
Hari keberangkatan Alfonso dan Keluarga yang dipulangkan Hector tiba.
"Jangan keluar sendirian! Jangan berkeliaran sendiri tanpa bibi Ma. Kau hanya bisa keluar dengan bibi Ma. Mengerti?" tanya Alfonso menepuk kepala istri kecilnya
" Iya iya sayang, Pergilah mereka sudah menunggumu" ucap Sophia riang
"Kau sama sekali tidak sedih, sepertinya kau ingin secepatnya aku pergi" kesal Alfonso.
"Ah bukan begitu, baiklah baiklah. Pulang dengan selamat suamiku, aku menunggumu" Ucap Sophia mengecup singkat bibir Alfonso yang tersemu.
"ekhem baiklah. Bibi!" ucap Alfonso
Bibi Ma yang mengetahui kode itu langsung mengangguk
***
Disepanjang perjalanan, Alfonso dan Filips serta prajurit lain hanya mendengar racauan kekesalan Kakak permaisuri.
Ia sama sekali tidak terima dengan keputusan Kaisar.
Sebenarnya Raja Eros mewariskan tahta Kerajaan nya kepada putra pertamanya.
Tetapi, kakak permaisuri lebih suka tinggal di kekaisaran Hector. Ia tidak perlu bekerja, tidak perlu susah berpikir. Karena seluruh biaya hidupnya sudah dibiayai oleh Permaisuri tanpa harus repot menjadi seorang raja.
"Mereka pikir mereka siapa, Hector tidak akan bisa menjadi kaisar jika bukan karena adikku dan ayahku. Ia hanya pria biasa" ucap kakak laki laki permaisuri bersungut-sungut
"Kak sudahlah, telingaku panas mendengar suara mu. Sudah terjadi, belajarlah mengelola kerajaan ayah" ucap adik Permaisuri
Alfonso dan rombongannya hanya diam menggeleng melihat kosongnya tata Krama anak anak Eros.
"Kau tidak melihat tatapan para warga tadi di pasar? mereka mencemooh kita. Ini lah tujuan Hector agar satu kota bahkan desa tau bahwa kita sudah diusir" ucap Kakak permaisuri melanjutkan debat tidak berujung ini.
***
"Bibi, selama di sini, aku tidak ingin keluar terlalu sering bibi, aku ingin belajar menyulam dan menjahit bibi. Aku ingin membuat pakaian yang banyak untuk suamiku" ucap Sophia riang.
"Kita beli bahan dulu kalau begitu di pasar nak"
"Ayo Ayo Bibi. Suamiku memberikan uang yang banyak tadi. Lihatlah bibi apa ini cukup?"
"Sayang ini sangat banyak. Simpanlah uang nya. Bibi yang akan membelikan mu"
"Mengapa bibi? ini saja, Suamiku telah menyiapkan semuanya."
"Kau sudah bibi anggap seperti putri bibi sendiri. Simpanlah sayang, banyak yang akan kita beli lagi nanti"
"Baiklah bibi, katakan saja ya apa yang perlu dibeli lagi"
"ayo nak"
"Sebentar bibi. Aku ingin memakai pakaian seperti itu bibi"
"Nak, ini pakaian pelayan. Kau istri petinggi kerajaan. Tidak bisa Sophia"
"Bibi, akan mencolok sekali nanti aku pergi dengan pakaian seperti ini. Suamiku tidak suka jika orang orang memandangku" ucap Sophia
"Baiklah. Jika suamimu marah, kau yang berbicara ya"
"siap bibi"
"Bibi apa warna ini cocok untuk suamiku? Aku rasa bahannya juga sangat halus. Aku ambil bahan yang ini satu ya bibi" ucap Sophia setelah berkeliling pasar mencari bahan kain pembuatan baju Alfonso.
"baiklah, aku rasa ini juga cocok, suamiku akan..."
"Hey budak rendahan? sedang apa kau disini? kau bahkan memakai pakaian pelayan. Jangan menyentuh itu udik. Kain ini hanya untuk anggota kerajaan" ucapan Sophia terpotong akibat makian dari wanita muda yang melintas disebelahnya.
Sophia mengamati wajah ini. Ya wajah ini adalah putri dari pasangan tua yang menyerahkan Sophia pada saat pengambilan budak kerajaan.
"Bibi, ayo kita pergi saja" ucap Sophia
"Kalian tau? dia adalah seorang budak rendahan. Ibuku yang menyerahkan nya kepada panglima yang tampan itu. Bahkan dia dengan tidak tau malu nya makan dan tidur di rumahku dalam beberapa hari" ucap wanita muda itu kepada teman temannya dengan intonasi yang kuat memantik perhatian beberapa orang
"Hey nak apa benar begitu? bagaimana bisa kau keluar masuk kerajaan begitu saja?"
"itu benar, budak yang selama ini dibawa tidak ada orang yang mengetahui kabarnya. Mereka hilang ditelan dinding dinding kerajaan"
"Dia seorang budak? bagaimana bisa budak secantik itu?"
bisik bisik warga membuat Sophia takut. Doktrin kuat Alfonso yang mengatakan bahwa Sophia tidak boleh menjadi perhatian banyak orang membuat Sophia gemetar ketakutan.
"bibi aku ingin pergi aku ingin pergi bibi" lirih Sophia dengan mata memanas.
"Baiklah sebentar ya sayang, Ibu, kami membeli empat bahan ini saja beserta peralatan yang tadi" ucap Bibi kepada pedagang itu
Setelah melakukan transaksi, bibi Ma menuntun Sophia berjalan menjauhi keramaian.
Bibi Ma ingin melawan wanita itu tetapi melihat kondisi Sophia, ia rasa Sophia lebih pantas mendapat perlakuannya saat ini. Biarlah nanti ia akan melaporkan segalanya kepada Panglima.
"Sayang, sudah tidak apa apa nak. Angkat lah kepalamu lihat kita sudah hampir sampai gerbang. Kita aman" hibur Bibi Ma.
"Terimakasih bibi, Maaf aku merepotkan dan membuat bibi malu" ucap Sophia merasa tidak enak.
"Harusnya kau katakan kepada bibi nak, kau tidak suka keramaian. Kita bisa pergi dengan penutup wajah kalau begitu" ucap Bibi Ma.
"Setiap suamiku membawaku, ia juga memakaikan penutup wajah kepadaku bibi"
"Benarkah? ah mungkin bibi yang salah tidak bertanya pada Panglima terlebih dahulu"
"Eh tidak bibi tidak apa apa, ini bukan salah bibi. Ini salah suamiku tidak memberitahu bibi hehe" racau Sophia menghibur Bibi Ma.
"Baiklah kau ingin beristirahat dulu? kita akan mengerjakan ini besok pagi. Ini sudah petang. Bibi akan memeriksa hasil kerja beberapa pelayan dulu. Kau mandi dan beristirahatlah nak, Bibi akan memanggilmu untuk makan malam nanti"
"Baiklah bibi. Terimakasih"
***
"Maaf kaisar, tetapi ada seorang wanita muda yang mengganggu nona dipasar tadi. ia juga mengatakan hal aneh bahwa ibunya menyerahkan Sophia. Aku tidak tau apa maksudnya" ucap Bibi Ma melapor kejanggalan yang ia rasakan kepada kaisar
"Jadi apa maksudmu bahwa yang menyerahkan Sophia saat itu bukan ibunya?" tanya kaisar memastikan
"Benar kaisar. Aku pikir itu bukan ibu Sophia"
"Lalu pasti ada kemungkinan bahwa Sophia memang keturunannya bukan? mereka memiliki mata yang sama Pelayan Ma" yakin Kaisar dengan kecurigaannya
"Saya juga berpikir begitu Yang Mulia. Ada kemungkinan"
"Kau selidiki lagi lebih lanjut. Jangan beritahu Alfonso dulu. Di saat semuanya sudah jelas, Aku sendiri yang akan memberitahunya"
"Baik Yang Mulia"