IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 69. FOKUS STEPHANO


Stephanus mulai menata kembali kerajaannya.


Setelah membuang abu Eros ke perairan, Ia memerintahkan Carlos untuk mengumumkan kedatangannya kepada masyarakatnya.


Sedang terjadi pembersihan sisa sisa perang disini.


Prajurit Alfonso yang masih bertahan, Ia rawat dan obati terlebih dahulu, dan akan ia mengembalikan mereka menuju kekaisaran dengan hormat.


Masalah pengambilan alih kekaisaran, ia belum memikirkannya. Stephano masih fokus menata kembali kerajaannya.


Memilih petinggi petinggi kerajaannya, memperbaiki kerusakan, menata kembali ekonomi yang telah Eros kacaukan,


memulihkan kepercayaan masyarakatnya yang sempat trauma akan kekuasaan Eros yang semena mena, dan masih banyak lagi.


Ia masih berfokus pada ini dahulu. Biarlah nanti setelah semuanya aman, ia akan mengunjungi dan menjemput dua wanita kesayangannya.


Yang satu berada di pelukan suaminya, dan yang satu lagi ia tinggalkan di tempat persembunyiannya dulu.


Sophia, Ia akan mempercayai Sophia pada Alfonso.


Ia melihat dengan langsung bagaimana Alfonso menjaga dan melindungi Sophia. Hal itu sudah membuatnya tenang.


Ia belum memberitahukan kepada Alfonso tentang Sophia yang merupakan adik kandungnya.


Ia akan memberitahukannya nanti, disaat segalanya telah jelas, di hari penobatannya nanti.


Biarlah segalanya berjalan seperti biasanya


***


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, Alfonso dan Sophia sampai dirumah. Dengan Filips yang masih mengoceh tidak jelas


"Aku bahkan hanya tidur beberapa jam. Ada manusia yang sangat rindu dengan rumahnya memaksa istri dan pengawalnya untuk pergi pagi pagi buta" kesal Filips menyindir Alfonso


"Siapa yang menyuruhmu tidak tidur" ucap Alfonso gampang menyerahkan tali kekang kudanya kepada Filips sebagai kode agar Filips mengantar kudanya menuju kandangnya


"Anda Tuan!! Anda yang membuatku tidak bisa tidur. Ada suara ******* aneh di kamarku! suara aktivitas malam kalian sangat menggangguku!!" Kesal Filips yang mendengar suara suara perci*t*an Sophia dan Alfonso malam itu. Kamar Filips berada di sebelah kamar Alfonso. Tempat Stephanus dahulu beristirahat.


Wajah Sophia memerah, segera meninggalkan kedua orang aneh ini.


"memalukan" gumam Sophia melangkah menuju pintu rumahnya.


Raut wajah Alfonso berubah tegas


"Kau cari Permaisuri sampai dapat. Kursi penguasa tidak bisa kosong terlalu lama. Para penjilat itu akan mengambil alih. Kabari pelayan setia Kaisar, dan penasehat kaisar. Bahwa mereka mengambil alih untuk sementara" ucap Alfonso merendahkan suara


"Tapi tuan, bukankah Permaisuri juga sama seperti mereka? mereka sama sama tamak tuan" ucap Filips


"Setidaknya kerajaan lain tidak tau adanya kekosongan kekuasaan disini. Permaisuri hanya tameng saja. Peraturan kerajaan akan dikendalikan oleh orang orang setia kaisar seperti biasa" ucap Alfonso serius


"Sebelum kau berangkat, beritahu kepada kerajaan. Bahwa Aku akan mengadakan pertemuan di aula nanti." lanjutnya.


"Tetapi sampai kapan akan seperti ini Tuan?" tanya Filips.


"Sampai Stephano siap berbenah, dan mengambil alih kerajaan ini. Aku memiliki firasat yang kuat, bahwa ia akan menjadi penguasa tanah ini" ucap Alfonso yang tidak pernah meleset dari prediksinya.


"Sayaangg!! cepatlah aku sudah lelah!!" teriak Sophia yang bersandar di pintu mengagetkan keduanya. Sophia mendelik kesal melihat keduanya berbisik bisik sedari tadi.


Alfonso terkejut mengira Sophia sudah masuk kedalam rumah. Ia lupa bahwa kunci rumah ada bersamanya.


Filips pamit pergi melaksanakan tugas dari pimpinannya.


.


.


.


Setelah memasuki rumah, Sophia dibuat kaget dengan penampakan rumahnya saat ini


"Sayang? kenapa berantakan seperti ini? Baju jangan asal diletak di kursi seperti ini!!" ucap sophia mengambil pakaian Alfonso yang tergantung bebas di kursi


"Ini apa lagi? Mengapa bekas makananmu tidak kau buang? Ini sudah membusuk" repet Sophia menuju meja di dekat jendela


"Penerangankuuuu!!! ini seharusnya tidak disini!!"


Alfonso hanya terdiam menyaksikan Sophia yang bermondar mandir merepet.


"Baru beberapa Minggu aku tidak berada dirumah, kau sudah membuat rumah seperti kandang kuda" kesal Sophia memunguti kekacauan Alfonso.


Alfonso menghentikan pergerakan lincah Sophia


"Sayang kenapa kau marah marah terus dari semalam? Saat aku mengantarmu ke rumah ayah, aku tidak tinggal disini dalam waktu yang lama. Aku tinggal di barak sayang." ucap Alfonso memeluk Sophia dari belakang.


Sophia berlalu menjauhi Alfonso melangkah menuju kamar.


Alfonso hanya terdiam mengikuti langkah Sophia


"Ada apa dengannya?" pikir Alfonso mengikuti langkah Sophia


"Sayang, aku tidak pergi kesana lagi, aku hanya pergi nanti malam ke aula kerajaan. Ada rapat penting tentang kepergian kaisar sayang" bujuk Alfonso berusaha meraih tangan Sophia


"Kau tidak berbohong?" tanya Sophia menilik sinis


"Tentu saja tidak!! Aku hanya memiliki mu, Tidak ada yang lain sayang. Tenanglah jangan marah marah terus" rayu Alfonso memeluk Sophia dari belakang yang memasukkan baju bajunya dari tas yang ia bawa saat kerumah Lukas menuju lemarinya.


"Dimana? dimana mantel rajutku satu lagi?" tanya Sophia panik


GLEK!!


Alfonso menelan ludahnya berat. Ia meninggalkan mantel itu di kerajaan x. Di tasnya.


"Aku meletakkannya disini kemarin. Dimana?" tanya Sophia menelisik seluruh sudut lemarinya.


"Sayang, kita baru saja sampai dari perjalanan. Kau tidak lelah hmm? tidur lah dulu sayang, Aku akan memasak makanan?" ucap Alfonso mengalihkan perhatian Sophia.


Bisa kenal amuk lagi dia jika Sophia mengetahui mantelnya di tinggalkan oleh Alfonso.


"Kemari lah" ucap Alfonso menggendong Sophia menuju pembaringannya.


.


.


.


Setelah memastikan kesayangannya tertidur pulas, Alfonso keluar dari rumah untuk memeriksa keadaan baraknya.


Ia termenung.


Di tenda ini biasanya ia berbincang dengan kaisar.


Entah mengapa segalanya menjadi sepi bagi Alfonso


Keadaan barak dan lapangan latihan seketika hening.


Hanya beberapa prajurit yang tersisa.


Salah satu pelayan menghampiri Alfonso.


"Tuan, apa kah anda mau dibuatkan teh?" ucapnya mendayu


"Pergi!" dingin Alfonso.


setelah merasa menghabiskan waktu terlalu lama, Alfonso bergegas kembali ke kediamannya


Ia termenung duduk di kursi kayu Sophia.


Segalanya menjadi hampa.


Ia memejamkan matanya. Bohong jika Alfonso tidak terpukul akan kepergian kaisar.


Ia Melirik pintu kamar yang didalamnya ada Sophia


Alfonso menghembuskan nafasnya kasar


"Aku pikir akan lebih baik jika aku mundur dari posisi panglima kerajaan ini" batin Alfonso


Cita citanya hidup aman dan damai bersama Sophia tidak akan bisa terwujud sempurna, jika ia masih menjadi panglima perang.


Akan selalu ada pekerjaan yang berbahaya yang akan melibatkannya.


Nyawa Sophia dan ia akan selalu terancam. Tidak mungkin ia terus mengurung Sophia layaknya burung di rumah ini


Alfonso mengingat kata kata Sophia yang ingin memiliki tempat tinggal di dekat sungai.


Kata kata Sophia yang juga ingin mencari keluarganya.


Alfonso menyadari. Banyak hal yang ingin dilakukan Sophia. Tetapi tidak satupun yang dapat Alfonso penuhi. Seluruh perhatiannya hanya untuk kaisar selama ini.


"Sudah saatnya membahagiakan Sophia saat ini" pikir Alfonso


...****************...