
"Selamat datang kakakku" ucap pria muda yang bersandar memegang penerangan.
Alfonso mematung. Wajah ini,
"STEPHANO?" Tanya Alfonso mematung
Ya pria ini. Pria yang dibawa ayah dan ibunya kerumahnya. Pria yang dikatakan ayah dan ibunya sebagai adiknya. Pria yang sudah membuat kesalahpahaman antara Alfonso dengan ayahnya sendiri.
"Sudah kuduga kau akan kesini kak" ucap Stephano mendekati Alfonso
Alfonso mencengkram leher Stephano memojokkan ke dinding.
"Sudah kuduga kau tidak mati malam itu, Sialan!! kau membuatku diusir oleh ibumu, dan berpisah dengan ayahku sendiri" geram Alfonso dengan mata memerah.
Stephano terpancing. Ia menghempaskan tangan Alfonso
"Kau pikir apa? Aku hanya dikurung oleh mereka. Aku ingin merebut apa yang menjadi milikku. Tapi mereka bahkan tidak memberi ku celah untuk mengintip jendela!!" teriak Stephano
"Kau yang sebenarnya merebut posisiku sialan!!! setidaknya katakan pada ibumu untuk tidak memisahkan aku dengan ayahku!!" bentak Alfonso.
Kening Stephano mengerut
"Ibuku? Apa maksudmu? mereka belum menceritakan apapun kepadamu? Wanita itu bukan ibuku" lirih Stephano
Alfonso terkejut. Matanya membola.
"Apa yang kau katakan? apa kau sudah gila?"
"Hahahaha Kakak, mereka menyembunyikan segalanya darimu" ucap Stephano
Stephano terduduk dengan mata memerah
Mendengar ada gema ribut suara Alfonso, Filips dan Hector menghampiri mereka berdua
Hector mematung melihat jiplakan wajah yang sedang terduduk di sebelah kaki Alfonso.
"St..stephano" lirih Hector dengan air mata mengalir
Merasa ada yang memanggil namanya, Stephano mendongak
"Paman? Kau!! Kaulah yang menyebabkan segalanya menjadi seperti ini!! ketamakan mu!" teriak Stephano dengan mata memerah menghampiri Hector dengan tergesa gesa menarik kain leher Hector.
"Aku kehilangan kerajaan, orang tua, adik, dan seluruh keluargaku!! Kau memberikan aku kepada orang tuanya, (Seraya menunjuk Alfonso) mereka hanya mengurungku layaknya sapi Paman!!!!" teriak Stephano pilu menangis.
Alfonso terdiam bingung. Ia tidak tau apa yang terjadi.
"Hector apa yang terjadi" tanya Alfonso dengan suara merendah.
"ini semua salahku, Semuanya kacau" tunduk Hector
"Apa maksudmu sialan!!! kau terlibat dengan kesengsaraan ku?" tanya Alfonso kehilangan rasa hormatnya kepada sang kaisar.
Hector menangis. Ia melemaskan lutut nya, berlutut di hadapan Alfonso dan Stephano.
"Maafkan aku, maafkan aku" Isak Hector.
"HAH BAJINGAN!!" teriak Stephano berbalik meninggalkan Hector.
Alfonso yang merasa ada sesuatu mengejar pria yang pernah menjadi adiknya tersebut.
Tampaklah Stephano memeluk lututnya menangis pilu terisak bergema di sepanjang jalan rahasia
"Kakak, maafkan aku merebut hidupmu. Tapi sungguh bukan itu tujuanku" lirihnya dengan nafas tersendat
Alfonso duduk disebelah pria yang lebih muda darinya itu
"Ayahku... Ayahku lah dulu yang memimpin kerajaan X sebelum Eros merampasnya. Dia..dia" Stephano tidak dapat lagi mengeluarkan suaranya. Ia tidak sanggup. Tangisannya terdengar menyayat siapapun yang mendengarnya.
"Aku mengerti. Berhentilah, ceritakan segalanya saat kau siap" ucap Alfonso yang menduga dan membuat gambaran di kepalanya.
Alfonso menepuk bahunya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Aku tidak bisa lagi membantumu. Aku kalah. Prajuritku habis" lirih Alfonso menyendu
"Terimakasih telah membantuku kakak" ucap Stephano memandang tulus Alfonso.
"berhentilah dengan panggilan itu. Kita bukan saudara jika begitu" ucap Alfonso menyandarkan kepala yang penuh dengan masalah itu Kedinding belakangnya memejamkan matanya
"Kau tetaplah kakakku. Kau pernah menjadi kakakku, selamanya akan begitu, hanya kau yang kupunya" ucap Stephano
"Terimakasih telah membantuku kakak dan maafkan aku memanfaatkanmu" ucap Stephano ambigu
Alfonso membuka matanya menatap pria yang sempat menjadi adiknya
"Apa maksudmu?"
"Saat aku kabur dari rumah, dengan kematian palsuku itu, Aku membentuk kelompok dan aliansiku sendiri dengan mimpi bisa merebut kerajaan ayahku sendiri. Aku tau tentang jalan pintas ini.
Aku sering keluar masuk kerajaanmu. Aku tau pemberontakan yang kalian rencanakan.
Aku tau taktik dan rencana kalian.
Maafkan aku. Aku membocorkan hal itu memberikan informasi kepada Eros. Eros mengarahkan semua prajurit nya.
Aku membutuhkan itu kakak, Setidaknya prajuritmu dapat mengurangi jumlah prajurit Eros" Ucap Stephano
"Lalu? apa maksudmu prajurit mu sedang menunggu arahanmu?" tanya Alfonso.
Stephano mengangguk.
"Aku yang akan menghabisi Eros dengan tanganku sendiri. Prajuritku akan melemahkan pengawalan Eros yang tersisa." gumam Stephano
"Ayahmu masih hidup" suara berat Hector memecah diskusi Alfonso dengan Stephano.
"Eros menyembunyikannya" lanjut Hector
Stephano terkejut. Bergergas berdiri dan menghampiri Hector.
"Apa maksudmu paman? Ayah.. ayah masih hidup? dimana? aku akan menemukannya" ucap Stephano tergesa
"Aku tidak tau nak, Eros hanya mengatakan ayahmu masih hidup. Tetapi aku tidak tau dimana ayahmu berada"
"Aku ingat ada ruang rahasia di kerajaan ini. Ruangan itu selalu dikunci. Saat aku mengantar putra Eros, aku melihat Eros memasuki kamar itu. Aku pikir ada hal yang disembunyikan disana" Ucap Alfonso berdiri menghampiri keduanya.
"Kau tidak akan bisa melawan Eros sendirian nak, dia sangat licik. Pergilah carilah ayahmu dahulu. Aku akan mencoba melumpuhkan dan melemahkan Eros.
Tenanglah aku tidak akan membunuhnya. Aku akan menyerahkan dia yang masih bernyawa kepadamu. Amankan Ayahmu terlebih dahulu" Ucap Hector
"Ta..tapi paman"
"Pergilah. Ikuti Alfonso. Aku akan bersama Filips mencoba mengembalikan hak mu. Kerahkan prajuritmu. Paman akan mendukungmu" ucap Hector sendu membayangkan kerasnya perjuangan hidup kedua anak muda di hadapannya ini hanya karena ulah nya.
"Paman.. maksudku bukan.."
"PERGILAH. ALFONSO INI PERINTAH. BAWA KEPONAKANKU" tegas Hector.
...****************...