
Pagi harinya, Alfonso bersama Sophia bertolak menuju hutan tempat Alfonso pertama kali bertemu dengan Sophia
"Sayang disinilah aku menabrakmu saat itu" tunjuk Alfonso sesampainya mereka di dalam hutan untuk mencari rumah Sophia dulu.
Mereka harus mendapat informasi yang tepat dari paman Sophia dahulu bukan?
Sophia terlihat berpikir
"Kau tidak mengingat kemana kau melangkah sebelum dari sini?" tanya Alfonso
" emmm aku dikejar perampok saat itu. Sebelumnya aku pergi ke......"
.
.
.
Senja keemasan datang, Alfonso dan Sophia pulang kerumah mereka.
Sophia terlihat lesu. Ia dan Alfonso telah mengelilingi hutan. Tetapi tidak mendapat hasil apapun.
Sophia mengingat ingat langkahnya yang berujung kebingungannya sendiri.
Alfonso wajar dengan itu. Karena saat itu sangat gelap. Mustahil Sophia bisa mengingat jalannya dengan jelas.
"Sayang, tidak apa hmm? besok kita coba lagi" bujuk Alfonso melihat wajah tertekuk ini
"Aku sudah bilang paman suka lewat dari sungai itu" ucap Sophia
"ia sayang aku percaya. Kita juga sudah berjalan mengikuti arahanmu bukan? untuk menyusuri sungai, kita bisa melanjutkan besok pagi, ini sudah malam sayang banyak binatang buas di hutan" jelas Alfonso membelai rambut hitam lebat Sophia.
Sophia mengangguk saja.
***
Di pagi hari, mereka kembali melanjutkan pencarian mereka dengan bermodalkan ingatan buram Sophia.
Tetapi hasilnya nihil. Mereka sama saja tidak mendapat hasil apapun
Sophia semakin muram. Ia merasa sangat payah. Ia merasa bersalah kepada Alfonso yang mau mengorbankan waktunya untuk mencari pamannya dengan ketidak jelasan Sophia.
"Sayang ini minum dulu" ucap Alfonso menghampiri Sophia yang melamun di kursi biasanya sepulang pencarian mereka
"Tidak apa apa Hemm? kita masih mencari tiga hari. Masih banyak waktu sayang" bujuk Alfonso.
"Apa tidak ada cara lain? kita tidak akan mendapatkan apa apa hanya dengan ingatanku" lirih Sophia lesu menyandarkan kepalanya di bahu Alfonso.
"Aku pikir kita lebih baik mendatangi peramal kerajaan terlebih dahulu" ucap Alfonso
"Hm? peramal? untuk apa?" tanya Sophia kebingungan
"Peramal pandai dalam menerawang dan melihat wajah orang orang sayang. Selanjutnya dia biasanya akan melukiskan wajah orang tersebut di kertas. Kerajaan juga menggunakan itu untuk menangkap penjahat" Jelas Alfonso
Lama Sophia berpikir. Sophia terkejut dan mendongak
"Sayang!!!! Aku pernah melihat gambar wajah Paman di ruangan kerjamu" teriak Sophia girang baru mengingat bahwa ia pernah masuk ke dalam ruang kerja alfonso.
Alfonso terkejut. Badannya mendingin.
sketsa wajah yang disimpan tentu adalah sketsa wajah orang orang yang telah ia lenyapkan atas perintah kerajaan.
Ia segera beranjak mengajak Sophia menuju ruangan kerjanya yang selama ini selalu ia kunci.
Setelah masuk, Alfonso langsung membuka beberapa lacinya dan mengambil tumpukan kertas
"Apa yang ini pamanmu?" tanya Alfonso menunjukkan satu per satu lukisannya
setelah beberapa lama, ia tidak menemukan wajah pamannya
"Semoga bukan. Aku mohon semoga bukan" batin Alfonso
"Sayang bukan di laci yang ini. Oh iya dilaci ini" tunjuk Sophia.
Alfonso mendingin keringat muncul dari pelipisnya.
Laci itu adalah laci yang berisi para penghianat kerajaan
Dengan gemetar, Alfonso mengambil beberapa kertas dari dalam.
Menyerahkan kepada Sophia
Sophia menelisik melihat satu persatu.
"Ini!!! Ini sayang, ini pamanku" teriak Sophia girang.
Alfonso terkejut. Tangannya mengepal gemetar. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
Sophia yang melihat perubahan emosi sang suami mendekat dan bertanya
"Sayang ada apa?" tanya Sophia mengulurkan tangan menyentuh tangan Alfonso
Dengan mata memerah dan tatapan tajamnya membuat Sophia takut.
Tanpa mengatakan apa apa, Alfonso menarik tangan Sophia keluar bergegas menuju kudanya yang masih terparkir sepulang dari pencarian sore ini
"Naik!!" ucap Alfonso dingin
Mereka bertolak menuju hutan tidak perduli dengan senja yang sebentar lagi akan datang.
Hati Alfonso sedang terbakar saat ini. Hatinya bimbang
"Sayang ada apa?" Tanya Sophia menoleh kebelakang. Tidak dapat di pungkiri, Sophia sangat ketakutan saat ini.
Alfonso tidak menjawab. Wajahnya diam semakin mendingin.
setelah beberapa saat, Alfonso menghentikan kudanya.
"Apa ini rumah pamanmu?" tanya Alfonso dingin setelah Sophia turun sendiri dari kudanya.
Sophia membelalak. Rumah pamannya hancur. Bekas lalapan api berserakan dimana mana.
Sophia berlari ke reruntuhan rumah ini. Ia menyingkirkan tumpukan tumpukan kayu.
Tidak ada yang ia temukan selain abu, kayu hitam bekas lalapan api, tetapi ada beberapa tulang manusia disini.
Sophia mulai terisak membayangkan hal hal mengerikan.
Sophia bangkit mengorek dan mencari cari apapun yang bisa ia dapatkan
Rumah nya yang mini, yang menampung kehangatan yang diberikan oleh paman paman nya, kini hilang bersama dengan pemiliknya.
Sophia mondar mandir dengan Isak tangis memanggil nama pamannya
Alfonso berdiri diam dengan netranya yang menajam.
Pikiran Alfonso kalut. Peraturan kerajaan terngiang di kepalanya.
"Seluruh keturunan dan keluarga dari penghianat kerajaan harus dibunuh!"
Hal itu terus saja berdengung di kepalanya.
"Alfonso, penghianat itu adalah salah satu penyebab kesusahan ku." ucap Hector kala itu
"Kau harus melenyapkan seluruh keluarga penghianat itu!!" Perintah hector saat itu
semua nya menari nari di kepalanya. Netranya memanas. Junjungannya yang kini telah tiada, Alfonso merasa belum memberikan kebahagiaan apapun pada kaisar agung nya yang lebih banyak berjasa dalam hidupnya dari pada ayahnya sendiri.
Pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya.
Pria yang mempertahankan kedudukannya sendiri, walaupun banyak orang yang ingin menjatuhkannya dan membuatnya sedih. Termasuk paman paman Sophia. Paman Sophia yang merupakan penghianat kerajaan termasuk orang yang menyumbangkan kesusahan dalam hidup Kaisar.
Pria yang ia agung agungkan, nyatanya Alfonso memelihara dan merawat anak dari sumber masalah Kaisar.
Membayangkan itu membuat Alfonso geram.
Tanpa mengatakan apa apa, Alfonso menaiki kudanya, meninggalkan Sophia yang masih di dalam dunianya sendiri.
Tidak perduli dengan hari yang semakin gelap, Alfonso tetap memacu kudanya.
Sophia masih menangis memanggil nama pamannya.
Tulang belulang yang masih bisa ia dapatkan walaupun sebagian ada yang menghitam akibat api, Sophia mengumpulkannya menjadi satu tempat.
Tangan mulus dan mungil ini mengangkat kayu satu persatu.
"Hiks paman mengapa meninggalkan aku duluan" Isak Sophia tertahan
"Paman selalu mengajariku untuk mematikan tungku setelah masak. Apa paman lupa mematikannya sehingga rumah kita terbakar?" lirih Sophia yang menganggap segala hal yang terjadi karena alasan kecil itu.
Pikirannya terlalu bersih untuk berburuk sangka pada seseorang termasuk Alfonso yang tiba tiba mengetahui rumahnya.
Bahkan tidak sekalipun mencurigai Alfonso.
Setelah lelah, Sophia duduk dihadapan tulang belulang pamannya
"Paman, aku merindukan kalian, Aku bahkan ingin memperkenalkan kalian dengan suamiku" lirih Sophia tersentak mengingat suaminya
ia menoleh ke tempat Alfonso berdiri tadi. Tidak ada siapapun.
Sophia baru sadar bahwa ia memakan waktu Berjam jam disini. Terbukti dengan Langit yang sudah berubah sangat gelap.
Sophia menolehkan kepalanya kekanan dan ke kiri. Tidak mendapati Alfonso maupun kudanya.
"Paman, aku mengabaikan suamiku tadi. Pasti dia marah dan pergi pulang duluan. Ini juga sudah malam. Seharian ini kami mencari kalian paman. Suamiku pasti sudah sangat lelah" lirih Sophia kembali duduk memandang kekacauan ini dengan sendu.
"Paman, apa Suamiku marah melihat aku tidak punya siapapun lagi?" lirih Sophia menenggelamkan kepalanya diantara lututnya.
...****************...
Masuk konflik ga tuðŸ˜ðŸ˜ðŸ«‚