
Jam pelajaran berakhir, semua siswa mengemas barangnya bersiap untuk pulang. Baru saja meta hendak melangkahkan kaki keluar kelas ternyata Ardian sudah berada di depan kelas. Meta melihatnya dengan malas, berdoa dalam hati supaya Ardian tak mengganggunya apalagi mengirimi surat cinta lagi.
Meta juga tak ingin ada kesalahpahaman tentang hal ini dengan Rendi. Tapi kali ini Ardian memang sudah menunggunya.
"Hei met...." kata Ardian menghampiri meta.
"Ada perlu apa? gue lagi males diganggu!" jawab meta sambil berlalu.
"Nggak cuma mau nawarin pulang bareng aja....!" kata Rendi berjalan di samping Meta.
"Gak usah aku di jemput kok!"
"Ow gitu...gimana kalo besok aku jemput kamu biar kita bisa berangkat bareng ke sekolah?" desak Ardian terus berusaha.
Meta tak sadar kalau Rendi membuntuti mereka dari belakang.
"Gak perlu...besok seperti biasa aku dianter mama!"
"Kenapa sih met kamu selalu nolak aku?"
"Kan kamu tahu kan aku gak suka sama kamu...perasaan gak bisa dipaksakan!"
"Ya udah...kalo kamu gak mau aku anterin...nih buat kamu"
Ardian menyodorkan coklat berhias pita dan amplop pink seperti yang pernah diberikan ke meta beberapa kali, bahkan laci meja belajar meta sampai penuh dengan tumpukan surat dari Ardian.
"Apa nih?Surat lagi?Ardian.... please deh berhenti kasih barang ataupun surat ke aku!Aku gak mau nerima ini!"
"Kamu harus terima met, please, aku akan berusaha sampai kamu bisa buka hati kamu buat aku please terima yah."
Ardian memberikan coklat dan amplop itu kemudian dia berlalu meninggalkan meta.
Meta sebenarnya enggan menerima barang dari Ardian.
"Huft....banyak juga ya penggemarmu!"
Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang datang. Dari suaranya meta sangat mengenal orang itu.
"Sejak kapan kamu di situ?' kata meta pada Rendi.
"Dari tadi....!Kenapa memangnya?gak boleh kepo sama pacar sendiri?Atau jangan-jangan."
"Jangan-jangan apa?gak usah mikir yang aneh-aneh deh!"
"Tadi dia kasih kamu apa?Surat cinta dan coklat?Lumayan juga ya usahanya buat deketin kamu!"
"Rend....udahlah....aku gak pengen bahas ini...o iya lain kali kamu jangan lempar-lemparin kertas kayak tadi...jadi malu sendiri kan suruh baca di depan anak-anak lain!"
"Nggak aku gak malu, kenapa sih met kamu mau nutupin kalo aku ini pacar kamu?atau jangan-jangan kamu takut kehilangan fans-fans kamu itu setelah tahu kamu udah punya pacar?"
"Kok kamu gitu mikirnya?"
"Ya kayaknya kamu gak pengen orang tahu kalo kita pacaran!!"
"Gak gitu maksudku aku! Aku cuma gak pengen kamu dapet masalah dari orang-orang kayak mereka aja!"
"Aku gak takut meskipun mereka siswa penting di sekolah!Coba aku lihat surat itu!"
"Gak usah buat apa sih kamu lihat, mending kita pulang aja, mungkin sopirku udah nunggu."
"Tunggu, kenapa tiba-tiba buru-buru, aku kan cuma mau baca surat itu kan!Aku sebagai pacarmu gak boleh apa lihat surat itu!"
"Aku cuma gak mau kamu marah setelah baca surat itu!" kata meta keberatan.
"Aku bakal lebih marah kalo kamu gak bolehin aku baca surat itu!"
Ardian pun merebut surat itu dari meta dan membaca surat itu.
Dear Meta,
Aku tak tahu ada siapa di hatimu?Entah kenapa kau selalu mengabaikanku....ingin rasanya aku menjadi seseorang yang berarti di hatimu...tapi sepertinya itu tak kan mungkin ....pintu hatimu sudah tertutup untukku....meski begitu aku akan terus berusaha sampai kamu bisa membuka hatimu untukku...
Tertanda
Ardian
Rendi membaca surat itu sampai selesai, seketika dia tertawa kecut melihat surat itu.
"Hahahaha ya ampun kayak anak jaman 90an aja maen surat--suratan hari gini masih ada orang kayak gitu!"
"Udah...puas kan udah baca suratnya?"tanya meta.
"Coklat yang tadi mana?"
"Untuk apa?"
"Mau aku buang juga!"
Ardian merebutnya dari tangan meta dan membuang coklat itu.
"Dia gak tahu apa, orang yang dia kirimi surat setiap hari sudah jadi pacarku!" kata Rendi kesal.
"Udahlah Rend!!"
"Awas aja kalo dia gangguin kamu....walaupun aku anak baru aku gak takut sama dia apalagi sama Devan itu!"
"Ya udah sih....aku mau pulang!"kata meta.
"Aku anterin aja!"
"Kan kamu tahu aku sama sopirku."
"Aku anterin sampai depan!"
Sesampainya di pintu gerbang meta mencari dimana sopirnya parkir sambil mencoba menelponnya. Rendi pun masih menunggu meta disitu khawatir kalo meta tak dijemput lagi dengan sopirnya.
"Hei kak Rendi!Belum pulang?" sapa Anisa dari belakang.
"Eh kamu nis, iya nih baru mau pulang?" kata Rendi kaget karna Anisa menyapanya tiba-tiba.
"Eh...ada kak meta juga...hai kak meta" kata Anisa sok kenal.
"Hai!!"
Meta pun tersenyum dan sekedar say hai ke anak kelas 1 itu, karna sebenarnya dia juga tidak kenal dengan anak itu.
"Kamu kenal sama meta?"tanya Rendi heran.
"Iyalah siapa yang gak kenal sama kak meta, udah cantik pinter lagi banyak cowok yang naksir sama dia temen sekelas ku aja banyak yang naksir sama kak meta, tapi kan gak mungkin kak meta sama adik kelas, hehehehe becanda ding!"
Entah kenapa meta gak nyaman dengan perkataan adik kelasnya yang berlebihan itu.
"Oh...."
Cuma jawaban itu yang ada di kepala Rendi mendengar cerita Anisa.
"Kak boleh gak aku nebeng sampai depan?soalnya hari ini aku gak dijemput, kalo mau naik angkutan umum dari sini juga susah..boleh gak aku nebeng sampai depan aja...please....!"kata Anisa.
"Em...m...gimana ya....?"
Rendi menatap meta seolah meminta persetujuan.
"Please kak, masak kakak tega biarin aku jalan kaki sampai depan sana!"
Meta sebenernya agak kesel dengan anak ini, tiba-tiba datang dan sekarang minta dianterin Rendi lagi.
"Udah Rend anterin aja, kasihan dia!" kata meta pura-pura sok care dengan anak itu.
"Terus kamu gimana?" tanya Rendi.
"Aku gak papa kok...paling bentar lagi juga jemputan aku juga sampe!"
Meta berusaha sebiasa mungkin menanggapi ini, walaupun dalam hatinya bener-bener kesel Rendi nganterin si anak manja itu.
"Beneran met kamu gak papa?"
"Iya beneran gak papa kok!"kata meta sok gak cemburu padahal dalam hatinya seperti terbakar.
"Ya udah aku anterin Nisa dulu ya Met, nanti kalo ada apa-apa kamu telpon ya!"
"Makasih ya kak udah mau nganterin aku, kak meta duluan ya!"
Meta hanya tersenyum palsu melihat Rendi dan nisa pergi berduaan.
Ingin meluapkan kekesalannya tapi masih harus dia tahan.
'Huft...sabar meta sabar"gumam meta menenangkan diri.
Meta pun mencoba menelpon sopirnya lagi.