan Alfonso yang memandang sendu istrinya.
"Ini sangat sakit, Bukan Luka yang disebabkan oleh Sofi, tapi hatiku sangat sakit melihat kekacauan istriku sendiri tetapi tidak banyak yang bisa kulakukan" batin Alfonso
"Sayang, itu adalah ayahmu, tenanglah aku disini, tidak mungkin aku membiarkan orang melukaimu, Suara itu, adalah suara ayahmu, ayahmu masih hidup, banyak yang telah terjadi. Segeralah sembuh, aku akan menceritakan segalanya" ucap Alfonso lembut menggenggam tangan Sophia yang mengendurkan cengkeramannya.
"Ayah? siapa ayahku? Paman, aku memiliki paman, Hah tidak!! apa pria tua dipasar dulu datang kemari dan mengaku sebagai ayahku? Bagaimana ini, bagaimana jika Suamiku mengetahui bahwa mereka bukan orang tuaku" pikir Sophia yang kembali berkelana.
Racun itu sangat mengacaukan pikirannya.
"Ekhem, Alfonso aku datang hanya untuk mengatakan, jika Sophia sudah membaik, aku berencana membawa seseorang yang mengajarkan bahasa isyarat kepada Sophia. Aku pikir tangannya bisa membantu berkomunikasi denganmu" ucap Stephanus yang telah memikirkan ini semalaman.
"Ayah, bukankah ayah tau, Sophia sangat tidak nyaman dengan kehadiran orang baru. Berikan buku nya, biar aku mempelajari nya. Aku yang akan mengajarkan istriku sendiri. Aku tidak mau membuat istriku tidak nyaman" ucap Alfonso posesif.
Alfonso tidak habis pikir bagaimana bisa ayah mertuanya berpikiran membawa orang lain?
Sophia masih sering panik dengan kehadiran suaminya sendiri, Bagaimana bisa membawa orang lain? hal itu hanya akan membawa rasa stress pada istrinya
"Ah kalau begitu baiklah, aku akan keluar dan memanggil tabib. Oh iya, aku akan menyuruh pelayan membawa sarapan. Ekhem Sophia, Cepat lah sembuh Puteri ayah, semua orang menunggumu" ucap Stephanus lembut sebelum meninggalkan kamar
Pintu tertutup dan Stephanus langsung dihadiahi berbagai pertanyaan oleh sang putera
"Bagaimana ayah? Apa Sophia mau? Apa kakak menyetujui nya? Amora akan menjadi guru yang sangat baik, dia bisa banyak hal ayah, sudah kukatakan dia juga bisa bahasa isyarat. Selain itu, Amora juga bisa membangun rasa kedekatan dengan Sophia" ucap Stephano menggebu
Stephanus menggeleng
"Tentu saja kakakmu tidak membiarkan siapapun mendekati istrinya, stephano. Carilah cara lain. Tetapi ayah pikir untuk saat ini biarkan Sophia beradaptasi dahulu. Biarkan Alfonso menangani Sophia. Saat keadaannya telah stabil, kita mencari cara lain membawa Amora memasuki istana" ucap Stephanus yang dituntut oleh stephano segera menikahkannya dengan amora karena Sophia telah sadarkan diri.