
Hampir seminggu siswa kelas 3 disibukan dengan ujian kelulusan sekolah. Begitu pula dengan meta, hampir seminggu ini dia benar-benar fokus belajar dan mempersiapkan untuk mendaftar kuliah di Jerman. Meta memang benar-benar ingin memperoleh nilai yang sempurna dalam ujian kelulusan.
Kuliah ke Jerman adalah pilihannya selanjutnya, meski meta tahu Rendi sedari awal tak setuju jika mereka berjauhan.
Hari-hari terakhir di kelas 3, meta hanya ingin fokus pada ujian, bahkan hampir satu bulan ini dia tidak pernah jalan-jalan atau sekedar makan bersama dengan Rendi. Meta memang ingin menjadi kutu buku, disela-sela waktu istirahatnya pun meta banyak menggunakan waktunya untuk ke perpustakaan sekolah. Meski kadang sebenarnya Rendi protes akan hal itu.
"Meta, aku boleh ngomong sama kamu?"
Pandangan meta yang semula tertuju pada buku terhenti karena seseorang mengagetkannya.
"Mau ngomong apa?"
Meta mengernyitkan dahi melihat Ardian yang sudah berdiri di depannya. Pasalnya semenjak peristiwa Rendi menyayikan lagu di bis waktu outing Class kemarin Ardian tak pernah mengganggu meta dengan surat-suratnya lagi.
"Tapi gak di sini!"
"Di sini aja aku lagi sibuk!" kata meta cuek.
"Kali ini aja met, setelah itu aku gak akan ganggu kamu!"
Meta pun berpikir sejenak, kemudian mengiyakan Ardian. Saat itu kebetulan Rendi sedang tidak ada di kelas. Meta tidak mau ada salah paham jika Rendi tahu dia bertemu dengan Ardian.
Meta mengikuti Ardian dari belakang.
"Mau kemana sih?" tanya meta, tapi tak mendapat jawaban dari Ardian.
Ardian mengajak meta di gedung belakang sekolah, tempat yang cukup sepi bahkan saat itu tak ada seorang pun yang datang ke tempat semacam itu.
"Ngapain kita ke sini?" tanya meta penuh curiga.
"Aku pengen ngomong sama kamu!"
"Ya udah ngomong aja!"
"Met, aku suka sama kamu! Kamu tahu kan dari dulu semenjak kelas 1 aku sudah suka sama kamu! Bahkan hampir setiap hari aku berusaha merangkai kata-kata indah di suratku supaya kamu bisa nerima cintaku!"
"Kamu kan juga tahu kalo aku udah pacaran sama Rendi!"
"Aku tahu, dan itulah yang membuat aku sakit hati sama kamu. Aku pengen kamu bisa nerima cinta aku!"
"Sorry Ardian, aku bener-bener gak bisa!"
Meta pun hendak pergi dari tempat itu, namun Ardian menariknya dan berusaha memeluknya.
"Jangan gila Ardian! Lepasin gue atau gue teriak!" kata meta meronta.
"Teriak aja met, gak bakal ada orang yang denger!"
Meta pun semakin ketakutan dengan Ardian yang nekat.
"Tolongg!!"
Meta berharap teriakannya itu terdengar oleh orang lain, berharap seseorang ada yang menolongnya saat ini. Waktu itu entah kenapa tak ada seorangpun di situ.
Rendi berusaha membekap mulut meta yang berteriak, sedang meta berusaha melepaskan dari cengkraman Ardian yang begitu kuat.
Meta benar-benar takut saat itu, sedang Ardian masih mencengkeram meta, berusaha untuk mencium meta. Bahkan lengan baju seragam meta sobek karena cengkraman tangan Ardian.
Brukkkkk
Ardian tiba-tiba terjatuh oleh pukulan yang baru saja mendarat di pipinya.
"Kamu gak papa met!"
Meta pun spontan memeluk Devan karena ketakutan.
"Aku takut Van," kata meta sambil menangis.
"Kamu gak usah takut, ada aku di sini!" kata Devan membalas pelukan meta.
Devan pun mengusap air mata meta dan memberikan jaket hoodienya untuk dikenakan pada meta untuk menutupi bajunya yang sobek tadi.
"Kamu tunggu di sini ya!" kata Devan sambil mengelus rambut meta.
Devan menarik Ardian yang sudah lemas karena pukulan tadi dan Devan mendaratkan pukulan kembali ke Ardian.
"Berani-beraninya Lo nyentuh meta! Gue gak akan lepasin Lo!" kata Devan penuh dengan amarah.
"Van udah, cukup Van!"
Brukkkkk
Ardian pun terjatuh lagi oleh pukulan Devan yang bertubi-tubi.
"Gue gak punya urusan sama lo!" teriak Ardian memegang pipinya yang kini sudah babak belur.
"Apa Lo bilang! Sekarang udah jadi urusan gue, sekali lagi Lo nyentuh meta lagi, abis Lo sama gue!"
Rendi mencengkeram kerah baju seragam Ardian sekali lagi berniat untuk memukulnya lagi.
Plakkkk
"Sialan!!! Lo apain meta sampai dia kayak gitu!"
Rendi yang tiba-tiba datang menarik Ardian dan menghajarnya tanpa ampun.
"Rendi udah Rend!!" teriak meta melerai mereka.
Mendengar suara meta yang tangisnya menjadi-jadi Rendi pun berhenti menghajar Ardian dan menghampiri meta.
"Kamu gak papa kan sayang!" kata Rendi sambil memeluk meta.
"Aku gak papa Rend! Untung ada Devan yang nolongin aku tadi!"
"Makasih Van udah nolongin meta," kata Rendi sekilas pada Devan.
Sambil memeluk meta, Rendi membawa meta pergi dari situ.
Devan pun masih mematung di situ melihat Rendi memeluk meta di depan matanya. Devan hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan rasa perih di hatinya melihat itu.
Devan menarik baju Ardian lagi, berniat untuk memukulnya lagi.
"Awas lo berani-berani macem-macem sama meta lagi!"
"Hahahaha Devan Devan! Ngapain lo belain cewek yang udah pergi sama cowok lain!! Nasib Lo tuh sama kayak gue, sama-sama dicuekin sama meta!!" kata Ardian disisa-sisa tenaganya mengejek Devan.
"Diem Lo!"
Devan mengepalkan tangannya bersiap memukul Ardian lagi, namun dia masih mencoba untuk menahan emosinya melihat Ardian yang sudah terkulai lemas, dan dia lebih memilih meninggalkan Ardian begitu saja di situ.
********
Devan duduk di rooftoop sekolah seorang diri, memandangi langit biru dengan sepoi angin yang berhembus kencang. Devan masih memikirkan ucapan dari Ardian tadi.
"Apa yang dibilang Ardian bener!! Ngapain gue masih belain cewek yang jelas-jelas udah pergi sama cowok lain!!" kata Devan pada dirinya sendiri.
"Bodoh banget sih lo Van!" teriak devan.
Saat ini rasanya Devan frustasi dengan dirinya sendiri.
"Rasanya benar-benar sakit melihat kamu sama dia!"
Devan pun mengambil hp di kantong celananya. Membuka postingan media sosial meta yang jelas-jelas di situ terpampang foto meta bersama Rendi waktu di Singapura kemarin.
"Kenapa kamu lebih memilih dia meta?" pekik Rendi sendiri.
Saat ini Devan benar-benar ingin meluapkan kekesalan yang ada di hatinya seorang diri. Bahkan dengan emosinya Devan memukul tembok beberapa kali sampai tak dia sadari tangannya terluka.
"Aku sayang kamu meta!!!" teriak Devan lagi.
Devan berteriak sekencang-kencangnya meluapkan semuanya. Bisa dipastikan tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya itu.
Devan menahan semua lukanya, bahkan mungkin luka di tangannya itu tak sebanding dengan luka hatinya saat ini.
Devan tertunduk lesu melihat foto-foto meta bersama Rendi. Bahkan Devan melihat kalo meta benar-benar bahagia bersama Rendi saat ini.
"Harusnya aku yang ada di sampingmu met!" pekik Rendi sendiri.
Selama ini Devan sekuat tenaga mencoba menyembunyikan perasaannya dengan meta, berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa di depan meta padahal hatinya terasa perih melihat semua itu.
"Kenapa Lo harus pergi sama Rendi ke Singapura met? Kenapa?"
"Aku benar-benar sakit meta melihat kamu sama Rendi!!"
Seolah berbicara dengan angin yang berhembus Devan meluapkan segala perasaannya.