IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 65. MELEPAS RINDU


ucapan Alfonso terpotong melihat sang pujaan hati keluar dari kamarnya dengan memakai jubah tidurnya. Seraya mengucek matanya belum menyadari kehadiran suaminya


"Ibuu, aku lapar" lirih Sophia berjalan dengan mata hampir tertutup.


Melihat itu Lukas segera memberi kode kepada Alfonso untuk melanjutkan penjelasan mereka esok hari


Filips beranjak mengikuti Lukas yang menunjukkan kamar tempat pembaringannya.


Begitupun dengan Alena beranjak menuju kamarnya meninggalkan putranya yang pasti merindukan sang istri yang kini tertidur berdiri sambil bergumam kecil bersandar pada tembok rumah.


Alfonso bangkit mendekati wanita pujaannya. Mengecup kedua mata Sophia lembut seraya menahan bahu sophia agar tetap bediri tegak.


"Bangunlah sayang ini aku. Ayo kita makan aku akan memasak untukmu" bisik alfonso yang membuat Sophia seketika melebarkan mata


"Sayang!! Kau datang ke mimpiku? Doaku terkabul juga akhirnya" ucap Sophia mendongak memandang Alfonso dengan mata memerah menahan ngantuk


Alfonso menyendu mendengar itu. Apa Sophia sangat merindukannya sehingga untuk menemuinya saja harus berdoa untuk bertemu walaupun dalam mimpi?


"Sayang ini aku!! Lihat Aku bukan mimpi" ucap Alfonso memegang tangan Sophia yang beberapa Minggu ini tidak dapat ia rasakan, mengarahkan tangan Sophia menangkup kedua pipinya.


Sophia terkejut. Langsng saja mata indah itu memanas, Mengeluarkan cairan


"Kau.. sayang kau.. Kau pulang juga akhirnya. Kupikir..kupikir.. kau sudah...." lirih Sophia sendu dengan suara serak menahan raungan tangis nya yang luar biasa.


"Ssstttt tenang lah hmm? Aku disini bersamamu" ucap Alfonso menyatukan kening mereka menghapus air mata sang istri.


Lama Sophia memejamkan mata menghirup aroma sang suami yang menyejukkan hati dan pikirannya


"Masih lapar hmm?" tanya alfonso memeluk, menaikkan kaki Sophia melingkari pinggangnya, menggendong seperti biasa


Sophia menggeleng menenggelamkan kepala dalam ceruk leher tegas sang suami, melingkarkan tangan nya memeluk leher Alfonso.


"Aku tidak lapar. Aku ingin tidur memelukmu lagi" lirih Sophia


"Jangan memancingku kalau begitu. Aku lelah hari ini sayang" ucap Alfonso mengantisipasi kejahilan polos Sophia yang tidak menyadari bahwa hal itu akan menyiksa Alfonso.


Alfonso berjalan menuju kamar nya. Kamar yang dulu ia habiskan untuk tumbuh besar seorang diri.


Beban pikirannya yang menggunung tidak pernah ia tampakkan di hadapan sang penguasa hatinya ini.


Alfonso menurunkan Sophia di atas pembaringannya.


Dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sophia duduk bersila diatas kasur menguap beberapa kali menunggu sang suami membersihkan badannya.


"Mengapa lama sekali" cicit Sophia setelah melihat suaminya keluar dari kamar mandi


"Mengapa tidak memakai baju?" tanya Sophia serak melihat Alfonso keluar kamar mandi tidak menggunakan atasan


"Pakaian ku masih tertinggal disana sayang. Tidak ada pakaian ku disini" ucap Alfonso mendekati pembaringan


"Nahh kemari. Naiklah!!" ucap Alfonso menepuk dadanya setelah berbaring di atas kasurnya.


Sophia menuruti ajakan sang suami.


"Sayang tidak bisakah besok kita pulang kerumah?" tanya Sophia mendongak


"Hmm? kenapa? kau tidak suka disini?" tanya Alfonso lembut memandang wajah teduh Sophia


"Aku suka. Tetapi, aku lebih suka berdua di rumah kita."


"Memangnya apa yang ingin kau lakukan jika berdua dirumah?" pancing Alfonso jahil. Ia yang memperingatkan Sophia agar tidak memancingnya, kini ia sendiri yang memancing Sophia


"Banyak sayang. Aku bisa mengerjakan apapun. Aku bisa memasak, membereskan rumah, bisa mencuci, bisa semuanya. Disini ibu tidak membiarkan aku melakukan apapun. Ibu hanya menyuruhku tidur dan makan terus." ucap Sophia yang tidak terpancing


Alfonso tersenyum tipis.


"Sangat susah menebak pikiranmu" batin Alfonso


"Bukankah itu bagus? Kau tidak perlu mengerjakan apapun" jawab Alfonso


"Tidak, bukan begitu sayang. Itu tidak bagus. Paman bilang tidak bagus bagi perempuan berdiam diri dan bertahan dengan kemalasannya dengan tidak mengerjakan apa apa" jawab Sophia menggambar abstrak pada dada Alfonso


"Mengapa kau selalu mengatakan paman hmm? dimana orang tuamu?" pancing alfonso melembutkan intonasi suara.


Biasanya bahasan ini adalah bahasan yang sensitif bagi Sophia


"Apa kau akan marah jika aku tidak tau orang tua ku ada dimana? Aku tidak tau mencari kemana. Paman membiarkan aku keluar, menyuruhku untuk mencari orang tuaku." sendu Sophia


Inilah yang di khawatirkan Alfonso setiap membahas hal ini.


Wajah sendu itu membuatnya sesak.


Sophia hanya mengangguk tidak mengeluarkan suara apapun


"Jadi apa karena itu kau berada di hutan sendirian?" tanya Alfonso


"Malam itu, paman menyuruhku pergi. Dia bilang aku harus menemukan keluargaku sendiri baru bisa menemuinya lagi. Kata paman dunia luar sangat luar biasa. Tetapi baru beberapa langkah aku keluar rumah, Aku sudah dirampok" polos Sophia menjelaskan


Dahi Alfonso mengerut


"Bagaimana bisa seorang paman mengusir keponakan wanita nya keluar ditengah malam di hutan seorang diri" batin Alfonso merasa ada yang aneh


".....Begitulah lalu aku bertemu denganmu." lanjut Sophia bercerita memecah lamunan alfonso


"Baiklah kita akan mencari keluargamu nanti hmmm? Setelah kerajaan aman" ucap Alfonso meyakinkan istrinya


"Sayang, kau sangat hangat" ucap Sophia menempelkan pipi di dada Alfonso


"Sayang, Aku ingin membuka baju juga. Biar lebih hangat berpelukan seperti ini" lanjut Sophia gamblang


"Sudah kuduga" batin Alfonso. Pasti wanita ini akan memancingnya dengan otak abstraknya.


"Tidak bisa! sudah kukatakan bukan jangan memancingku" tegas Alfonso


"aku tidak memancingmu. Hanya bertanya saja . Jika tidak mau juga tidak apa apa" ucap Sophia gampang


.


.


.


Baru beberapa menit memejamkan mata, Sophia terusik. Ada benda basah yang menjelajahi dadanya.


perlahan ia membuka mata. Mendapati bunjulan kepala diatasnya sedang menikmati makanan tengah malam nya.


Terbukti. Alfonso yang pasti tidak tahan mengabaikan si molek ini.


Tangan Alfonso menjelajah bergerak menuju bawah.


Sophia memejamkan mata menikmati pijatan di kedua area nya.


"Sayaanghhh" ucap Alfonso mengabut mendongak kala merasakan kaki Sophia merapat tidak memberi akses bagi tangan Alfonso untuk menari lebih cepat.


"Jangan bermain seperti itu" ucap Sophia terengah. Kecepatan tangan Alfonso tidak dapat diragukan lagi.


Alfonso mengambil posisi, Memulai memasukkan tamu kesukaan Sophia menuju pintu masuk.


"ennnnggghhhh" Geraman Sophia tertahan saat tangan Alfonso menutup mulutnya


"Suaramu sssstttt sayang. Banyak orang dirumah ini" ucap Alfonso tersendat akan jepitan kuat Sophia


Alfonso mulai bergerak perlahan. Hal ini sangat menyiksa Sophia.


Bagaimana dengan kenikmatan ini ia tidak mengeluarkan suara?


Sophia frustasi merengek.


"Jangan seperti itu, jangan begitu, tanganmu, sayang jangan terlalu perlahan, sayang itu sangat cepat" serba salah. Alfonso bingung.


"Mengapa semua tidak boleh sayang?" tanya Alfonso berhenti bergerak.


"Eengghhh tidak tauuu, aku aku aku, bukan begini" rengek Sophia tidak jelas


Alfonso paham. Saat dirumah, suara Sophia bisa bebas mengisi ruang.


Hal itu tidak bisa dilakukan di sini. Itulah yang membuat Sophia frustasi.


"Kita tidur saja hmm?" tanya Alfonso menahan hasratnya demi kenyamanan si jelita ini


"Is kau ini" kesal Sophia membalikkan posisi.


Sophia berada di atas.


Mulai bergerak sesuai yang diajarkan. Alfonso selama ini.


Decitan ranjang, Dinginnya malam, Desa*an tertahan, menjadi penghias kegelapan malam.


"Aku mencintaimu sophiaaahh"


...****************...