
Amora terbangun dalam dekapan seorang pria. Siapa lagi jika bukan Vano.
Tidak ada yang terjadi malam itu. Vano menolak Amora mentah mentah di tengah ledakan nafsunya.
Amora yang sedang dikuasai nafsu itu, marah dan mengancam Vano. Tetapi Vano tetap saja tidak perduli dan menolak Amora.
Jalan akhirnya, Amora merengek meminta Vano menemaninya tidur menjadi guling bagi Amora.
Setelah bersiap siap, Amora dan Vano memakai pakaian samaran, melompati jendela dan berjalan keluar.
Vano mengikuti Amora berjalan dihadapannya menuju jalan pintas milik kakek nya.
Jalan pintas itu adalah penghubung antara kekaisaran Hector dan kerajaan X milik kakek Amora.
Jalan itu dibangun atas kejadian datangnya penyusup dari kerajaan X yang ingin menculik anak laki laki yang dicurigai sebagai Alfonso.
Saat selesai peperangan, jalan pintas itu tidak ditutup dan digunakan sebagai jalan masuk rahasia bagi permaisuri, Hector, maupun Ayah permaisuri agar bebas mengunjungi kediaman keduanya tanpa diketahui orang banyak.
Amora menggeser lemari kayu yang dibaliknya terdapat pintu yang menuju ke jalan bawah tanah.
"Lihatlah Vano, ini sangat luar biasa bukan? Ayo kita masuk, Ada banyak pajangan indah didalam" ucap Amora dengan otak dangkal yang hanya diisi oleh nafsu itu
Tentu saja Vano mengikuti Amora masuk
"Kemana jalan ini?" tanya Vano
"Jalan ini menuju kerajaan kakekku Vano, kerajaan X" ucap Amora
Vano terkejut matanya membola dengan rahang mengeras.
"Tetapi kita tidak bisa kesana. Nanti kakek bertanya mengapa aku membawa orang asing" jawab Amora lanjut melangkahkan kaki.
"Ini pintu tangga menuju kemana?" tanya Vano melihat tangga beberapa meter dari tempat masuk mereka tadi.
"ini tangga menuju halaman kediaman petinggi kerajaan. Biasanya saat Ayah membutuhkan petinggi kerajaan berdiskusi secara rahasia, Ayah akan melewati ini" ucap Amora
"Kalau begitu aku lewat dari sini saja setiap hari menuju kamarmu. Sangat menakutkan melewati penjagaan istana inti. Aku harus memanjat atap untuk bisa kemamarmu putri" ucap Vano memancing
"Boleh saja, tetapi kau harus berhati hati, jangan ada yang melihatmu masuk kesini mengerti?"
***
Mulai saat itu, Vano kerap datang dan menginap di tempat putri Amora. Jika ada orang yang datang, maka Vano hanya akan keluar dari pagar, memanjat atap, dan kembali kedalam kamar Amora.
Begitulah hingga berhari hari.
Amora yang bodoh menjawab dan memberitahu segala informasi tentang kerajaan.
Amora menganggap bahwa Vano merupakan teman baik yang tulus menemaninya.
Vano memberi warna tersendiri bagi Amora.
Melihat cara Vano yang selalu menolak saat Amora memancingnya, memantik rasa hangat dalam hati Amora bahwa ada yang tulus berteman dengannya bukan karena tubuh menggodanya.
Takut kehilangan teman seperti Vano, membuat Amora menceritakan dan memberikan apapun yang dibutuhkan oleh Vano.
Kekurangan kasih sayang membuatnya sangat mempertahankan Vano disisinya.
Setiap malam, Vano hanya bisa menahan na*sunya dengan pancingan yang diberikan oleh Amora.
Bukan tidak tergoda, tapi pikiran warasnya masih mendukungnya untuk melakukan itu bersama istri yang dicintainya nanti.
walaupun ada beberapa kali Vano mabuk dengan belaian Amora, hingga terjadi beberapa adegan pemanasan, tetapi Vano cukup waras untuk tidak melanjutkan ke kegiatan inti.
Vano yang risih dengan sikap arogan dan brutal Amora, perlahan lahan mengubah dan menasehati Amora agar memperbaiki sifatnya.
Karena takut kehilangan, tentu saja Amora menerima nya dengan senang hati.
Perlahan lahan, ucapan kasar dan tingkah Brutal Amora berubah sedikit demi sedikit.
(walaupun niat Vano jahat setidaknya ada hal positif yang ditinggalkan Vano๐๐)
***
Hari berlanjut, Filips menemui Alfonso
" Tuan, aku mendapat beberapa info tentang pria simpanan putri Amora"