
Alfonso dan Stephano berlari mengendap menuju kamar rahasia yang Alfonso lihat saat itu.
Tak!!Tak!!Tak!! Palu besar itu menghantam pengaman pengaman pintu yang sangat kuat
Setelah merusak seluruh pengamanan pintu, Alfonso dan Stephano memasuki kamar rahasia ini
Kegelapan menyambut netra mereka. Bau amis dan bangkai langsung terasa menyengat.
Cetakk!!!
Stephano menyalakan penerang yang ia bawa Dari jalan pintas bawah tanah tadi.
Netra mereka membola disuguhi pemandangan mengerikan.
Bangkai kepala manusia tergantung tercecer dimana mana.
Diantara kepala ini terdapat beberapa kepala prajurit dan pelayan yang Alfonso kirim lebih awal.
Jantungnya memanas. Rencana dan perhitungannya yang terlalu tergesa gesa menyebabkan kematian banyak orang.
Lamunannya tersentak kala mendengar teriakan Stephano yang nyatanya telah menyusuri ruangan ini lebih dulu meninggalkan Alfonso melamun.
"Ayahhh!!!!" teriak Stephano
Alfonso berlari menuju balik lemari.
ia mendapati 2 pria meringkuk tidak sadarkan diri.
Alfonso berjongkok di hadapan Stephano yang memangku kepala ayahnya.
Raja yang adil nan bijaksana dahulu sekarang terlihat kurus. Seperti tulang yang hanya dibalut oleh kulit. Bekas cambukan dan luka dimana mana.
Eros pasti telah berbuat keji kepada nya.
Alfonso menyentuh leher merasakan denyut nadi yang sangat lemah
"Stephano, ayahmu masih hidup. Ayo cepat angkat dia. Kita bawa melalui jalan pintas bawah tanah, Menuju kekaisaran Hector" desak Alfonso memecah tangisan Stephano yang kalap.
Stephano segera mengangkat tubuh lemah ayahnya ke punggungnya.
Langkah Alfonso terhenti melihat kebelakang. Alfonso terduduk di hadapan pria yang tadi berbaring di sebelah ayah Stephano.
Alfonso membalikkan badannya dan terkejut melihat bahwa ini adalah Bastian.
Terdapat goresan pedang yang cukup dalam pada pipi kanan Bastian.
Luka di sekujur tubuh dan darah menghiasi jubah putihnya.
"Kakak!! Cepatlah!!" teriak Stephano dari luar
Alfonso segera mengangkat tubuh Bastian di punggungnya dan berlari menyusul Stephano.
Sesampai di jalan pintas, teriakan Filips menghentikan mereka.
"Tuan, Kaisar berhasil melemahkan Eros. Kaisar meminta Pangeran Stephano untuk segera membunuh Eros." susul Filips.
"Tidak bisa, aku harus membawa ayahku" ucap Stephano ingin melanjutkan langkah.
"Stephano. Kemari lah berikan ayahmu kepada Filips. Jangan khawatir aku akan memastikannya baik baik saja. Tinggal lah disini. Amankan singgasanamu. Kembalikan kejayaan kerajaanmu. Aku akan memastikan keselamatan ayahmu. Jika keadaan kerajaan mu sudah aman dan normal, jemputlah ayahmu" ucap Alfonso memberi pengertian.
Stephano berfikir sejenak, dan memberi ayahnya kepada Filips.
"Terimakasih. Tunggulah, aku akan mengembalikan kejayaanmu Ayah, aku akan menjemput adikku. Aku tau dia dimana, Dia bersama seseorang yang terpercaya dan menyayanginya. Dia aman bersama seseorang" gumam Filips memandangi langkah Alfonso dan Filips yang menjauh.
Filips yang ingin mengatakan sesuatu, ragu. Menutup mulutnya kembali, Ia merasa akan mengatakannya nanti. Ada dua nyawa berharga di dalam gendongan mereka.
Lorong sepi dan sangat panjang ini, Menghiasi jalan Alfonso dan Filips.
***
Para pengawal Eros sudah terkapar disini. Sangat mengenaskan. Bola mata keluar, Organ dalam berceceran, Sudah bisa Stephano rasakan bahwa ini hasil kerja tangan Filips yang ia pelajari selama ini sangat brutal.
Membuka pintu, melihat Hector tengkurap di sebelah Eros yang terduduk berlutut diam mematung.
Entah apa yang terjadi pada mereka berdua.
Ia mengambil pedang nya. Tangannya gemetar dengan mata memerah menyeret pedang menghasilkan bunyi goresan dari pedang dan lantai.
Berdiri tegap di hadapan Eros. Eros mendongak tersenyum dengan mulut yang penuh darah ini
"Kau Muda dan tampan. Persis seperti ayahmu. Aku dan Hector telah menebus dosa kami. Lakukan lah apapun yang ingin kau lakukan" ucap Eros dengan teduh memandang wajah perkasa ini.
Stephano tidak luluh begitu saja. Ia mengangkat pedang, Mengayunkan dengan cepat.
Matanya menggigil. Kilasan kebahagiaan nya, orang tuanya, kejayaan kerajaannya, berputar di otaknya.
"Sayang, lakukan lah apapun yang membuat mu tenang dan lega. Aku selalu mendukungmu" Suara wanita yang dicintainya berdengung di telinganya.
Stephano memejamkan mata, mengangkat tangan dan
Cetaassss!!!
Selesai. Segalanya selesai. Dendamnya terbalaskan.
Ia terduduk lesu di sebelah kepala Eros yang sudah terpisah.
Segalanya hening. Ada perasaan lega pada dirinya.
Akan tetapi, Ada perasaan hilang dan gelisah
"Lalu sekarang apa?" bisikan aneh datang ke kepalanya.
Bisikan aneh itu segera ia tepis menyeret lutut gemetarnya mendekati Hector.
"Paman!! Paman bangunlah paman!!" ucap Filips menepuk pipi Hector.
"Paman!!! Apa yang terjadi? Bangunlah!!!" teriak Alfonso berubah menjadi panik meneteskan air mata.
Tidak ada tanda tanda kehidupan dari kebiruan wajah Hector dan darah segar yang mengalir.
"Mereka berdua telah tiada. Mereka menebus dosa mereka"
Stephano menoleh mendapati pria paruh baya berambut keriting mendekati mereka.
"Keluarlah panglima sebelum aku melenyapkanmu" ucap Stephano bengis.
"Pamanmu telah tiada nak"
"Keluar!!!! Kau sama saja dengan mereka. Bahkan kau menghianati ayahku!!!" teriak Stephano
Ya, panglima kerajaan x ini dahulu merupakan panglima dari ayah Stephano.
"Maafkan aku Pangeran. Tetapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk tetap berusaha mengamankan rakyatmu. Kerajaanmu. Aku menunggu kedatanganmu." lirih Panglima
"Jika saja aku menyerah, kalah, maka kerajaan ini akan habis pangeran. Jadi aku terpaksa memasang dua muka di hadapan Eros" lanjutnya menyendu
"Lalu apa? Ha? segalanya telah usai. Aku kehilangan segalanya." tangis Stephano pilu memangku kepala Pamannya yang membiru.
"Makamkan pamanmu. Tata kembali kerajaanmu. Singgasana kaisar Hector sedang kosong. Tiada penerus, Kau bisa mengambil alih, menyatukan dua kerajaan. Kau mau adikmu terancam kelaparan di sana hmm?" tanya Panglima mengelus kepala anak muda yang dulu suka bermain bersamanya.
"Paman, kau.. kau"
"Ya, aku tau. Istri dari Panglima Alfonso adalah adikmu. Putri kerajaan kita yang berharga."
...****************...