
sebulan sudah berlalu, Luka Alfonso perlahan lahan membaik.
Tetapi, bagaimana dengan Sophia?
Sophia tidak menunjukkan perubahan apapun. Alfonso selalu berada di samping Sophia menemani sang pujaan hati
Seperti sore ini
"Nah sudah" ucap Alfonso memakaikan pakaian Sophia setelah selesai membersihkan tubuh Sophia dengan lap hangat.
"Tuan Puteri, kapan kau membuka matamu hmm? Apa mimpimu sangat indah?" tanya Alfonso mengelus kepala Sophia
Ini adalah anjuran dari tabib. Alfonso harus sering sering mengajak Sophia berbicara, karena bagaimana pun, tabib tidak mengatakan Indra pendengaran Sophia tidak lagi berfungsi seperti kemampuan berbicara dan melihat nya
"Buka lah matamu sayang, lihatlah kau berada di tempat kekuasaan mu sekarang, tidak ada yang bisa menyakitimu hmm?" tanya Alfonso
Ya, mereka pindah ke kerajaan X yang saat ini milik stephano
Stephano menyarankan untuk pindah karena tabib Sophia adalah tabib kerajaan. Akan lebih mudah menjangkau Sophia jika ada hal hal yang tidak diinginkan
"Satu satunya yang akan sulit kau hadapi nanti jika ia sadar adalah trauma nya" ucapan tabib tempo hari itu terngiang ngiang di kepalanya.
"Aku selalu berdoa akan kesadaranmu, tetapi aku takut Sofi, aku takut aku tidak sanggup menghadapi segalanya nanti" lirih Alfonso menatap wajah teduh ini
"Tuan, Yang Mulia Stephanus memanggil anda Tuan" ucap filips memasuki kamar
"Ada apa filips? bukan kah sudah ku katakan kepada semua orang bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan kamar ini?" kesal Alfonso.
Filips menghembuskan nafas
"pergilah sebentar Tuan, saya akan menjaga nona. Kurasa ada hal yang penting yang ingin dibicarakan oleh Yang Mulia" ucap filips
"Jangan berani mendekati ranjang, kau mengerti?" ancam stephano dengan tingkat keposesifan meningkat
"Cih aku tidak segila itu tertarik kepada majikan ku, ya walaupun aku pernah tertarik sedikit" batin Filips
*
*
*
"Yang Mulia memanggil saya?" tanya Alfonso
"Ah ya kau sudah datang? Aku tidak menyangka kau keluar dari kamar mu. Begini, kau tentu tau bukan? Carlos sudah tidak semuda dulu lagi. Kerajaan ini membutuhkan panglima pengganti. Apa kau bersedia Alfonso?, ah ya maafkan aku, seharusnya stephano lah yang mengatakan ini kepadamu, tetapi ia merasa segan memerintah kakaknya sendiri" jelas Stephanus
"Maafkan saya Yang Mulia, tetapi saya sudah berjanji kepada istri saya, bahwa saya tidak akan mengambil jabatan di kerajaan manapun lagi. Saya tidak mau membahayakan nyawa saya maupun istri saya lagi" tolak Alfonso dengan rasa hormat
"Ayah, panggil aku ayah, kau menantuku bukan?. sudah kuduga Alfonso, kau pasti menolak itu. Hmmm Apakah kau bisa membujuk filips? Aku memanggilmu kemari agar filips tidak mendengar perkataan kita. Aku melihat filips sangat sempurna untuk menjadi panglima" ucap Stephanus
"Aku akan mencoba berbicara dengan filips ayah" jawab Alfonso yang juga setuju jika filips yang melanjutkan kedudukan dan jabatan dari Carlos
"Bagaimana? apa sudah ada perkembangan dari putriku?" tanya Stephanus yang sudah tau akan jawabannya yang pasti blm ada perkembangan.
"Belum ada perkembangan Yang Mulia, Sofi masih tertidur pulas" jawab Alfonso sedikit lesu
"Hmm, Apa kau tidak lelah menjaga putriku setiap hari? Kau masih muda nak, kau.."
"Apa maksud ayah? Jika ayah telah jenuh merawat istriku, aku bisa membawanya ke rumahku, tidak ada yang berubah perasaanku kepada istriku, dia tidak bisa digantikan oleh siapapun" potong Alfonso kesal
"Hey nak, apa maksudmu? aku tidak menyuruhmu menikah lagi, itu bukan hak ku. Aku belum meneruskan perkataan ku" kesal Stephanus kepada menantunya yang sangat tempramen ini
"bukan? ekhemm maafkan aku ayah" ucap Alfonso menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Kau masih muda Alfonso, kau bisa mengambil beberapa jabatan atau pekerjaan di kerajaan ini. Kau pintar dan kuat, apa itu hanya kau gunakan untuk merawat Puteri ku saja?" tanya Stephanus
"Apa ayah pikir aku sangat miskin karena tidak punya pekerjaan? ayah tenanglah, Sofi tidak akan kubiarkan kelaparan ayah" kesal Alfonso lagi
"Hah, kurasa apa yang diucapkan oleh stephano ada benarnya. Cuma filips yang mampu bersabar menghadapimu, pergilah kau sudah merindukan Sophia bukan?" tanya Stephanus seraya tersenyum jahil.
Setelah kepergian Alfonso, senyum itu perlahan memudar.
Mata keriput itu kembali berkaca kaca mengingat perkataan tabib yang mengatakan kemungkinan Sophia sadar sangat kecil.
"Bangunlah puteriku, semua orang menunggumu" ucap Stephanus perlahan. Nyatanya ia masih belum bisa mengatakan itu kepada Alfonso
Sebenarnya ia memanggil Alfonso untuk mengatakan berita mustahil itu. Tetapi melihat semangat dan binar Dimata Alfonso setiap mendengar nama puterinya, membuat nyalinya ciut.
tok..tok..tok..
Terdengar ketukan di pintu kamar Stephanus
"Masuklah" ucap Stephanus
Ia melihat sang putera, stephano datang mengunjunginya
"Ada apa ayah? ayah memanggilku juga?" tanya stephano
"Ya, ayah memanggilmu nak, tadi tabib melaporkan hasil pemeriksaan terbarunya kepada ayah, tetapi..tetapi adikmu tidak akan bisa pulih stephano, sangat kecil kemungkinan ia bisa sadar" lirih Stephanus
Stephano terdiam menatap kosong kedepan
"Apa..apa kakak sudah mengetahui ini ayah?" tanya stephano
Stephanus menggeleng memancing hembusan nafas kasar stephano
"Ayah pikir biarlah keadaan tetap begini" ucap Stephanus pasrah
"Ayah membiarkan kakak hidup dengan harapan palsu itu setiap saat? Mengapa tidak memberitahu kakak ayah, Setidaknya kita bisa menghentikan pengobatan dan membiarkan Sophia tenang" ucap stephano
BRAAKKKK
Keduanya dikejutkan dengan suara buku buku yang terjatuh
Stephano dan Stephanus menoleh ke sumber suara
"Ka..kakak" lirih stephano
"Maaf, aku mengganggu pembicaraan kalian, aku hanya ingin izin untuk membawa buku buku ini dari perpustakaan kerajaan, ke kamarku. Aku ingin membacanya sembari men..menjaga istriku" lirih Alfonso bergetar
"Kau mendengarnya bukan?" tanya stephano
"Tidak, aku tidak mendengar apapun" ucap Alfonso memilih abai dengan kenyataan itu
"Kak berhentilah kabur dari masalahmu!!! Dia sudah tidak bisa kita selamatkan, Biarkan dia beristirahat dengan tenang kak!!" bentak stephano yang merasa kesal, setiap hari permasalahan yang harus dicemaskan hanya Sophia dan Sophia
Padahal, banyak masalah kerajaan yang belum usai, perekonomian belum meningkat, perebutan kekuasaan kekaisaran belum dirancang, dan yang paling penting, semua orang mengatakan untuk menunda pernikahannya dengan amora hingga adiknya sadarkan diri
BUGGHHH
kembali, ya alfonso kembali memukul Stephano atas kekurangajaran nya.
"Apa maksudmu HAA!!! Menyerah? Kau ingin aku menyerah menunggu istriku? Mengapa kau tidak menyerah saat menunggu Amora Hah? Kau juga memakan waktu berbulan bulan bukan? Mengapa tidak kau saja yang menyerah sialan!! mengapa harus aku!!!" balas Alfonso memukul Stephano bertubi tubi
Dugghh
dughhh
"KALIAN BERDUA BERHENTI" Tegas Stephanus yang hampir sudah terbiasa dengan perkelahian ini
Keduanya selalu bertengkar setiap bertemu.
Akan tetapi, saat tidak bertemu, keduanya diam diam saling menanyakan kabar kepada Stephanus
Alfonso menghentikan pukulannya. Menghirup nafas dalam, menetralkan emosinya
"Sebelum kau mengatakan sesuatu tentang istriku, lihat dulu calon istrimu. Adikmu sendiri menderita karena ulah ibu dari calon istrimu. Kau merawat Puteri dari manusia yang mencoba membunuh adik dan kakakmu? kau sama saja dengan bajingan tua itu, dia merawatmu dengan melukaiku" geram Alfonso melangkah cepat meninggalkan kamar Stephanus
DEGG
Kata kata itu menusuk jantung stephano
"Aku kembali membuat keputusan yang bodoh ayah" sendu stephano mengembun
...****************...