IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 76. MAU KAH KAU MENJADI TEMANKU?


Mendengar ketukan pintu, Sophia beranjak membuka pintu rumah.


Tampaklah pelayan yang biasa mengirimkan bahan makanan kerumah nya.


"Nona, aku mengantar ini nona" ucapnya tersenyum manis


Sophia memiliki wanita muda ini dari atas ke bawah


"Ia bukan budak. Pasti dia memasuki kerajaan melalui seleksi" batin Sophia.


"Emm terimakasih. Tetapi apa aku bisa meminta bantuanmu sebentar?" tanya Sophia terbata bata. Ia tidak terbiasa berinteraksi dengan orang asing.


Pelayan ini juga tidak pernah menunjukkan interaksi kepada Sophia.


Ia hanya cenderung menunduk sopan.


"Katakan nona, saya akan membantu jika saya mampu"


"Emm terimakasih. emmm begini. Jangan beritahu siapapun yaa" pinta Sophia lembut


"Astaga nona sangat menggemaskan" batin pelayan muda ini sangat menyukai senyuman Sophia


"Iya nona saya tidak akan memberitahu siapapun"


"Apa kau pernah bersekolah?" tanya Sophia hati hati


"Saya pernah bersekolah Nona tapi pendidikan saya tidak setinggi panglima agung maupun petinggi kerajaan lainnya. Saya hanya belajar dasar saja"


"Kalau begitu kau tau menulis dan membaca kan?" tanya Sophia girang spontan memegang tangan pelayan muda ini


"eh nona maafkan aku" ucap nya mundur beberapa langkah terkejut dengan aksi spontan Sophia yang menggenggam tangannya


"Ada apa? Kau tidak menyukaiku?" tanya Sophia dengan intonasi semakin pelan. Ia tidak percaya diri


"Eh nona bukan begitu. Baiklah baiklah nona ingin mengatakan apa? Ya nona aku tau membaca dan menulis tapi aku sedikit bodoh dalam berhitung hihihi" ucapnya menghibur Sophia


"Emm begini, aku tidak terlalu mahir dalam membaca dan menulis. Karena pamanku dulu tidak memperbolehkan aku keluar rumah.


emm jadi bisakah kau menuliskan sesuatu untukku?" pinta Sophia dengan lembut


"Sangat bisa nona, aku dengan senang hati bisa membantumu"


"Ah sebentar aku mengambil kertas dan tinta dulu" ucap Sophia berlari kecil kedalam rumah mencari tinta dan kertas milik Alfonso.


"astaga mimpi apa aku semalam bisa berbicara sepanjang ini bersama nona? Bagaimana bisa nona secantik itu? Pantas saja panglima tergila gila hihihi" batinnya tersenyum


"Aku akan menceritakan ini kepada teman temanku. Nona sangat ramah dan baik hati. Nona juga sangat baik" pikirannya menerawang tidak sadar Sophia telah berada di hadapannya.


"hey kau tidak apa apa?" tanya Sophia melambai lambaikan tangannya ke wajah wanita yang tersenyum sendiri itu


"Ah nona iya aku tidak apa apa, bagaimana tadi nona?"


"begini, aku sedang membuat pakaian rajut untuk suamiku, untuk pengawalnya, untuk bibi, serta ayah dan ibuku. Aku ingin memasukkan nama mereka juga di rajutanku nanti. Ini bisakah kau menuliskan nama mereka disini? Aku akan menirunya nanti" pinta Sophia menyerahkan kertas yang ia bawa kepada wanita muda yang semakin terpesona akan kebaikan Sophia


"Ah baiklah apa yang harus aku tulis nona?"


"emm buatlah di urutan pertama dengan tulisan 'ayah' di urutan kedua dengan tulisan 'ibu' diurutan ke tiga dengan tulisan 'bibi Ma' di urutan ke empat dengan tulisan 'filips yang baik' dan diurutan terakhir dengan tulisan Suamiku" ucap Sophia mengabsen satu persatu.


Pelayan muda ini menuliskan segala yang dikatakan oleh Sophia. Kecuali di urutan terakhir.


Ia tidak menuliskan kata suamiku, melainkan kata 'Suamiku, cintaku'


Ia tersenyum jahil.


"Pasti panglima sangat senang dengan ini." batinnya


"Nah selesai nona, ini" ucapnya menyerahkan surat


"emm bisakah kau tulis namamu? Jika ada sesuatu yang kuperlukan aku bisa memanggilmu nanti" ucap Sophia berkilah.


Jika Sophia mengatakan akan memberikan pelayan ini rajutannya, sudah pasti ia akan menolaknya.


"Ah iya. Aku menulis namaku nona disudut bawah sini. Nama ku Ana" ucapnya tersenyum menyerahkan kertas kepada Sophia.


Sophia dengan senang hati menerima kertas itu.


"Emmm maukah kau berteman denganku? em maksudku kita menjadi teman. Aku pikir usia kita juga tidak beda jauh" cicit Sophia mengulurkan tangannya.


Pelayan ini melihat tangan Sophia. Tidak bisa ia bayangkan sebelumnya.


Istri petinggi kerajaan yang ini sangat berbeda


Baru saja ingin mengangkat tangannya, Bibi ma muncul mengagetkan keduanya


bibi ma memandang wanita ini dingin.


"Tugasmu hanya mengantar bahan makanan. Kembali ke dapur!!" perintah bibi ma tegas.


Tanpa mengatakan apa apa, ia mundur dengan hormat berlalu dari rumah sang panglima


"bibi, mengapa bibi mengusirnya bibi, kami baru saja akan berteman" cicit Sophia merenggut


"Apa? berteman? Sophia kau tidak bisa berteman dengan pelayan. Itu peraturan kerajaan.


mereka jauh dibawahmu." ucap bibi ma


"Mengapa begitu, padahal dia sangat baik bibi"


"Tidak semua orang baik Sophia. Jangan mempercayai siapapun kecuali suami mu hmm? Bisa saja mereka salah satu dari musuh suamimu" ucap bibi ma memperingatkan


Sophia mengangguk sendu saja


"Ah Sophia lihatlah!! bibi membawa pesanannu." ucap bibi ma berusaha mengalihkan fokus Sophia


"Wah bibi ini sangat banyak. Gulungan benang ini juga sangat mewah bibi" ucap Sophia girang terpukau


"Sebentar bibi, aku akan mengambil uang dulu" ucap Sophia ingin berlari kedalam rumah.


"Eh nak tidak usah, ini bibi berikan hadiah kepadamu. Bukan kah kau akan memberikan hadiah kepada bibi nanti?" ucap bibi ma menghentikan langkah Sophia.


"tapi bibi, ini sangat mahal. Pasti uang bibi habis"


"Sophia, bibi bekerja begitu lama. Bibi tidak tau upah bibi akan bibi beri kepada siapa, bibi tidak punya anak maupun suami. Jadi bibi berbagi kepadamu saja. Bibi sudah menganggapmu seperti anak perempuan bibi" ucap bibi ma mencubit pipi Sophia


entah mengapa bibi ma merasa ada sesuatu yang akan terjadi. ia merasa tidak akan bertemu Sophia dalam waktu yang lama.


"semoga penguasa selalu melindungimu ya nak" batin bibi Ma.


.


.


.


Sepulang bibi Ma dari rumah, Sophia melanjutkan dan memulai rajutan baru dengan bahan yang dibeli dengan jumlah yang sangat banyak oleh bibi ma.


"Semoga waktuku sempat" gumam Sophia seraya meliuk liukkan tangannya.


ia mengikuti rangkaian huruf demi huruf yang telah dibuat oleh wanita muda tadi.


"Di urutan pertama dengan tulisan ayah, ibu, bibi Ma, dan suamiku. Dibawah ini pasti nama wanita itu." ucap Sophia mengingat urutan yang dibuat pelayan muda tadi.


"Huh mengapa saat suamiku sedang baik kepadaku aku tidak meminta nya mengajariku. Kalau dulu aku meminta pasti suamiku tidak akan menolak. Tapi kalau sekarang? menatap wajahnya saja aku sangat ketakutan" lirih Sophia


"Apa aku harus membuat punyaku juga? bagaimana jika Mayatku nanti dibuang sewaktu musim dingin?" racau Sophia tidak jelas dengan apa yang dipikirkan wanita ini


"Ah yaa!!! aku akan membuat punyaku sendiri juga, dengan model dan warna yang sama persis dengan suamiku. Wah pasti manis sekali" gumam Sophia.


...****************...