
"Lalu solusi nya apa ma,kepala ku mau pecah kalau terus begini, semua butuh uang sedang kan tabungan ku menipis bisa-bisa jadi gembel kita"ujar Carla kepala nya pusing karena keuangan nya benar-benar tidak tertolong lagi.
"Pilihan nya hanya dua kamu gugur kan anak itu dan cari lelaki kaya untuk menghidupi kita atau kita kembali pada ayah Bahtiar si tua bangka itu dan kita akan makan hati karena peraturan nya"
"Aku lebih memilih yang kedua ma,aku tidak mau menggugurkan anak ku lagi, biarlah makan hati tapi ayah Bahtiar akan bertanggung jawab memberikan kita makan dan tempat berteduh setidaknya sampai aku melahirkan"
"Tapi di mana kita harus meletakkan wajah kita mengemis pada lelaki tua itu sudah pasti dia akan besar kepala Carla! apalagi kalau menantu nya Ben tau bisa-bisa kita di hina habis-habisan dengan lelaki sombong itu"
"Jika ayah mau menerima kita,kita bisa manfaatkan ayah ma, tidak akan berani si Ben menghina kita kalau ayah mau menerima kita,ayah itu orang yang penyayang ma sudah pasti dia memaafkan mama dan aku"
"Tidak! mama tidak mau"
"Ma turunkan ego mama,kita tidak punya pilihan lain ma, sampai anak ini lahir saja,aku akan bekerja setelah ini! apa mama mau kita jadi gembel? lebih baik mengemis pada ayah dari pada di jalanan ma,malu!"
"La,mama sudah bosan di hina terus la,baru saja dapat menantu kaya belum bisa menikmati sudah begini,kenapa ya kita apes sekali?" keluh mama Dina
"Ntah lah ma,aku juga tidak tau yang jelas saat ini aku hanya fokus pada anak ku ini ma"
"Mama akan tuntut Pieter mama ingin bagian untuk kamu la,kamu sudah mengandung anak nya jadi harus ada sepertiga bagian untuk kamu"
"Ma aku sudah pusing jangan di tambah pusing lagi, terserah mama mau apa aku melihat nya saja takut ma,dia seperti iblis yang tidak memiliki perasaan"
"Kalau kamu takut mama yang akan hadapi,dia baru iblis mama sudah Dajjal yang mama kuasai"sahut mama Dina
"Apa tidak akan merepotkan kalian?"
"Yah,kenapa musti repot di rumah ada tiga pembantu dan satu Baby sister jadi tidak ada yang akan repot yah jika ayah ingin aku menambah pembantu akan aku tambahkan"
"Tidak! ayah hanya takut kalian terganggu"
"Yah rumah kami cukup luas, meskipun menampung satu Rt belum terganggu" ujar Ben membuat Nia menggeleng kan kepala nya dari dulu suaminya ini memang irit bicara tapi sekali bicara Ben ingin semua mengenal nya dengan kekuasaan.
"Bagaimana yah?" tanya Ben,Ayah Bahtiar menatap Nia dia bahagia melihat Ben care pada nya dan sayang pada keluarga tapi dia masih bingung.
"Yah,aku ingin merawat ayah,jika ayah tidak keberatan habiskan hari tua ayah bersama aku dan keluarga ku" ujar Nia lembut dan akhirnya ayah Bahtiar mengangguk kan kepala nya,Ben dan Nia memang tidak menceritakan tentang Pieter takut ayah nya malah menjadi beban pikiran.
"Ya sudah siapkan apa yang ayah butuhkan kita berangkat hari ini"
"Kenapa tidak besok saja atau akhir pekan?" tanya ayah Bahtiar
"Ini terlalu terburu-buru"
"Hari ini saja yah mumpung kami ke sini dan bisa membantu ayah" jawab Ben,dia tak ingin mengulur waktu lagi takut mama Dina dan Carla yang datang duluan karena kemarin Pieter sudah di tetapkan sebagai tersangka jadi sudah di tahan.
"Ya sudah ayah siap-siap dulu" jawab Ayah dan di anggukki Nia,Ben bisa tersenyum lega dia tak ingin perjuangan nya sia-sia jika ayah kembali bersatu dengan mama Dina.