TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Kiss on the car


Rendi memandangi meta yang sedang menelepon, bertanya dalam hati siapa yang meneleponnya.


"Siapa?" tanya Rendi dengan nada curiga setelah meta menutup panggilannya.


"Kepo banget sih!"


"Ye elah nanya beneran juga!"


"Beneran pengen tahu?"


"Ya iyalah makanya aku tanya, siapa yang telepon?'


Sepertinya Rendi masih terbawa emosi, karena dari kemarin dia merasa kacau setelah mendengar meta ingin pergi ke Jerman


"Pengen tahu aja atau pengen tahu banget!!"


Rendi pun tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Lah kenapa berhenti?" tanya meta heran.


"Jawab gak tadi yang telpon siapa, atau mau aku gelitikin kalo gak mau jawab," kata Rendi mengancam dan bersiap menggelitiki meta.


"Iya, iya, aku jawab tapi gak usah gelitikin juga kali!"kata meta sambil meringis kegelian digelitiki Rendi.


"Makanya dijawab, cuma jawab gitu aja ribet banget sih!"


"Tadi itu mama yang telpon, dia bilang katanya udah ketemu mama kamu!Tuh udah aku jawab!"


"Terus gimana katanya?"


"Ya gitu deh?" kata meta sambil tersenyum sengaja menggoda Rendi yang dari tadi penasaran.


"Ya gitu deh gimana maksudnya, kok kamu ngomongnya jadi setengah-setengah sih?Beneran nih kamu ngerjain aku, jangan-jangan bukan dari mama kamu kan telponnya, jangan-jangan dari Devan, atau dari Ardian. Jangan-jangan kamu?"


"Hush!!!Kamu tuh kebanyakan jangan-jangan Mulu!!Lagian pengen tahu banget sih mama aku ngomong apa!"


"Nih bocah kayaknya digelitikin gak mempan nih, kayaknya minta dicium dulu biar bisa jawab jujur!!"


Rendi pun bersiap mencium meta, namun ditepis oleh meta.


"Eitss maen cium aja nih orang!!"


"Salah siapa nyebelin!"


"Iya deh aku jujur, tadi mamaku bilang tadi udah ketemu mama kamu, terus dia bilang mama ngijinin aku buat nemenin kamu medical check up ke singapur besok sabtu. Puas kan udah aku jawab?"


"Beneran?syukur deh kalo mama kamu ngijinin, soalnya kalo mamamu gak ngijinin, aku bakal nyulik anaknya ke singapur!"


"Dasar, pemaksaan!Kalo aku gak mau pergi gimana?"


"Ya gampang aja, aku juga gak bakal check up!"


"Heleh ngambek, gitu aja ngambek!Cowok kok suka ngambekkan!!"


"Apa kamu bilang?suka ngambekkan!"


Rendi pun mengacak-acak rambut meta dan menggelitiknya.


"Rendi udah ah, geli tahu gelitikin mulu!"


"Salah siapa nyebelin!"


"Rend aku laper deh, kita makan yuk!"


"Ya udah ayok!!Kemana?"


"Ke hatimu!"


"Yaelah nih anak dari tadi ditanyain malah jawabnya ngaco terus, ada angin apa sih sampai kamu jadi berubah kayak gini?"


"Hmmm angin apa yah?Angin cinta kali!!" kata meta masih menggoda Rendi.


"Dasar ini anak, kayaknya dah bucin banget sama aku. Buktinya udah terkena angin cinta!Kalo udah bucin mending kita langsung nikah aja!!"


"Sembarangan, maen ngomong nikah-nikah aja!!"


Rendi pun menatap wajah meta dalam, mendekat dan sengaja mendekatkan wajahnya.


"Kamu tuh udah bikin aku gila, gila karna perasaanku yang aku sendiri gak bisa ngendaliin. Aku gak tahu apa aku bisa kuat bisa berpisah jarak dan waktu sama kamu. Jujur aku berharap kamu gak beneran pergi ke Jerman buat kuliah disana!Tapi aku juga gak mau jadi batu penghalang masa depan kamu!"


Rendi menatap meta begitu dekat dengan nada bicara yang serius.


"Rendi, aku harap kamu ngerti keputusanku!"


"Aku juga mencoba untuk mengerti kamu!Aku cuma takut, takut kehilangan kamu, takut dengan jarak yang bakal misahin kita. Aku takut kita gak bisa bersama-sama lagi seperti kayak gini!"


"Sst kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Kamu harus percaya sama aku, aku juga akan berusaha percaya sama kamu!"


Rendi memalingkan wajahnya dari meta, memandang ke depan, mengambil posisi duduk seperti semula. Pandangannya kosong menatap hiruk pikuk lalu lalang jalanan di depannya.


Rendi pun melajukan mobilnya lagi.


"Makan di depan situ aja Rend, warung mie ayam!Di situ enak kok!"


"Ow ya udah kita ke situ aja!"


Meta tahu sebenarnya Rendi menyimpan keresahan.


"Udah dong jangan ditekuk terus mukanya! Ayo turun!"


"Mendadak jadi gak selera makan, aku nemenin kamu makan aja ya?"


"Gak bisa gitu dong, udah ayok pasti kamu bakalan ketagihan kalo udah tahu rasanya!"


Meta menarik Rendi masuk ke dalam dan memesankan makanan dan minuman untuk Rendi meski sebenarnya Rendi enggan untuk memakannya.


"Aku suapin ya,aaaaaaa!"


Rendi pun hanya bisa pasrah karna meta memaksa untuk menyuapinya.


"Udah aku kenyang, kamu aja yang ngabisin!"


"Kamu tuh harus banyak makan, biar cepet pulih lagi!"


Alhasil meski meta memaksa Rendi tetap saja tidak mau menghabiskan makannya.


Setelah menghabiskan makanan Rendi mengantarkan meta ke rumahnya. Di sepanjang jalan Rendi hanya terdiam, tidak seperti tadi sekarang dia berubah menjadi pendiam lagi.


"Aku masuk dulu ya rend, kamu hati-hati yah!Jangan cemberut terus gitu dong. Besok kan aku nemenin kamu ke singapur kan, harusnya kamu semangat dong!"


"Iya"


"Gitu doang?Ya udah deh kalo kamu nyuekin kamu kayak gini aku gak mau berangkat ke singapur!"


"Kamu ngancem aku!"


"Bukannya ngancem, yah habis dari tadi kamu jadi dingin kayak gini ke aku!"


Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rendi lagi, Rendi menarik wajah meta dan mencium bibir meta. Seolah takut kehilangan meta Rendi menciumnya sambil memeluknya erat sampai meta hampir tak bisa bernafas.


"Ini hukuman buat kamu karna kamu sudah membuatku seperti ini!"


"Uhuk uhuk uhuk!" tiba-tiba meta terbatuk karna kehabisan nafas.


"Kamu kenapa sayang?"


"Kamu gak tahu dari tadi aku udah kehabisan nafas!Kayaknya kamu sengaja nih mau bikin aku pingsan karena kehabisan nafas!"


"Hehehe maaf sayang aku gak sengaja!"


"Ih dasar!"


"Tapi kamu suka kan?"


Wajah meta tiba-tiba berubah menjadi memerah karena menyembunyikan rasa malu.


"Cie cie wajahnya jadi merah!" kata Rendi menggoda meta. Seolah perasaannya yang tadi campur aduk mendadak semuanya jadi hilang.


"Rendi, kamu nyebelin!!!"


"Biarin!"


"Ya udah deh aku mau masuk dulu!"


"Jangan lupa besok aku jemput aja biar bisa bareng ke bandara. Terus juga jangan lupa bawa baju ganti!"


"Iya, iya, tadi pendiem sekarang jadi bawel!" kata meta lirih.


"Apa kamu bilang tadi bawel?kayaknya minta dicium lagi nih sebagai hukuman ngatain aku bawel!"


"Apaan sih, nggak!"


Meta pun buru-buru keluar dari mobil, takut kalo Rendi membuktikan omongannya itu.


"Hehehe takut banget sih aku cium!" kata Rendi sambil tersenyum ke arah meta.


Setidaknya Rendi bisa sedikit tersenyum melihat tingkah laku meta yang lucu gara-gara perkataannya.


"Da, hati-hati di jalan ya!"


"Ok bye!"


Meta masih terdiam di situ sambil memandang mobil Rendi yang sudah mulai menjauh dari pandangannya. Tidak bisa dipungkiri dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang Rendi rasakan. Perasaan yang berusaha dia tampik sendiri, tapi selalu saja gagal karna memang sesungguhnya dia tak bisa jauh dari Rendi.


"Aku juga gak mau jauh sama kamu Rend!" kata meta sambil memandang ke mobil Rendi yang sudah menghilang.