
Amora bergetar hebat netranya menggigil menahan amarah.
Semua tentu tau bagaimana keangkuhan wanita ini
"JAWAB AMORA" teriak permaisuri.
"IYA!!! AKU YANG BERUSAHA MEMBUNUHNYA IBU" teriak Amora lebih kuat
"Kalian tentu tau bagaimana aku menyukai Panglima sejak berada di akademi yang sama. Kalian tau aku mengagumi nya sejak lama. TETAPI MENGAPA AYAH TIDAK MENIKAHKAN AKU DENGANNYA?!!!" bentak Amora.
"Ayah, seharusnya dia untukku. Hanya UNTUKKU. Aku tidak akan membiarkan siapapun dan wanita manapun menjadi pendampingnya" lanjutnya
"Kau pikir dengan sifat aroganmu yang seperti ini tetap membuatku menikahkan mu dengan panglima? Tentu aku tidak ingin menurunkan martabat ku jika ia mengira aku tidak bisa mendidik anak dengan sifat burukmu itu" jelas Hector
"Huh untung saja Panglima sudah pergi, Ini sangat memalukan" ucap adik permaisuri
"Apa untuk itu Racun yang kau minta kepadaku?" tanya Permaisuri
"Ti tidak ibu, aku tidak jadi menggunakan itu untuk Sophia"
"Aku menghukum mu jangan keluar dari kamar Selama 2 Minggu. Renungkan kesalahanmu" perintah permaisuri
"Ibu mengapa kalian menjadi sangat jahat, kalian lebih membela wanita udik itu?" lirih Amora menangis
"Aku tidak perduli kau membunuh wanita itu atau tidak, tetapi kelakuanmu yang sangat memalukan. Kau ceroboh, Kau tidak bekerja dengan cermat. Bagaimana pandangan panglima tentang kita" Ucap permaisuri
Panglima Alfonso sangat dibutuhkan dan sangat dihormati di seluruh kekaisaran. Ia tidak segan menghancurkan segalanya. tidak perduli jika orang lain akan merugi selama ia merasa tidak nyaman.
Amora diam beralih pergi dari ruangan menghentakkan kuat kakinya.
"Sayang, aku pikir kita sudah seharusnya menaikkan pajak masyarakat. ini sudah sangat lama. Kita terus memakai peraturan lama" ucap permaisuri beralih berbicara kepada kaisar.
"Adikku benar Hector, masyarakat sudah terlalu enak. Keamanan mereka sangat terjamin hidup di kerajaan ini. Setidaknya mereka membayar uang kemananan" lanjut kakak laki laki permaisuri atau bisa dikatakan sebagai paman Amora.
Hector mengeraskan rahangnya. Aturan baru yang gila lagi.
"Ekhemm, suasana hatiku sedang tidak baik. Aku cemas saat ini apakah panglima akan marah kepada kita atau tidak. Kita akan membahas ini dilain waktu, aku pikir aku akan istirahat dahulu"
---
"Mengapa begitu?Aku tidak pernah mengusik mereka Tuan, Putri yang ingin membunuhku, apa salahku" racau Sophia. Ia kembali murung dengan netra ketakutan.
"Berarti hantu itu adalah putri" lanjutnya parau
Alfonso terdiam. Biarlah Sophia menganggap Amora sebagai orang misterius itu. Setidaknya Sophia tidak akan merengek ketakutan dengan hantu. Biarlah nanti itu menjadi tugas Alfonso untuk menyelidiki manusia misterius itu.
Sesampainya Alfonso dan Sophia di kediaman, Sophia langsung masuk merebahkan dirinya di pembaringan kursi biasanya, dan membelakangi Alfonso.
Alfonso heran menatapnya. Disepanjang perjalanan tadi juga Sophia murung dan diam.
Alfonso menghampiri Sophia
"Hey maafkan aku, aku membawamu agar kau tidak takut lagi dengan namanya hantu, tidak ada hantu. Apa perkataan putri tadi membuatmu takut?" tanya Alfonso berjongkok memegang bahu sophia
Sophia tidak menjawab menghempaskan tangan Alfonso yang bertengger di bahunya.
"Sophia!" tegas Alfonso melihat Sophia seakan menolak dan menghindarinya.
"Bahkan ia tidak mau aku menyentuhnya. Jadi ini rasanya, sedikit pilu" batin Alfonso
"Sophia ada apa denganmu?"
"Apa kepalamu sakit lagi?" Tanya Alfonso
Hening tidak ada jawaban. Alfonso setia menatap punggung ramping itu
"Huh baiklah tenangkan dulu dirimu. Aku ingin berganti pakaian. Jangan lupa ganti pakaianmu juga" titah Alfonso bangkit menuju kamarnya.
Sophia membalikkan badan menatap punggung kokoh Alfonso yang menjauhinya.
"Putri menyukainya, Putri sangat cantik" sendu Sophia.
(walahðŸ˜ðŸ˜ ternyata cemburu)
...****************...