
dua bulan sudah berlalu, Keadaan kerajaan masih sama seperti hari hari biasanya.
Tidak terkecuali Puteri tidur milik Alfonso. Mata indah itu senantiasa terpejam tenang.
Sang suami, Alfonso yang tidak pernah jauh dari istrinya itu tampak sedang membaca buku di sebelah pembaringan sang istri.
"Sayang, kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kubaca ini, permaisuri ternyata menjual beberapa wilayah kecil milik ke kaisaran tanpa sepengetahuan kaisar." ucap Alfonso sembari membaca buku rahasia permaisuri yang waktu itu mereka temukan di rumah bukit. Buku ini telah mereka gandakan dengan menulis ulang untuk berjaga jaga jika permaisuri menemukan buku itu dan menghancurkan nya.
tok..tok..tok
"masuklah, pintunya tidak dikunci" ucap Alfonso dari dalam kamar
Terlihat beberapa pelayan dan tabib kerajaan ingin memeriksa Sophia dengan membawa beberapa perkakas.
"Apa ini sudah waktunya terapi?" tanya Alfonso
"Iya Pangeran, Saya ingin pergi selama beberapa hari besok atas perintah Yang Mulia Stephano, ada tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat di kaki gunung negara A. Karena Puteri Sophia tidak bisa pergi, maka saya diutus Yang Mulia untuk membawa dan meracik tanaman itu Pangeran. Jadi saya sengaja memajukan jadwal terapi Puteri Sophia" ucap tabib menjelaskan
Pangeran? Ya beberapa Minggu lalu, Alfonso telah dilantik menjadi pangeran kerajaan ini.
Tentu saja Alfonso menolak. Tetapi sang Ayah yang mengancam akan membawa Sophia untuk berobat ke negeri seberang dengan tidak mengikut sertakan Alfonso, membuat Alfonso tidak bisa berkata kata. Bagaimana pun, Stephanus juga memiliki hak atas Sophia bukan?
"Huh baiklah tabib, tetapi kau harus mengajariku tentang pemakaian obat obat dan herbal yang kau tinggalkan ini ya, aku tidak ingin ada kesalahan pada pengobatan istriku" jelas Alfonso yang sebenarnya tidak menyukai gelar pangeran itu
*
*
*
BRAAKKK
"PANGERAN? SEKARANG DIA MENJADI PANGERAN?" bentak permaisuri setelah mendengar kabar dari mata mata yang ia perintahkan untuk memantau perekonomian pasar kerajaan X
"Iya Yang Mulia, kabar itu sangat hangat dibicarakan di lingkungan pasar. Semua orang membicarakan itu Yang Mulia. Pelantikan nya sudah beberapa Minggu lalu, tetapi kabar itu masih panas hingga sekarang. Bahwa panglima perang kekaisaran kini menjadi pangeran di kerajaan. Masyarakat mereka sangat antusias Yang Mulia" ucap mata mata permaisuri dengan gemetar
"Lalu bagaimana dengan Puteri sialan itu ha? Kabar apa yang kau dengar dari kerajaan" tanya permaisuri yang hingga sekarang entah mengapa sangat membenci Sophia. Ia menganggap Sophia lah yang membuat salah satu kebanggaan kerajaannya mengundurkan diri.
"Tidak ada kabar mengenai Puteri Sophia Yang Mulia, Kerajaan sangat menutup rapat berita sekecil apapun tentang Puteri"
"Kau cari informasi sekecil apapun. Jangan hanya menata matai keadaan pasar. Bawa beberapa orang bersamamu, dan mulailah mencari informasi yang lebih luas" perintah permaisuri
"Baik Yang Mulia" ucap nya mengundurkan diri
"Yang Mulia, bagaimana ini, rakyat mulai memberontak karena perputaran ekonomi yang tidak stabil. Beberapa kerajaan menolak hasil pertanian mereka Yang Mulia. Mereka menuntut untuk kekaisaran menurunkan pajak Yang Mulia" lapor Bastian menemui permaisuri setelah sebelumnya Bastian berdiri bersembunyi di balik pintu mendengar perintah licik permaisuri kepada Mata mata nya.
"Lalu apa yang mereka mau Ha? Sialan!!!! Katakan kepada mereka cari tempat tinggal mereka yang lain!!! siapapun yang tidak bisa membayar pajak, usir mereka dari rumahnya" ucap permaisuri kejam.
Permaisuri melangkahkan kakinya kasar duduk di singgasananya.
Tetapi, diam diam Bastian tersenyum tipis melihat kekacauan ini.
Inilah yang ia dan Alfonso inginkan. Semakin banyak rakyat yang pindah dari kekaisaran ini, semakin mudah menginvasi tempat ini.
"Lalu apa yang saya lakukan tentang negara A yang meminta pemutusan kerja sama Yang Mulia, bagaimana dengan pasokan daging sapi yang terus bertambah, kita mengirim nya kemana lagi Yang Mulia" tanya Bastian
"Kau selalu bertanya!!! Apa kau tidak bisa bekerja seperti Alfonso Haaaa!!" bentak permaisuri
"Maaf Yang Mulia, Tetapi saya hanya panglima perang. Saya hanya mahir berperang, akan tetapi Yang Mulia memberikan segala tugas kepada saya. Saya pikir akan lebih baik jika Yang Mulia memberikan tugas ini kepada Jenderal pajak dan perekonomian Yang Mulia" jelas Bastian semakin memancing
"Kau tau bukan? mereka tidak bisa diharapkan sama sekali. Kau tau juga bukan, aku membiarkan mereka menetap pada posisi itu karena mereka berada di pihak ku. Dengan kebodohan mereka, Mustahil mereka bisa membocorkan segala rahasiaku" ucap permaisuri yang nyatanya sama bodohnya
Bastian terdiam. Wanita ini sangat licik dan bodoh
"Hei, kau tidak akan seperti itu bukan?" tanya permaisuri
"Bagaimana bisa Yang Mulia berpikiran seperti itu Yang Mulia, saya setia di pihak mu. Bukankah saya membantu setiap rencanamu Yang Mulia? Keuntungan kita dari setiap negosiasi bukankah dua kali lebih besar? dan saya tidak pernah meminta itu sepeserpun kepadamu Yang Mulia, tidak seperti jenderal mu yang lain" ucap Bastian menyenangkan permaisuri tamak ini
"Hahahaha, baiklah baiklah. Untuk dua hari kedepan, aku memberikan mu libur. Pergilah bersenang senang dengan para gadis gadis di pasar." ucap Permaisuri yang berhasil di kelabui oleh Bastian
Bastian mengundurkan diri usai mengucap terimakasih dan memberi hormat
"Tunggu saja kehancuran mu bodoh" umpat Bastian dalam hati
"Ah aku harus melakukan penyamaran lebih ketat untuk bisa pergi ke dalam kerajaan. Permaisuri menambah jumlah mata mata nya" batin Bastian yang ingin memberikan informasi dan berdiskusi kepada Alfonso.
*
*
*
"Kakak, kapan kita bisa memulai invasi kekaisaran kak? Bukankah semua bukti kita sudah cukup? mengapa buku daftar dosa permaisuri itu belum juga kalian gunakan? cepatlah sebarkan kepada masyarakat nya kak" tanya stephano memasuki kamar alfonso
"siapa yang mengatakan kita belum menggunakan itu Stephano? Kita sudah menggunakannya untuk mempengaruhi kerajaan dan negara negara lain bukan?"
"Tapi kak, akan lebih cepat jika kita menyebarkan itu kepada masyarakatnya. Mereka akan segera meninggalkan kekaisaran itu." keluh stephano yang seperti biasa selalu tergesa gesa
"Kau sudah membuat tempat tinggal untuk masyarakat yang datang? Tempat tinggal yang kita sediakan hanya tinggal beberapa lagi Stephano. Sediakan tempat tinggal yang banyak dahulu agar jika kita menyebarkan dosa permaisuri ini, lonjakan penduduk mereka yang banyak itu akan memiliki tempat tinggal jika mereka pindah ke kerajaan ini" ucap Alfonso yang telah memikirkan ini dengan matang
Ya, setiap warga yang tidak bisa membayar pajak akan diusir oleh permaisuri, Kemana mereka akan pergi? sebagian besar dari mereka akan pergi untuk menetap di kerajaan X. Tentu saja kerajaan Stephano itu dengan senang hati menerimanya mengingat penduduk kerajaan X bisa dibilang sedikit.
"Pangeran, Yang Mulia, Tuan Bastian datang" lapor pelayan stephano mengetuk kamar
...****************...