IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
LUMPUH?


Suara kaki kuda terdengar bersahutan di sepanjang jalan. Sang empunya memacu kuda hitam nya secepat kilat melintasi pasar.


Tidak peduli kekacauan apa yang telah ia sebabkan, ia hanya ingin sampai di kerajaan secepat mungkin


Saat ia berdiskusi dengan ayahnya tadi, seorang prajurit datang tergesa gesa dan mengatakan sang istri telah siuman dan sedang lepas kendali.


Hal itulah yang membuat Alfonso bergegas.


Pintu gerbang kerajaan terbuka, Alfonso memasuki kerajaan


🌻🌻


Hiks..hiks..


Isak tangis serta gelengan kepala mengisi ruangan ini.


Jantung semua orang sudah ingin terlepas ditempat, terlebih saat Stephanus memerintahkan seseorang untuk memanggil Alfonso


"Yang Mulia, tidak bisakah kita menunggu Nona tenang dahulu baru kita memanggil suaminya? Lututku serasa mau terlepas Yang Mulia, Alfonso akan mengira kita lah yang membuat istrinya menangis" lirih tabib yang tidak tau lagi bagaimana cara menenangkan si jelita ini


"Yang dia mau itu suaminya, tenanglah" ucap Stephanus


"Hey, sayang, dengar kakak, suamimu sedang menuju kesini, dia sudah di jalan. Berhentilah menjambak rambutmu sendiri hey itu menyakitkan, berhentilah nangis, kakak memelukmu kakak memelukmu" ucap stephano berusaha menenangkan tetapi Sophia hanya semakin gelisah dalam pelukannya


BRAAKKKK!!!!


Pintu di tendang kuat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan pria yang langsung menghampiri istrinya dan melepaskan pelukan kakak beradik itu


Ia melihat istrinya menangis sesenggukan, memegang kepalanya seraya menunduk.


Sophia bersandar pada sandaran ranjang


Dengan perlahan, Alfonso merengkuh kesayangannya itu ke pelukannya.


Ia sangat merindukan Sophia


Tapi ia sedikit kecewa kala Sophia berusaha melepaskan diri dari pelukannya


"Hey sayang, ini aku suamimu, tenanglah. Tidak akan ada yang menyakiti mu hmm? sssttttt tenanglah, tenanglah" ucap Alfonso mengelus elus rambut Sophia sayang


Sophia yang sedang terkurung di dalam rasa trauma nya perlahan kembali ke alam sadarnya.


"Bau ini, suara ini, apa..apa dia suamiku?" pikir Sophia mengerjapkan matanya yang nyatanya tidak bisa melihat apapun.


Tangannya yang semula berada di kepalanya, perlahan ia gerakkan menuju wajah suaminya dan meraba nya


semua orang yang berada dikamar itu termenung. Sudah beberapa jam mereka habiskan untuk menenangkan Puteri tidur ini, tetapi nihil. Dan apa itu? hanya butuh beberapa menit bagi Alfonso?


Isak tangis itu tidak lagi terdengar.


Perlahan lahan, semuanya melangkahkan kaki keluar dari kamar meninggalkan pasutri itu.


"Tabib, kau lihat bukan? sangat mudah bagi Alfonso. Kalian tau? hal itu juga pernah terjadi dulu, saat ekhemm Amora.. Amora bereksperimen terhadap Sophia" ucap stephano menggaruk lehernya yang tidak gatal


"Hmm, Yang Mulia, Saya akan datang lagi nanti untuk pemeriksaan. Permisi" ucap tabib berlalu pergi menenangkan jantungnya yang sempat bertalu.


Kembali kepada pasutri di dalam kamar


"Kau..kau masih mengingatku?" tanya Alfonso setelah lama terdiam dengan posisi berpelukan seperti ini.


Lama Sophia terdiam hingga akhirnya menganggukkan kepalanya


Hal itu membuat Alfonso senang bukan main.


Ia mengecup pucuk kepala Sophia dalam. Ia menerima. Apapun yang terjadi ia menerima.


Ia mulai bisa menebak apa yang terjadi pada istrinya. Perkataan tabib waktu itu mulai terngiang ngiang akan kondisi Sophia setelah sadar nanti


"Tidak apa, aku yang akan menuntun setiap langkahmu, aku yang akan menjadi mata bagimu, Aku yang akan menerjemahkan setiap kebingunganmu, aku yang akan menggendongmu kesana kemari sebagai kakimu. Tidak apa sayang tidak apa" batin Alfonso meneteskan air mata


Lama Sophia memproses perkataan Alfonso dan akhirnya direspon anggukan oleh Sophia


"Baiklah sebentar, berbaringlah dahulu. Aku akan memanggil tabib" ucap Alfonso membantu Sophia berbaring.


Saat ingin pergi, siapa sangka, si jelita ini menahan tangannya.


"Sayang aku ingin memanggil tabib dulu" ucap Alfonso yang mendapat gelengan dari Sophia


"hufftt baiklah, sebentar aku menutup telingamu sebentar" ucap Alfonso menutup telinga Sophia


Ia menarik nafas dalam


"TABIBB!!!!!!" teriak Alfonso dengan suara beratnya, membuat sang tabib yang baru saja akan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu berdiri kaku membatu


"Apa ini akhir hidupku?" tanya tabib kepada stephano yang juga terkejut dengan teriakan itu.


"Sepertinya Tuan sangat marah, Yang Mulia, cari filips Yang Mulia, biarkan aku masuk bersama Filips" ujar Tabib


"Filips sedang mengurus anak kecil nya, pergilah sendiri" ucap stephano mendorong bahu tabib memasuki pintu yang telah dibukakan oleh Stephanus


Anak dan ayah itu sangat sangat kompak.


Melihat tabib mematung di pintu, Alfonso mengernyit


"Apa yang kau lakukan disana tabib, cepat periksa istriku" perintah Alfonso tak terbantahkan


"Ah ya baik Tuan" tabib melangkah mendekati ranjang Sophia dan mulai memeriksa


Genggaman tangan itu tidak terlepas bahkan semakin menguat, Alfonso bisa merasakan ketidaknyamanan Sophia. Alfonso bisa merasakan trauma istrinya


Hal itu membuatnya sendu.


Setelah beberapa lama menunggu Sophia diperiksa, Tabib mengeluarkan cairan dan meneteskan nya ke dalam mulut Sophia


Saat Alfonso ingin bertanya, Tabib mengisyaratkan Alfonso untuk diam.


Lama berada pada suasana senyap ini, Hingga Alfonso menyadari istrinya telah terlelap.


Tabib memperhatikan helaan nafas itu


"Tenang saja, ia hanya tertidur, tenaganya sudah sangat terkuras tadi." ucap Tabib


"jelaskan" perintah Alfonso


"Jadi begini Tuan, seperti yang kita perkirakan waktu lalu, Nona kehilangan beberapa kemampuannya. Penglihatannya diambil paksa oleh racun itu Tuan. Begitupun dengan kaki nya. Untuk kemampuan berbicaranya, itu terjadi karena ada trauma. Nona tidak bisu permanen. Nona masih bisa berbicara tetapi mungkin hanya pada orang orang tertentu" ucap tabib yang dipotong oleh Alfonso


"Mengapa begitu?" ucap Alfonso heran


"Ya Tuan, trauma nya berdampak pada kemampuan berbicaranya. Jika ia merasa nyaman dan yakin dengan seseorang, mungkin nona hanya akan berbicara kepada orang itu saja. Tetapi yang kita lihat saat ini, Nona masih ketakutan terhadap semua hal. Nona masih memerlukan waktu untuk bisa membuka dirinya kembali. Cukup ajak nona berbicara terus Tuan, dan yakinkan nona untuk sembuh dari trauma nya."


"Lalu apakah penglihatan dan kakinya tidak bisa kembali lagi?" tanya Alfonso memastikan agar ia bisa mengambil langkah tentang masa depan nya dan Sofi nya


"Itulah yang membuat saya terkejut Tuan, Sesuai prediksi kita waktu itu, Kemampuan nona untuk bergerak juga akan diambil atau dalam arti lain, nona akan lumpuh. Tetapi melihat bagian tubuh atas nona termasuk tangan dan lehernya bisa bergerak, saya pikir saya perlu mempelajari nya lagi Tuan. Jika begitu mungkin masih ada kesempatan bagi nona. Saya akan mempelajarinya lagi Tuan, saya meminta waktu" jelas Tabib panjang lebar.


🌻🌻


Kepergian tabib menyisakan keheningan di kamar ini.


Alfonso memandang istrinya dalam dan sendu


"Trauma ini, kebutaan, kebisuan, dan lumpuh ini semuanya karena aku. Aku merenggut hidupmu dengan kejam sayang, Aku merenggut hidupmu" ucap Alfonso dengan tangis tak tertahankan menggenggam tangan Sophia


"Hiks..hiks maafkan aku, aku mohon ampuni aku, aku akan memberikan apapun untuk kebahagiaanmu, tetapi aku sendiri yang merampas semua kemampuanmu, bagaimana aku bisa membahagiakanmu sayang, Katakan bagaimana caranya, Apa yang harus kulakukan" Isak Alfonso tertunduk mencium tangan Sophia


Malam yang dingin menemani isakan Alfonso yang menangisi nasib malang istrinya.


...****************...