IT HURTS MR. COMMANDER!!

IT HURTS MR. COMMANDER!!
CH 83. ALFONSO YANG DULU TELAH KEMBALI


Beberapa hari berlalu, alfonso bersiap menuju kerajaan menghadap permaisuri yang belakangan ini menggila akan sikap abai Alfonso.


"Sayang aku akan menemui Permaisuri dulu ya, Besok rumah kita akan selesai. Kita akan pergi besok. Aku akan mengundurkan diri dari kekuasaan mengerikan ini" gumam Alfonso mengelus mantel sophia dengan sayang


.


.


.


"APA MAKSUDMU PANGLIMA? KAU MENGUNDURKAN DIRI?" tanya permaisuri murka sesaat Alfonso menemuinya setelah beberapa hari mengabaikan panggilannya.


"Iya Yang Mulia. Aku mengundurkan diri. Aku tidak perduli dengan atau tanpa izinmu" ucap Alfonso tegas menatap manik merah Permaisuri


"Kau tetap mengundurkan diri bahkan saat istrimu sudah tiada?" tanya permaisuri emosi


Alfonso mengernyitkan dahinya


"Bahkan saat istriku tiada? Apa maksudmu? apa kematian istriku ada hubungannya dengan pengunduran diri ku dulu?" tanya Alfonso merasa sedikit janggal. Permaisuri berkata seolah olah Sophia adalah batu hambatannya


Alfonso mendekat perlahan dengan menatap tajam mata permaisuri yang berkeringat dingin


"Panglima maksudku"


"KATAKAN SEMUANYA WANITA SIALAN!!!" teriak Alfonso yang mulai memahami segalanya.


Keras kepala permaisuri yang mendesak kematian Sophia tidak semata mata karena keturunan penghianat.


Alfonso semakin mendekat mendesak permaisuri yang sudah sangat menempel pada sandaran kursi kekuasaan bekas suaminya.


"YA!! Aku membunuh istrimu agar dia tidak menghalangimu untuk tetap mengabdi di kerajaan ini. Sebelumnya kau mengundurkan diri demi keselamatan istrimu. Sekarang istrimu telah kami bunuh, apa lagi alasanmu berhenti HA!!!!" bentak permaisuri


Alfonso menggigil mengepalkan tangannya.


Matanya memerah rahangnya menegas.


Aura membunuhnya kembali. Aura ini membuat siapapun menahan kepala mereka agar tertunduk


"DASAR SIALAANN!" teriak Alfonso mencekik permaisuri yang seketika banyak prajurit yang menodongkan pedang kepada Alfonso.


"Kau menekanku, memanipulasiku agar aku membenci istriku!!!! Kau menekan aku agar menyiksa istriku sendiri. DASAR JAL*NG!!! teriak Alfonso memperkuat cekikannya membuat Permaisuri tidak bisa bernafas dengan mata melotot.


Keadaan menjadi tidak terkendali. Panglima kembali menjadi sosok yang mereka kenal seperti dulu.


Beberapa waktu belakangan ini mereka terbuai oleh sifat tenang Alfonso yang nyatanya memiliki penjinak dibelakangnya


Sekarang sifat Alfonso kembali menjadi Alfonso Yang memiliki aura pembunuh.


Sifat tenang beberapa waktu lalu hilang entah kemana.


"Panglima!!! Lepaskan tanganmu sekarang juga" perintah pelayan tua sang kaisar.


Mendengar suara itu, Alfonso melepaskan cekikannya.


Alfonso memutus pandangan kepada permaisuri dan menatap tajam Perlahan pada pelayan kaisar.


Pria ini. pria inilah salah satu penyebab penderitaan Sophia.


Pria ini yang sangat filips benci. Filips selalu mengatakan jangan menemui pria ini. Tetapi desakan pria ini dan tekanannya yang membawa nama kaisar serta penyesalan dan sumpah Alfonso, membuat Alfonso mengikuti perintah pria ini.


Pria ini yang paling berperan dalam memanipulasi segalanya.


Pikiran Alfonso berkecamuk. Tanpa aba aba, Alfonso merebut satu pedang yang terarah kepadanya mendekati pelayan kaisar dengan langkah cepat dan


CETASSSS!!!


Kepala itu terpisah dari tubuhnya tanpa bisa ia menghindar terlebih dahulu karena pergerakan kilat sang panglima agung dan juga ketajaman pedang yang berkilau itu.


Semua orang yang ada di ruangan terdiam menyaksikan gelindingan kepala pelayan setia kaisar yang juga memiliki kedudukan yang amat disegani disini.


Lutut mereka menggigil ketakutan


Termasuk permaisuri membatu. Ia kini menyadari bahwa ia telah memancing amarah sang penguasa yang hilang arah ini


Permaisuri terlalu gelap mata melihat alfonso kehilangan penuntunnya waktu itu. Jadi ia kalap memerintah Alfonso sesuka hati.


Ia mengabaikan sifat Alfonso yang dulu. Mesin pembunuh kekaisaran


"KALIAN SEMUA SIALAN!!! ISTRIKU MENANGIS SEPANJANG HARI KARENA ULAH KALIAN SEMUAAA!" teriak Alfonso meneteskan air matanya.


para prajurit dan petinggi kerajaan yang baru hanya bisa tertunduk dengan ikut meneteskan air mata.


Siapa yang tidak tau bagaimana sayangnya panglima ini terhadap istrinya.


Pasti tidak mudah bagi pria ini menyaksikan penghakiman istrinya sendiri.


"DAN KAU!!!" Ucap Alfonso mendekat kearah permaisuri yang gemetar ketakutan mendesak mundur walaupun punggungnya sudah menyentuh sandaran kursi belakangnya.


"Lindungi permaisuri" ucap petinggi kerajaan yang walaupun membenci permaisuri tetapi tidak mungkin membiarkan kerajaan kosong tanpa pemimpin.


"MINGGIR KALIAN SEMUAA" Bentak Alfonso menebas kepala siapapun yang menghalanginya.


Aula ini kini basah oleh darah yang menutupi lantai kerajaan.


Pertumpahan darah besar besaran terjadi di aula ini


Alfonso bahkan ingin membunuh mereka semua yang ia anggap sebagai alasan derita Sophia


Sampai Bibi Ma datang memeluk Alfonso menghentikannya


"Berhentilah nak, berhenti sayang. Bukan begini menyelesaikan masalah. Bibi mohon bertenti" mohon bibi Ma menangis memeluk erat Alfonso yang seketika menurunkan tangannya berhenti.


Alfonso terdiam memandangi bibi Ma dan berlutut.


"Bibi, istriku bibi, bagaimana bisa aku menebus kesalahanku kepadanya bibi, Istriku meninggalkan aku, tolong aku bibi. Aku tidak bisa menghirup nafas dengan benar" ucap Alfonso menangis berlutut di hadapan bibi Ma.


"Iya nak bibi paham. Kita pulang dulu yaa, ayo kita pulang dulu. Kita jangan berbicara disini" Pinta bibi Ma seraya menghapus air matanya melihat kekacauan pria yang dia anggap sebagai putranya ini.


Bagai kerbau yang di cucuk hidung, Alfonso hanya mengikuti perintah bibi Ma.


Hanya wanita ini yang bisa ia percaya sekarang.


***


Sesampainya dirumah, Alfonso kembali meraung menangisi segalanya.


"Aku menyiksanya bibi, Aku memukulnya. Aku merasa tertekan dengan perintah mereka. Aku sangat bodoh" tangis Alfonso memeluk bibi nya.


Bibi Ma hanya bisa menepuk nepuk Alfonso.


"Sophia sudah bahagia disana nak, dia akan sedih melihatmu seperti ini" lirih Bibi Ma.


Alfonso terdiam memandangi bungkusan bungkusan warna warni ini


"Aku bodoh sayang aku bodoh, beri aku hukuman dari atas sana" racau Alfonso dalam hati


Bibi Ma tidak dapat membendung air matanya


Segala perkataan penyesalan Alfonso sangat menyayat hatinya.


"Bibi dengar dari bisik bisik pasar, kau membangun rumah di pinggir sungai kan? Mengapa kita tidak pindah segera. Bibi ikut yaa, biar bibi bisa menjagamu" mohon bibi Ma menghibur Alfonso.


Alfonso menegakkan tubuhnya.


"Iya bibi, aku ingin pindah. Lingkungan kerajaan sangat mengerikan. Ucap Alfonso serak. "Terserah jika bibi ingin ikut atau tidak." lirih Alfonso berdiri berjalan menuju kamarnya.


Walaupun dengan Isak tertahan, Alfonso mengemasi segala pakaian milik Sophia.


Barang barang, penerangan, hiasan, semuanya Alfonso akan angkut kerumah barunya.


Ia menyibukkan dirinya dengan berkemas.


.


.


.


Diluar, bibi Ma memandangi semua bungkusan ini satu per satu.


Ia kembali menangis. Ternyata Sophia meminta banyak rajutan untuk ini


"Bagaimana penguasa bisa memberi mu cobaan yang sangat berat dengan hati mu yang sebersih itu nak, Bibi tidak membutuhkan ini sayang, bibi hanya membutuhkanmu. Suamimu sangat kacau. Tolong bantu suamimu dari atas sana" lirih bibi Ma menangis memeluk syal yang Sophia buat untuknya.


"bibi akan memberikan ini semua kepada pemiliknya nanti. Tenang saja Sophia" lirih bibi Ma


...****************...


sorry yaa kalau up nya ga banyak lagi


Lagi KKN😭🫂


gada waktu buat nulis🤧🦖