
"Brugk"
"Aw...."
"Maaf bu"
"Nia!"
"Mama!"
"Ck,,, ternyata anak sombong ini yang menabrak ku,sana jangan sentuh aku,jijik! ujar mama Dina sambil mengusap tubuh nya karena Nia berusaha membantu nya
"Ayo sayang" ajak Ben menarik tangan Nia cepat.
"Hey,jangan mentang-mentang kamu orang kaya seenaknya saja main pergi bagaimana pun juga saya ini mantan mertua kamu meskipun saya tidak sudi punya menantu seperti kamu" oceh mama Dina
"Ayo sayang" ajak Ben lagi karena Nia memberhentikan langkah nya mendengar kan ocehan mantan mama nya ini.
"Mas"
"Sudah tidak usah du dengar kan"
"Menantu durhaka kamu" pekik Mama Dina menunjuk Ben, sedangkan Ben melihat kiri kanan seperti orang bingung.
"Anda bicara pada saya?" tanya Ben
"Ya kami,pada siapa lagi, katanya orang kaya tapi bodoh!" kesal mama Dina
"Yang anda katakan siapa?" tanya Ben mendekat pada mama Dina dengan wajah sangar nya.
"Ka-mu"jawab mama Dina gugup karena Ben seperti hendak memakan nya hidup-hidup.
"Saya bukan menantu kamu jadi di mana letak durhaka nya saya dan satu lagi tadi kamu yang mengatakan istri saya anak sombong jelas saja kami tidak mau menegur kamu karena memang kami orang kaya yang sombong seperti yang kamu katakan jadi di mana letak kesalahan kami?"ujar Ben sinis
"Mas sudah" bisik Nia
"Jangan sombong kamu,saya mantan istri ayah Nia, hargai saya"
"Hanya mantan bukan? kamu tau di mana letaknya mantan,di tempat sampah! berapa harga mu?" ujar Ben membuat Mama Dina bertambah kesal
"Jangan kurang ajar kamu Ben"
"Meskipun kamu perempuan saya tidak akan takut karena perempuan seperti kamu memang harus di beri pelajaran agar tau siapa lawan bicara mu,saya bisa saya membuat kamu tak bisa bicara detik ini juga dengan kekuasaan saya"
"Kamu mencoba mengancam ku?"
"Bukan mengancam hanya memberitahu kalau saya lebih berkuasa dari pada anda atau kamu mau membanggakan menantu baru mu,jika ia panggil dia sekarang kemari"
"Mas,ini sudah malam jangan ladeni dia nanti keburu habis jam besuk nya mas" ingat Nia
"Jangan takut sayang jika jam besuk nya habis untuk kita besok pagi rumah sakit ini akan berpindah tangan atas nama kamu " sombong Ben membuat Dina menelan saliva nya.
Wajah Ben terlihat sekali seperti ingin menerkamnya, selama ini Ben menghormati ayah Bahtiar sebagai mertua nya dan sekarang mama Dina bukan lagi istri mertua nya jadi Ben bebas meluapkan isi hati nya.
"Mas jika terus berdebat sama saja kamu dengan dia, sudah lah biarkan dia dengan kehidupan nya sekarang anggap kita tak pernah mengenal nya" ucap Nia lalu segera pergi meninggalkan suaminya karena Ben masih betah meladeni mantan mama nya itu.
"Sayang tunggu!!!"pekik Ben yang di tinggal Nia
"Kenapa meninggalkan ku?"
"Kamu terus meladeni nya"
"Sayang sesekali dia harus kita tampar dengan kesombongan kita agar dia tau sedang berhadapan dengan siapa"
"Ingat mas di atas langit masih ada langit"
"Untuk dia tidak berlaku pepatah itu sayang,biar saja dia kebakaran jenggot"
Nia hanya menghela nafas berat,Ben memang sengaja mengeluarkan uneg-uneg nya yang selama ini terpendam karena segan pada sang mertua lelaki nya.