
"katakan" perintah Alfonso
"Menurut pelayan Amora, Pria itu merupakan teknisi kerajaan. Amora tertarik kepadanya saat pria itu datang memperbaiki barang barang putri Amora.
Aku mencari data nya di arsip kerajaan, namanya adalah Vano. Dengan usia sekitar 21 atau 22 tahun. Ia lebih muda dari Putri Amora.
Tetapi ada hal aneh Tuan, Dari data penduduk desa tempatnya berasal, tidak ada pemuda yang bernama Vano sebelumnya.
Aku rasa dia memalsukan identitasnya" jelas Filips panjang lebar.
"Apa maksud kedatangannya" tanya Alfonso
"Menurut pemantauan ku, ia sering mengorek infomasi kerajaan dari putri Amora yang dengan bodohnya membocorkan segalanya.
Ia keluar masuk pintu rahasia secara bebas Tuan." Jelas Filips.
Alfonso tertegun.
"Terus awasi dia. Jika ia melakukan sesuatu yang merugikan rencana kita, kau langsung saja membunuhnya. Tetapi jika ia hanya merugikan putri dan permaisuri aku tidak perduli." cuek Alfonso tetapi tetap memikirkan langkah selanjutnya
***
Plaakk
Tamparan kuat itu membakar pipi Amora.
Senja keemasan indah itu menjadi menyeramkan bagi Sophia.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu di kamarmu Amora?" Tanya Permaisuri mendapat aduan dari salah satu petinggi kerajaan yang melihat Amora mencium Pemuda bermantel yang baru saja memasuki kamarnya lewat jendela sebelum jendela ditutup.
"Ibu, dia dia itu temanku" cicit Amora tidak berani mengangkat pandangannya.
"Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya ha!!!!" tanya Permaisuri menghakimi
"Tidak ada ibu, kami hanya berbicara saja"
Plaakk!!!
Terdengar tamparan kedua. Kepala Amora tertoleh dengan darah segar mengucur bebas.
"Tidak ada? kau sudah memberikan tubuhmu padanya bukan? Dimana pria sialan itu agar aku membunuhnya!!" bentak Permaisuri
"Ibu ibu jangan, aku yang bersalah, aku membutuhkan teman ibu, tidak ada yang peduli kepadaku. Hanya dia. Dia satu satunya" tangis Amora
"Katakan dia siapa Amora!!"
"Tidak ibu, aku tidak mau. Aku hanya memiliki dia, Tidak ada yang lain. Aku hanya ingin dia" Racau Amora tidak jelas.
"Huh harusnya hari ini masa hukumanmu berakhir bukan? Kau semakin menjadi jadi. Aku akan mengasingkanmu agar kau menggunakan akal sehatmu"
"Aku sudah menjodohkanmu dengan pria bangsawan. Berhenti menemui pria itu atau kau akan kuasingkan"
"Tidak ibu, aku tidak mau pria bangsawan manapun. Aku hanya ingin menikahi nya"
"Aku tidak mau menjadi putri mahkota. Jika menjadi penerus tahta membuatku tidak bisa bersamanya, lebih baik aku tidak menjadi penerus tahta"
Plaakkk!!!
Tamparan ketiga mengenai pipi Amora.
"Jaga bicaramu anak sialan!! Jika ayahmu mendengarnya maka Tidak akan ada yang mencegahnya untuk menggantikanmu!"
"Ayah? apa aku memiliki ayah?" tawa Amora pilu
"Dia bahkan tidak perduli aku hidup atau tidak ibu, buka matamu, ayah tidak mencintai kita. Bahkan aku ragu apakah ia ayahku atau bukan" jawab Amora
Degg!!
Permaisuri terkejut
"Masuk ke kamarmu. Renungi kesalahanmu" ucap Permaisuri berbalik pergi meninggalkan Amora yang terisak duduk di lantai
Vano terdiam dibalik hiasan beralih pergi dengan raut datar. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada didalam pikirannya.
Apakah ia senang atau sedih, hanya ia yang tau.
***
Malam menghampiri, menjadi pertanda bahwa makhluk bumi menghentikan aktivitasnya dan beristirahat
Tetapi itu tidak berlaku bagi Alfonso. Tentu saja saat malam hari Alfonso tidak akan tertidur begitu saja. Sangat rugi mengabaikan kucing pulen yang berada di pelukannya ini.
"Sayang aku sangat bosan tidak melakukan apapun jika kau tidak ada dirumah, Aku ingin menyulam. Membuat pakaian" pinta Sophia dengan nafas tidak beraturan setelah Alfonso selesai memuntahkan lahar panasnya dengan sambungan yang masih menyatu.
"Kau tidak perlu membuat pakaian sayang, kau tidak memerlukan pakaian untuk membuatku tertarik" jenaka Alfonso yang mendapat Jitakan di kepalanya.
"Sayang aku serius. Berikan aku kegiatan lain kalau begitu"
"Apalagi? Inilah kegiatan barumu sayang" Ucap Alfonso membalikkan tubuh dengan Sophia berada diatasnya
"bergeraklah"
...****************...
Jangan lupa vote dan likeπ€
Jika ada saran yang membangun sematkan di kolom komentar yaa
Cerita ini hanya sebagai selingan saat pusing ngerjain skripsi.
Semoga menghibur
sampai jumpa di episode berikutnya. ππ»π»