
Pagi hari yang masih gelap kebiruan dengan mata hari mulai menampakkan diri dengan malu, Alfonso berdiri tanpa atasan di depan jendela yang sengaja ia buka.
Alfonso melamun. Tidak bisa ia bayangkan kematian Hector yang begitu cepat.
Hector merupakan salah satu orang yang berjasa baginya.
Ia yang masih abu abu tentang segalanya, hanya bisa menghembuskan nafas perlahan.
Hal ini sangat rumit.
segala kenangan berputar di memorinya.
"Jika kita sedang berdua, kau bisa memanggilku dengan namaku. Jangan terlalu kaku seperti ayahmu"
"Alfonso, lihatlah saat aku berkunjung ke negeri sebelah, aku membeli lencana ini untukmu"
"Minumlah anak muda, kau terlihat lesu"
Kenangan kenangannya bersama kaisar berlomba lomba memenuhi pikirannya.
Sedih? tentu saja ia sedih. Tetapi ia tidak pernah tau bagaimana caranya menangis
"eenggghhhh sayaang" igauan Sophia memecah lamunan Alfonso.
Alfonso menutup jendela, kembali berbaring di sebelah kekasih hatinya, dan memeluknya.
Segala rasa berat di hati dan kepalanya, ia tangguhkan dalam pelukan hangat Sophia
"Sssstttt sayang, tidurlah" lirih Alfonso mengusap kepala sophia menaikkan selimut menutupi tubuh polosnya.
Merasa Sophia sudah tenang terlelap kembali, Alfonso perlahan menyingkirkan tangan Sophia yang melingkar.
Perlahan Alfonso beranjak tanpa membuat suara apapun.
Ia memeriksa tas barang-barang Sophia.
Mengambil mantel rajutan Sophia yang saat itu ia masukkan kedalam tas ini
Ia membuka pintu secara perlahan dan keluar dari kamar.
Netranya tidak sengaja melihat cahaya dari ruangan belajar ayahnya
Ia mendekat dan melihat Lukas yang juga melamun
Ini pasti bukan hal yang mudah juga bagi Lukas. Sebelum alfonso, Lukas merupakan panglima agung dari Hector.
Tok..tok.. tok
"Boleh aku masuk?" tnya Alfonso memecah lamunan Lukas.
"Ah ya masuklah nak, duduk disini"
Alfonso masuk tidak lupa menutup dan mengunci pintu.
"Kau pasti bingung tentang segalanya bukan? Ayah akan jelaskan"
"Saat itu, saat usiamu masih delapan tahun ayah meninggalkanmu awalnya kami hanya membantu kerajaan X untuk berperang dengan kerajaan yang lain.
Kami menetap hingga keadaan normal. Hector mengambil kerja sama dengan mereka. Melakukan proses perdagangan antara kerajaan ini dengan kerajaan X.
Kami menetap menjaga kerajaan x hingga lima tahun lamanya. Tetapi saat semuanya normal, Eros berubah tujuan ingin merebut kerajaan itu.
Kejayaan dan hasil alam yang melimpah dari kerajaan itu membuat Eros gelap mata.
Begitu juga dengan Hector. Ia mengorbankan nyawa kakaknya sendiri demi kekuasaan nya.
Hector dan Stephanus adalah saudara. Saudara beda ibu. Tidak ada yang tahu tentang hal itu. Bahkan aku saja mengetahuinya beberapa lama setelah Hector dilantik menjadi raja.
hubungan hector dan Stephanus mungkin tidak baik dulu karena perlakuan tidak adil dari ayah mereka. Tetapi Hector sangat menyayangi putra dan putri Stephanus.
Hector berkelana hingga sampai ke kerajaan ini, menjadi jenderal dengan kepintarannya, dan menikahi permaisuri atas perintah Eros.
Ia menyembunyikan faktanya bahwa ia merupakan keturunan bangsawan." ucap Lukas menerawang.
#Flashback#
"Kita menang, Lukas, Hector menantuku kita menang!! kerajaan kaya ini menjadi milik kita" girang Eros mertua Hector seraya memijak kepala raja x sesungguhnya yaitu Stephanus.
Lukas tentu saja senang. Tetapi bukan cara keji begini yang mereka inginkan
Tidak perlu menyiksa raja bijaksana itu terlalu lama. Akan lebih baik jika langsung membunuhnya saja.
brraakkk!!
Eros memijak kepala Stephanus lebih kuat
"Kau dengar? kami menang!! kau tidak boleh menyusul istrimu dahulu. Kedua anakmu akan kudidik dan kubesarkan menurut pahamku. Mereka akan menjadi mesin pengacau di kerajaan mu sendiri hahahaha payah!!" Bentak Eros
"Ja..jangan.. Aku mohon jangan.. Lepaskan kedua anakku aku mohon" Lirih Stephanus dengan nafas tersendat karena pijakan Eros beralih ke lehernya
"Ayah. Jika kau menjadi raja kerajaan ini, lalu siapa yang akan memimpin di sana?" tanya Hector seakan buta dengan kekacauan kakaknya. Ia menyembunyikan dengan rapat segalanya.
"Tentu saja putra dan putriku" sombong Eros melompat dari atas tubuh Stephanus, berjalan menuju singgasana nya.
"Kalian masukkan dia kedalam kurungan. Siksa dia. Jangan biarkan dia mati terlebih dahulu" ucap Eros arogan
"Hector kenapa kau mempermasalahkan itu? Bisa saja aku menyatukan dua kerajaan ini. Semua keputusan ada padaku" sombongnya
takk..tak..tak
langkah perlahan dan pincang seseorang masuk di pertemuan mereka.
pria berambut keriting yang semula adalah panglima Stephanus, berlutut di hadapan Eros.
"Hahahahaha bahkan panglima nya saja berhianat kepadanya. Baiklah. Kau panglima yang hebat. Kau akan menjadi milikku. Nafas dan nyawamu sekarang adalah milikku" tegas Eros arogan.
"Hah baiklah. Jadi apa nama yang cocok untuk nama kerajaan baru kita yg akan kita gabungkan" ucap Eros
"Yang Mulia. Sayang sekali jika anda menggabungkan dua kerajaan ini. Anda hanya akan mendapat satu keuntungan. Jika negara lain bekerja sama, dengan kerajaan terpisah maka anda akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat" jelas Panglima Stephanus yang telah berkhianat.
"Kau sangat pintar. Lihatlah Hector!! seperti inilah cara memilih panglima perang kerajaan. Aku menerima usulanmu. Siapa namamu?"
"Saya Carlos Yang Mulia. Panglima Carlos"
"jadi siapa yang akan memimpin kekaisaran?"
Tanya Eros berpikir
"Mengapa ayah berpikir? suamiku tentu saja penerus yang sangat pas" ucap permaisuri memasuki aula pertemuan mereka.
" Apa yang kau tawarkan kepadaku Hector jika aku menjadikanmu kaisar?" tanya Eros.
"Aku akan mematuhi segala perintahmu Yang Mulia. Kekaisaran akan tunduk kepada aturanmu. Apapun yang kau butuhkan. Pelayan? Uang? Atau pun kekayaan aku akan mengusahakannya" ucap Hector memantik rasa tidak percaya Lukas.
"Hector! apa yang kau katakan?" tanya Lukas berbisik
"Tenanglah Lukas. Kau akan mendapatkan bagian juga" ucap Hector.
"Tapi ayah, Kami belum mempunyai anak sampai sekarang. Dari pada putri kerajaan ini dibuang, akan lebih baik jika ia menjadi putriku saja" ucap Permaisuri meminta kepada ayahnya.
"Hahahahaha tentu putriku. Apapun yang kau mau. Didik anak si bodoh itu untuk menjadi arogan dan buruk. Aku akan mempertahankan nyawa Stephanus. Menyenangkan bukan jika kedua anaknya dewasa nanti, anak mereka yang akan membunuh ayahnya sendiri" ucap Eros licik
Lukas termangu
Tidak!! ini tidak bisa ia biarkan.
Selesai pertemuan, Lukas mengendap menuju penjara bawah tanah.
Bukan untuk menemui Stephanus atau yang lainnya.
Hati nuraninya bergerak menemui kedua anak Stephanus yang sedang di gendong oleh pengasuhnya. Alena.
Alena hanya bisa menangis memeluk erat sang putri yang kala itu masih sangat kecil. Ia baru berusia sekitar dua atau tiga tahun.
Disebelahnya ada pangeran Stephanus yang masih berusia 5 tahun tertidur dipaha sang pengasuh. Alena
(Ya, Alena yang saat ini menjadi istri Lukas)
Lukas melempar kaki Alena dengan batu kerikil untuk mengambil perhatiannya
"Sttttt diamlah. Kita harus keluar dari sini" Ucap Lukas.
"Tu tuan, kau... kau bersama mereka bukan" cicit Alena ketakutan karena ia melihat pria ini bersama bagian Hector sebelumnya.
"Diamlah!! Bodoh. Keluar dari sini. Selamatkan pangeran dan putri" bisik Lukas geram.
Lukas mengikis Keamanan pintu ini secara perlahan.
Ia membakar besi ini secara perlahan dengan Obor yang dia bawa, dan menggunakan kekuatannya membengkokkan besi untuk membentuk lubang yang cukup besar untuk tempat keluar ketiganya.
Panas yang menjalar di telapak tangannya, ia mengabaikannya. Itu sudah biasa baginya.
"Keluarlah dari gerbang kerajaan. Aku akan menunggu dan menyiapkan kuda disana.
Jangan sampai seseorang mengetahui pergerakanmu" perintah Lukas saat mereka Alena dan kedua penerus ini telah keluar.
Lukas bergegas keluar seolah olah tidak terjadi apa apa, memukul tengkuk penjaga diluar, agar Alena bisa keluar
.
.
.
Alena tergesa gesa.
ini sedikit menyulitkannya. Menggendong sang putri, dan memegang tangan pangeran menuntun langkah kecilnya
Akibat guncangan ini, Sang putri terbangun dan menangis.
Prajurit Eros mengejar dan mengejar untuk menangkap Alena
"Pangeran pergilah!!!! Lari lah yang kencang!! pergi ke gerbang belakang kerajaan. Paman yang tadi menunggumu" ucap Alena melepaskan pangeran dan menghadang Prajurit seorang diri seraya menggendong Sang putri.
Stephano berlari ketakutan. Ia terjatuh lalu bangkit lagi. Ia mencapai gerbang belakang dan menemukan Lukas.
"Pangeran dimana pengasuhmu? Dimana adikmu?" tanya Lukas
"hiks paman mereka ditangkap" ucap Stephano tidak jelas
"Kemari. Bersembunyi lah disini. Jangan keluar sebelum aku memanggilmu ya" ucap Lukas menyembunyikan Stephano yang ketakutan Bersembunyi dibawah tumpukan jerami yang disusun Lukas
Lukas berlari menghampiri Alena.
Ia melihat Alena sedang di eksekusi dikelilingi oleh Eros, permaisuri, dan Hector.
Putri sudah berada di gendongan Permaisuri.
"Sial!!" rutuk Lukas.
...****************...
Jangan lupa like dan vote yaa 🗿🗿