Terjebak Cinta Om Duda

Terjebak Cinta Om Duda
Rumah lama


Mama Rendy mencari Rendy di seluruh ruangan rumah sakit hingga kaki nya sendiri pegal tapi tidak menemukan anak lelakinya itu,Dia tidak percaya kalau Rendy tidak ada.


"Pak Rendy sudah lama tidak masuk pak dia sedang cuti karena istri nya melahirkan"jelas sang perawat


"Melahirkan?? istri nya yang mana?" tanya papa Bianca


"Istri pak Rendy,ibu Carla"


"Carla, perempuan mana lagi pa" ujar mama Bianca


"Bukan nya mama nya baru mau menjodohkan Rendy pa, kenapa Sudah menikah saja, dasar lelaki brengsek dia" umpat mama Bianca kesal


"Siapa yang brengsek,kalian yang brengsek sampai mencari anak saya ke sini,apa anak kalian tidak laku sampai segitu nya"ucap mama Veni yang melihat keluarga Bianca datang mencari Rendy


"Jangan omongan anda, karena anak anda sampai anak kami tidak bisa menikah dengan pengusaha kaya raya" tunjuk mama Bianca


"Hahaha.... pengusaha kaya raya atau pengusaha keliling,jangan terlalu banyak gaya,jika benar buktikan anak saya tidak menyukai anak kalian dan tidak pernah menyentuh anak kalian,anak kalian yang terobsesi dengan anak saya, wajah sih anak saya Tampan dan mapan" ungkap mama Veni sombong


Mama Bianca mendekat ingin menampar mama Veni tapi di halangi para perawat,lalu segera memanggil satpam agar menghentikan pertengkaran ini.


"Lepas!" bentak mama Bianca yang mulai emosi


"Saya mau temui direktur nya" pinta papa Bianca


"Bisa pak tapi dengan cara baik-baik bukan begini" kata satpam


"Ya pa, masalah ini harus segera di selesaikan dan Rendy harus di penjara mama muak lihat gaya mama nya"


"Iya ma"


"Coba saja kalau bisa,kalian yang akan malu dan mendekam di penjara bukan anak saya"ucap mama Rendy


****


Rendy menyisir rambut Carla lembut,dia mengurus Carla dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.


"Besok kita akan pulang sayang,kamu di rumah saja ya,nanti Ardy biar aku yang jenguk sampai kondisi nya stabil dan kita bawa pulang ke rumah"


"Mas,mama bagaimana? aku takut"ujar Carla pelan


Rendy menarik nafas panjang dia juga berpikir pasti sang mama tidak akan bisa menerima Carla begitu saja apalagi kemarin mama nya sempat bilang kalau ingin menjodohkan dirinya.


"Iya mas, rumah kecil juga tidak apa-apa" ujar Carla dan di anggukki Rendy


Ayah Bahtiar dan Nia datang, setiap pagi ayah dan anak ini selalu rutin datang untuk menjenguk Carla hingga siang atau sore.


"Kapan pulang La?" tanya Nia


"Kemungkinan besok mbak"jawab Rendy


"Rumah kalian cukup jauh kalau mbak nggak bisa lihat kamu tiap hari maaf ya la,mbak juga harus mengurus mas Ben dan Juna"


"Iya mbak,ini saja sudah terima kasih" sahut Carla


"Tapi mungkin tidak ke rumah kami mbak,kami ingin mengontrak dulu" lanjut Rendy


"Kenapa?"


"Carla masih trauma dengan mama".


"Ya sudah tinggal di rumah kita dulu saja La,di rumah ayah,kan lumayan dekat dari rumah mbak,ayah pun juga bisa mampir ke sana,iya kan yah?" tanya Nia membuat Ayah Bahtiar terdiam karena dia merasa tidak punya kuasa atas rumah itu,itu rumah Mama Nia bersama nya dulu dan sah untuk Nia bukan dirinya.


"Yah...boleh kan?" tanya Nia lagi


"Ayah terserah kamu nak,ayah tidak bisa memutuskan kalau kamu boleh ya ayah Alhamdulillah, karena hanya kalian anak yang ayah punya" jawab Ayah Bahtiar


"Ya boleh lah yah, apalagi Carla sudah ada Rendy yang menjaga nya"jawab Nia


"Rumah nya cukup besar dan bersih meskipun satu lantai dan bergaya rumah lama,kalian bisa sewa pembantu untuk membantu Carla" usul Nia


Carla menatap sang suami seperti minta pendapat.


"Terimakasih mbak,saya terlalu banyak merepotkan mbak" ujar Rendy


"Ren,Carla sudah seperti adik kandung ku sendiri,kami cukup lama hidup bersama meskipun banyak pertengkaran tapi tak membuat mbak dendam Ren,jika kaliang ingin tinggal di rumah ayah silahkan mbak justru lebih senang karena rumah itu bisa hidup kembali dan jika mbak ada waktu mbak akan melihat Carla di sana sekalian nostalgia" ucap Nia sambil terkekeh kecil


"Iya, terkadang ayah juga merindukan rumah itu tapi mbak kalian melarang jika ayah tidur di sana sendirian takut di datangi gondoruwo"Celetuk ayah Bahtiar sambil terkekeh membuat mereka semua tertawa.


"Ayah ada-ada saja" sahut Rendy