IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 80. PENGHAKIMAN SOPHIA


Acara penghakiman Sophia dilakukan di halaman kerajaan. Penghakiman ini disaksikan oleh seluruh orang orang kerajaan. Baik itu para petinggi, pelayan, prajurit maupun budak kerajaan.


Semuanya menyaksikan penghakiman itu secara langsung.


Berbagai pandang mata tertuju pada Sophia dengan pandangan yang berbeda beda.


Baru semalam mereka mendengar kebaikan Sophia dari ana, sekarang ana menghilang dan Sophia diberi hukuman.


Mengapa kekaisaran dan orang orang penguasa ini sangat kejam


Alfonso menyaksikan penghakiman istrinya sendiri dari balkon.


Bilang lah ia pengecut. Ia tidak sanggup menyaksikan itu didepan matanya.


Sophia yang diseret dan berlutut di hadapan permaisuri mendongak bingung.


Saat dirumahnya tadi, ia sedang menyusun semua rajutan yang telah ia selesaikan kedalam bungkusannya masing masing untuk diserahkan kepada pemiliknya esok.


Karena tidak tau menulis, Sophia melukis wajah mereka satu persatu dan meletakkan diatas bungkusannya.


Tetapi, tiba tiba beberapa prajurit menyeretnya tanpa belas kasih. Bahkan teriakan Sophia diabaikan begitu saja.


Sophia dilemparkan begitu saja di hadapan permaisuri.


Sophia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tidak tau apa yang akan terjadi di depan matanya.


"mengapa semua berkumpul?" batin Sophia bertanya.


Ia menyapu pandangannya. Semua orang menatapnya dengan sendu.


Apa yang terjadi.


Sophia menelisik semua orang yang berkumpul mencari suaminya.


Tapi ia tidak menemukannya.


Melihat kebingungan wanita muda di depannya, permaisuri mulai mengeluarkan suaranya.


"Kau tau mengapa kau dihadapkan ke tempat ini?" tanya permaisuri yang duduk dengan angkuhnya


Sophia mendongak dan menggeleng


Wajah itu membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iba.


Kecuali permaisuri dan pelayan ini tentunya


"Paman pamanmu adalah penghianat dan buronan kerajaan. Mereka menghianati kaisar agung. Dan sebagai peraturan kerajaan, Seluruh keluarga penghianat harus dihukum mati" sarkas Permaisuri menatap dalam wajah Sophia.


Sophia terkejut.


"Tidak, pasti ada kesalahpahaman disini, paman tidak seperti itu" lirih Sophia membela diri.


Ctassss!!!


Cambukan mengerikan mengenai punggungnya. Semua orang tercekat termasuk seseorang yang menyaksikan dari atas sana. Tangannya terkepal menahan diri


"Jaga ucapanmu di hadapan penguasa kerajaan ini!!" ucap salah satu petugas penghakiman ini


Sophia tertunduk. Punggungnya sangat panas


Air matanya mengucur deras. Ia bingung mengapa semua orang membencinya.


"Aku tidak pernah mengganggu siapapun. Mengapa? mengapa diriku begitu sial?" pikir Sophia menahan isakannya memandang tanah tempat ia berlutut.


"Suamiku, dimana? dimana kau? mereka akan melenyapkan aku hari ini. Kemari lihatlah aku untuk terakhir kalinya" batin Sophia


"Bawa racunnya" perintah permaisuri.


Beberapa pelayan membawa mangkuk tanah liat yang berisi cairan pekat berwarna kehijauan.


"Berikan penghormatan terakhirmu kepada permaisuri dan minum racun ini" ucap petugas itu


Sophia masih setia berlutut. Pikirannya masih kemana mana.


Dengan kesabaran menipis, petugas ini memijak punggung Sophia yang membuat Sophia seketika bersujud.


Alfonso menutup mata. Menarik nafas perlahan.


Perlahan, Pelayan memberikan mangkuk itu ke tangan Sophia.


Sophia memandangi mangkuk itu. Beralih memandangi semua orang yang menontonnya.


Hati Sophia merasa sangat teriris.


"Aku lebih baik mati di tangan suamiku dari pada begini. Suamiku pasti malu memiliki istri sepertiku. Seandainya malam itu suamiku langsung melenyapkan aku, maka ini tidak akan terjadi" batin Sophia memandang sendu ke segala penjuru.


Perlahan sophia mengangkat mangkuk nya dan


"TUNGGUUUU!!!"


Bibi Ma berlari dan bersujud di samping Sophia


"Yang Mulia, ini tidak benar, Sophia tidak bersalah Yang Mulia. Dia tidak berhak menerima ini semua." Racau bibi Ma yang tadi sedang meracik racun, tetapi dikejutkan dengan pengumuman kerajaan.


Langsung saja bibi Ma berlari dan melihat Sophia sedang di hakimi.


"pelayan Ma. Kau tidak berhak menghalangi jalannya Persidangan. Pergilah. Aku menghargai mu karena kau pelayan suamiku. Jangan sampai aku membunuhmu" bentak permaisuri


"Bibi pergilah bibi, Jangan kemari" ucap Sophia yang tidak ingin bibi nya ikut menanggung hukumannya.


"TIDAK!!! Sophia bukan salah satu dari mereka Yang Mulia, aku yakin itu" tangis Bibi Ma tersedu sedu.


"Prajurit!!! Tahan dan bawa pelayan Ma" perintah Permaisuri.


"Tidak!!! Nak jangan meminum itu nak!!! Jangan tinggalkan bibi, Yang Mulia!! aku akan membawa Sophia jauh dari kerajaan aku berjanji. Lepaskan Sophia Yang Mulia!!!" teriak bibi Ma pilu


"Diamlah sialan!!" Dugg!!


Prajurit memukul tengkuk belakang bibi Ma menghilangkan kesadarannya. Kemudian mereka membawa Bibi Ma menuju dapur kerajaan.


Sophia melihat itu dengan sendu


"Semoga bibi menyukai hadiahku nanti" batin Sophia memandangi kepergian bibi Ma.


Perlahan, ia mengangkat mangkuk yang ia genggam dengan tangan gemetar.


cairan itu mulai menyentuh bibirnya.


Sophia mulai meminumnya. Menyisip sedikit demi sedikit, Ia mendongak kan kepala untuk menghabiskan cairan yang berada di dasar mangkuk.


Netranya tidak sengaja melihat pria berdiri diatas balkon.


Selesai meminum cairan itu habis, Sophia masih setia mendongak menatap lekat mata Alfonso yang menatapnya.


Sophia tersenyum. Perlahan lahan, cairan merah mulai keluar dari mulut dan hidungnya.


Racun mulai bereaksi. Tetapi pandangan Sophia tidak memutus bahkan tidak berkedip menatap suaminya.


Ia berharap Alfonso adalah orang terakhir yang ia ingat di dalam memorinya.


Perlahan lahan, mata Sophia menutup dan terjatuh.


Sophia kehilangan kesadarannya.


Semuanya hening. Air mata menetes di semua mata yang melihat ketidak berdayaan sophia.


Jelas terlihat. Tidak ada pelayan maupun prajurit yang berada di pihak Permaisuri.


Tetapi apa mau di kata? Mereka yang memiliki kuasalah yang bersikap semena mena pada mereka yang berada di bawah.


Termasuk air mata pria yang menatap dari atas sana.


Satu persatu tetesan meluncur dari pipinya.


Setelah memastikan Sophia tidak bernyawa, Pelayan pelayan yang membawa mangkuk Sophia tadi mulai bergerak menggulung dan membalut tubuh Sophia dengan anyaman, dan memasukkannya ke dalam gerobak dorong yang nantinya akan dibawa dan dibuang menuju tempat pembuangan mayat.


Berbagai doa menyertai kepergian Sophia.


#FLASHBACK END#


***


Dengan penerangan seadanya, Filips beserta Stephano dan juga Carlos, menyusuri jurang tempat pembuangan mayat ini


Mayat mayat ini mengeluarkan bau yang sangat busuk.


Banyak tumpukan mayat disini. Dengan waktu yang berbeda beda


Ada beberapa mayat yang hanya tinggal belulang, Ada yang hanya tersisa beberapa bagian tubuh, dan berbagai macam lainnya.


Jurang yang dikelilingi oleh hutan lebat ini membuat siapapun tidak ada yang berani memasukinya.


Stephano menyusuri mayat mayat ini hingga pagi menjelang.


Penerangan minim mereka berganti dengan penerangan Alami dari matahari.


Penampakan semakin jelas.


Tetapi mereka tidak menemukan Sophia


mereka terus menyusuri hingga stephano mendapati jasad wanita yang tengkurap.


Filips dan Carlos mendekat.


Mereka bisa melihat bahwa ini adalah jasad nona nya. Jasad Sophia terbukti dengan pakaian, panjang rambut, bentuk tubuh, segalanya Persis.


Ini adalah Sophia nya


Filips menepuk nepuk punggung Stephano Yang menangis.


"Maafkan kakak"


...****************...


Halo, maaf ya up nya tidak teratur,


Mau KKN😭😭🫂🤲


Like dan vote yaa, biar makin semangat💪💪


yang baca banyak, yang ngasih tanda dikit doang 😭😭😭