
Meta menatap Devan yang baru datang, entah sudah berapa lama mereka tak pernah bertemu seperti ini. Penampilan devan pun terlihat banyak berubah, padahal biasanya Devan lebih cuek dalam urusan penampilan tapi kali ini dia terlihat lebih rapi. Entah karena mungkin sekarang dia bekerja sebagai orang kantoran atau memang karena sekarang dia sebagai salah seorang penyanyi.
"Devan...aku pikir kamu gak bakal datang!"
Devan mendudukkan dirinya di depan meta.
"Bagaimana rasanya menunggu?" tanya Devan lagi.
"Tentu saja aku gelisah, takut kamu gak bakal datang! Lagi pula bukannya kamu yang mengajakku buat ketemuan, tapi kenapa kamu yang justru terlambat?"
"Yah begitulah rasanya menunggu seseorang, sama kayak aku yang selalu nunggu kamu!"
Meta mengernyitkan dahinya masih bingung dengan arah pembicaraan Devan yang berubah serius.
"Maksud kamu apa sih Van? Oh iya, kamu dateng-dateng bukannya tanya kabar malah tanya kayak gitu!"
"Sorry, aku cuma mau to the points aja kenapa aku ngajak kamu buat ke sini!" kata Devan serius.
"Van, ini masih kamu kan? Aku tahu Van aku memang pernah salah karena nampar kamu waktu itu, tapi kan aku udah minta maaf, tapi aku juga masih bingung sama kamu, kenapa kamu seolah ngejauh dari aku selama ini. Kamu yang aku udah anggap sebagai sahabat justru juga pergi menjauh dariku. Apa salahku sefatal itu Van sampai buat kamu menjauhiku?" tanya meta serius.
Bertahun-tahun belakangan ini seolah merasa kehilangan sosok sahabat yang biasanya selalu ada buat dia.
"Jujur met, pada saat kamu menamparku waktu itu, entah kenapa seolah tamparan kamu menyadarkan aku kalo aku memang tak pernah ada di hatimu. Dan disaat kamu di rawat semalaman di rumah sakit aku juga selalu di sisimu meskipun kamu gak pernah tahu kalo aku selalu ada buat kamu!"
"Jadi...waktu aku dirawat di rumah sakit itu kamu jagain aku?"
Meta baru menyadari kejadian itu, bahkan waktu itu meta sama sekali tak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit. Karna waktu itu dia pingsan, Devan yang menungguinya semalaman pun hanya meminta tolong pada perawat untuk memberitahu keluarga meta mengenai kondisi meta saat itu.
"Iya, aku nungguin kamu semalaman waktu kamu di rawat, dan pada saat itu juga aku mutusin buat ngejauh dari kamu! Aku mencoba sekuat tenaga supaya bisa fokus kuliah dan berkarier, berusaha melupakan semua perasaanku sama kamu!!"
"Van....!!"
"Aku tahu meta, kita memang gak bisa bersama, karna dihati kamu hanya ada Rendi! Tapi Rendi udah gak ada met sekarang!!"
"Van....aku gak tahu mesti ngomong apa ke kamu, apa kamu nyuruh aku ke sini cuma mau ngungkit soal masa lalu? Kalo memang iya sebaiknya aku pergi, buang-buang waktu aku nunggu kamu dari tadi!"
"Kenapa kamu jadi tersinggung? Harusnya aku yang marah sama kamu karena selama ini kamu udah buat aku menunggu begitu lama!"
"Sejak kapan aku nyuruh kamu buat nunggu aku, bukannya dari dulu aku juga sudah bilang ke kamu mengenai perasaanku ke kamu!"
Devan terdiam sejenak, " Apa memang sedikitpun tidak ada aku di hatimu meta?" kata Devan.
"Van....!!"
Devan meraih tangan meta, menatapnya dengan penuh keseriusan, "Tolong met....jawab pertanyaan ku dengan jujur...apa tidak ada aku sedikit pun dihati kamu?"
"Aku mohon Van, jangan tanyakan hal itu lagi, aku juga gak mau jawab pertanyaanmu itu. Aku masih banyak urusan, aku mau pergi sekarang!" kata meta.
Meta beranjak dari tempat duduknya, namun buru-buru Devan menarik tangannya.
"Kali ini aja kamu jawab pertanyaan ku met, apa sedikitpun tidak ada aku di hatimu?! Kamu tahu berapa lama aku menunggu kamu, bahkan aku selalu ada di belakang meski ada Rendi di sampingmu. Bahkan aku menjaga kamu melebihi rendi, bahkan kamu juga tahu kenapa selama ini aku sampai jauh-jauh ke Jerman untuk kuliah di sana, semuanya karena aku ingin selalu ngelindungi kamu! Apa kamu gak pernah lihat pengorbanan aku selama ini!"
Devan menarik tangan meta dan menghempaskannya, sehingga meta jatuh ke pelukan Devan, "Aku tulus sayang sama kamu, aku mohon beri kesempatan aku buat ada di samping kamu selamanya, aku tahu aku gak bakal bisa jadi Rendi. Tapi asal kamu tahu, selama ini aku menghilang bukan berarti aku menjauh dari kamu, tapi aku cuma mau kamu menyadari arti keberadaan ku selama ini. Lagi pula aku memang ingin fokus untuk mengejar karierku supaya aku bisa pantas dan bisa sebanding dengan Rendi di mata kamu!!" kata Devan yang masih memeluk meta.
"Beri aku kesempatan meta, ijinkan aku menepati janjiku dengan Rendi!"
Buru-buru meta langsung melepas pelukan Devan itu, " Ada perjanjian apa antara kamu dengan Rendi?" tanya meta bingung.
"Sebelum Rendi meninggal dia pernah meminta tolong sama aku, Rendi memintaku supaya aku bisa menggantikan dia untuk menjaga kamu, karena bagi Rendi aku adalah orang yang tepat yang bisa menjagamu"
"Apa Rendi benar-benar bilang seperti itu?"
" Terserah kamu mau percaya atau nggak sama aku, tapi kamu tah kan aku gak pernah berbohong sama kamu! Tapi terlepas dari itu, aku memang sudah janji dengan diriku sendiri untuk bisa selalu menjaga kamu!"
Devan meraih tangan meta, menatap meta intens, bisa jadi ini salah satu momen serius yang bisa di hitung dalam hidupnya.
"Aku....aku....aku benar-benar gak tahu mesti jawab apa sama kamu Van!!"
"Aku tahu kamu pasti bingung setelah semua yang terjadi, tapi aku sekarang sudah lega karena sudah mengutarakan semua hal yang selama bertahun-tahun aku pendam sendiri!"
"Kasih aku waktu untuk berpikir Van, karna kamu pasti tahu bagaimana perasaanku sama Rendi selama ini, tidak mudah bagiku untuk melupakan Rendi, bahkan bertahun-tahun setelah kepergian Rendi pun bayangan tentang Rendi pun masih selalu ada di benakku!"
"Aku tahu meta, tapi sampai kapan kamu tersiksa dengan perasaan kamu itu. Aku juga tahu sampai kapan pun kamu juga gak bakal bisa ngegantiin Rendi di hati kamu!"
"Tapi yang harus kamu tahu, aku benar-benar tulus sayang sama kamu, aku benar-benar ingin serius sama kamu! Aku pengen mengisi waktu-waktu kita di masa depan dengan kebahagiaan-kebahagian lainnya, karna hidup ini harus berjalan dan kamu gak bisa selamanya terpuruk dengan masa lalumu!"
"Aku tahu aku mungkin tidak akan bisa menjadi Rendi, tapi aku akan selalu berusaha menjadi orang yang akan membuatmu bahagia dan selalu ada buat kamu. Tapi dengan segala kekurangan dan kelebihan ku sendiri, bukan sebagai rendi."
Devan tiba-tiba berlutut di depan meta, sedang orang-orang yang ada di sekitar memperhatikan mereka, namun Devan tak mempedulikan itu.
Devan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku celananya mengeluarkan cincin bermata berlian yang sungguh terlihat sangat cantik.
"Will you marry me? Kita sudah melewati banyak hal, dan aku gak pengen kehilangan kamu lagi. Aku pengen memiliki kamu seutuhnya, mengisi hari-hari bersama!!"
Meta terpaku sekaligus malu karena banyak orang yang melihat mereka berdua saat ini.
"Van...aku gak bisa jawab semuanya sekarang, ini terlalu tiba-tiba dan terlalu cepat buat aku!!"
"Meta....please....answer my question....! Kalo pun kamu jawab nggak itu berarti aku memang harus menjauhi kamu selamanya!!"
"Tapi Van.....!!!"
"Please....!!" kata Devan dengan nada serius dengan sedikit memohon.
Meta berpikir sejenak, mungkin semua terlalu cepat, namun meta tahu tentang perasaan Devan dan pengorbanannya.
Meta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Yes, I Will!!" jawab meta yang spontan membuat Devan langsung bangkit dan memeluk meta erat.
"Are you serious?" tanya Devan lagi sambil memeluk meta.
"Iya, aku serius!! Aku akan memberi kesempatan buat kamu mengisi masa depanku!" kata meta.
Entah keberuntungan apa saat ini yang membuat meta mau menerima lamaran Devan, rasanya semua terasa seperti mimpi baginya, Tiada hentinya Devan tersenyum sumringah di depan meta, seolah tak percaya mimpinya selama ini menjadi kenyataan.