
Disaat Alfonso dan Hector sedang berbincang, Filips menghampiri keduanya.
"Tuan, Yang Mulia, petugas pengawas barak para prajurit melaporkan, ada satu orang prajurit yang sering menghilang begitu saja Tuan, ia tidak membuat kekacauan tetapi ia kerap menghilang dari barisan maupun barak.
saat ini ia juga tidak terlihat dalam barisan Tuan" Lapor Filips.
Hal itu tentu saja membuat Alfonso heran.
"Apa pengawalan tidak bekerja dengan baik? akan berbahaya jika ia keluar masuk tempat rahasia ini" tanya Hector.
"Kau selidiki dia Filips, jika ia terlihat mencurigakan, kau tebas saja kepalanya" Perintah Alfonso.
Filips mengangguk dan kembali mengawasi pelatihan
***
Selesai membersihkan rumah, Sophia menyiram tanaman di halaman rumah, tiba tiba Kepala Pelayan Ma, melintas di depan kediaman.
Sophia yang melihat itu sangat bahagia
"Bibi!!!" panggil Sophia menghampiri bibi Ma.
"Sophia, apa kabarmu nak?" tanya bibi Ma.
"Bibi aku baik"
"Apa Alfonso memperlakukanmu dengan baik?"
"Iya bibi, lihatlah pakaianku, sangat bagus bukan? Tuan yang membelikannya, Bibi!!!"
"Syukurlah, jaga Alfonso dengan baik nak" ucap bibi memohon
"Iya bibi tenang saja, Tuan sudah terbiasa denganku bibi, satu Misiku sudah selesai, jika misi keduaku untuk mencari keluargaku sudah selesai juga, maka kami akan hidup bahagia" ucap Sophia riang menganggap hidup nya semulus itu. Tanpa mengetahui ada hal besar yang akan menimpanya.
"Bibi mohon, apapun nanti yang terjadi, jangan tinggalkan Alfonso ya nak, percayakan segalanya kepadanya" pinta bibi Ma
"Mengapa bibi? Sesuatu apa yang akan terjadi?"
"Ah bibi hanya mengantisipasi saja, banyak orang yang ingin menjatuhkan Alfonso nak"
"Bibi tenang saja, oh iya bibi ingin kemana?" tanya Sophia.
"Ah bibi hanya ingin berjalan jalan saja, kau lanjutkan lah pekerjaanmu, bibi akan pergi. Jika ada waktu, nanti bibi akan meng..."
"Apa yang kau lakukan disini!!!"
Ucapan bibi Ma terpotong akibat kedatangan Alfonso. Alfonso memandang bibi Ma dengan tatapan tajam.
"Tuan, bibi Ma lewat tadi, aku memanggil dan berbicara kepadanya" ucap Sophia
"Sofi sayang, masuklah kedalam. Siapkan makan siang kita" ucap Alfonso lembut
"Baik!! Bibi Ma juga ikut makan siang kan bersama Sophia" tanya Sophia tidak menyadari perubahan hawa dari Alfonso
"So..Sophia bibi akan langsung pergi saja" bantah Bibi Ma
"Kenapa bibi, Aku akan masak yang.."
"Masuk Sophia!!!" ucap Alfonso sedikit menaikkan intonasi suaranya
"Huh aku tau Tuan memang tidak pernah bersikap baik sama semua orang kecuali yang dikenal Tuan dengan baik, tetapi tidak perlu memasang wajah semengerikan itu didepan orang yang sudah tua, bibi Ma bisa mimpi buruk nanti" cicit Sophia seraya melangkah menuju dapur dengan menganggap Alfonso hanya tidak menyukai kehadiran orang asing seperti bibi Ma di kediamannya.
Beberapa menit kemudian, Sophia yang terlarut dalam kegiatan memasaknya tidak menyadari Alfonso telah memasuki rumah.
Sepasang tangan melingkar di pinggang ramping Sophia. Pria dingin itu memeluknya dari belakang.
"Tuan!! Huh aku terkejut. Untung saja kuah panas ini tidak terbang Tuan" lirih Sophia mengelus dadanya
"Kau ingin membunuh suamimu?" Tanya Alfonso dengan suara berubah tegas menakut nakuti Sophia.
"Eh Tuan, bukan begitu maksudku tuan jangan langsung tiba tiba datang memelukku, aku terkejut tuan, kalau tuan tidak ingin berbicara, cukup tepuk saja dulu bahuku seperti ini" ucap Sophia seraya menepuk bahu kirinya. Karena bahu kanannya sedang menjadi tempat sandaran kepala si tampan Arogan itu.
"Kau tidak suka aku peluk Sophia?" tanya Alfonso dengan intonasi dingin mengerjai Sophia yang semakin panik.
Sophia membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh jangkung itu
"Bukan begitu Tuan!! Jangan marah aku tidak akan terkejut lagi, Aku mohon" lirih Sophia ingin menangis
Alfonso tertawa dalam hati. Hal ini sudah menjadi hiburannya sehari hari. Menjahili Sophia.
Sophia masih panik karena Alfonso tidak membalas pelukannya.
Kepalanya mendongak memperlihatkan wajah permohonan bagai kucing menggemaskan
"Tuaannn..." lirih Sophia
Alfonso tersenyum tipis memajukan bibirnya dan menundukkan kepalanya
Sophia yang sudah terbiasa akan kode itu beberapa waktu belakangan ini segera menjinjitkan kakinya menge*up bibir merah Alfonso.
"Lagi!" pinta Alfonso.
Sophia kembali menge*up Alfonso
"Lagi!"
Sophia kembali menge*up bibir serigala itu. Tetapi Alfonso tidak membiarkannya lepas begitu saja. Tentu saja otak yang telah dicemari Filips itu menahan kepala Sophia dengan tangan kanan. ******* dalam dengan tangan kiri memeluk punggung Sophia merapatkan keduanya.
Keduanya berlarut beberapa saat hingga Sophia menyadari tungku api yang masih berkobar itu mengeringkan rebusan yang telah ia masak tadi.
Sophia menepuk bahu Alfonso agar segera menyudahi kepanasan siang ini. Alfonso melepas tautan itu dan tersenyum jahil.
"Tuan!! Lihatlah makanan kita, airnya sudah mengering, Bagaimana ini" Ucap Sophia dengan wajah ditekuk.
"Itu karena kau berdosa ingin menyiram kuah itu kepada suamimu" Ringan Alfonso menatap kepanikan Sophia.
"Kan aku sudah meminta maaf tadi" lirih Sophia
"Baiklah itu tandanya kita harus makan diluar. Ayo, kita makan siang di pasar. Sekalian kita mengunjungi rumah ibumu" ucap Alfonso mengingat bahwa saat membawa Sophia, Sophia diserahkan oleh wanita yang mengaku ibunya.
Degg!!!
...****************...
Vote dan like ya🌻
Nantikan episode selanjutnya👋👋