
Meta berjalan masuk menghampiri Tante Karoline yang duduk di samping tempat tidur Rend dengan air matanya tak bisa dia bendung lagi. Meta melihat Rendi yang terbaring tak berdaya dengan infus dan kantong terombosit terpasang di tangannya.
"Tante, bagaimana keadaan Rendi?" tanya meta dengan suara serak.
Karoline mendongakkan wajahnya ke arah meta, nampak matanya yang biasanya berbinar khas kecantikan Karoline yang meski sudah berumur namun masih terlihat cantik karena pintar merawat diri, namun kini yang meta lihat justru wajah Karoline yang pucat dengan mata sembap. Bisa ditebak kalau Karoline menunggu Rendi seorang diri sambil menangis.
Karoline pun langsung memeluk meta yang baru saja datang. Seolah keduanya melepaskan beban di hati mereka masing-masing, keduanya berurai air mata.
"Kalian jangan menangis, aku baik-baik saja!"
Mendengar suara itu karoline dan meta langsung melepas pelukannya satu sama lain dan langsung mendekati Rendi.
"Rendi.....kamu kenapa? Apanya yang sakit?" tanya meta sambil meraih tangan Rendi.
"Aku gak papa kok sayang, aku cuma kecapekan. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik aja kok!"
Rendi mengelus puncak kepala meta, sedang meta tak kuasa menahan air matanya dan hanya menundukkan kepalanya bersembunyi di tangan rendi.
"Hei, jangan nangis dong! Aku gak papa, aku cuma kecapekan aja kok! Kamu jangan nangis yah!"
Karoline hanya bisa mengelus punggung meta yang menangis sesenggukan di sampingnya.
"Aku gak bisa lihat kamu kayak gini?' kata Rendi menatap meta yang sudah menangis sesenggukan.
Karoline mengajak Devan untuk keluar dari ruangan itu membiarkan mereka berdua.
"Boleh Tante ngobrol dengan kamu sebentar!"
"Boleh Tante!"
Devan berjalan mengikuti Karoline, sesampainya di taman rumah sakit itu mereka mencari tempat duduk di situ.
"Kamu sahabatnya Rendi dan meta kan?"
"Iya Tante, saya Devan. Kita sudah pernah bertemu waktu dulu saya menjenguk Rendi di rumah Tante yang ada di Indonesia. Waktu itu kita masih SMA!'
"Tante tahu karna sempat mendengar nama kamu beberapa kali dari Rendi!"
"Mungkin bagi Rendi aku adalah rivalnya dia, karena sebenarnya Rendi gak suka kalo aku terlalu dekat dengan meta. Tapi akhir-akhir ini aku dan Rendi sudah lebih akrab!"
"Devan, Tante tahu kamu pasti menyayangi meta seperti Rendi yang juga menyayangi meta, dan Tante tahu kamu dan juga meta sudah bersahabat sejak SMA. Sebenarnya Tante ngajak kamu ke sini Tante pengen bicara tentang keadaan Rendi!"
" Kalo boleh tahu gimana keadaan Rendi Tante?"
Wajah Karoline berubah menjadi sendu, sesaat dia mbuang pandangannya ke segala arah sambil menahan air matanya.
"Tante, kalo boleh tahu bagaimana kondisi sekarang ini!"
"Kemarin dari hasil pemeriksaan dokter bilang kalau penyakit leukimia Rendi sudah masuk ke stadium 4, secara medis dokter mengatakan kalo Rendi harus menjalani kemoterapi, dokter mengatakan seandainya ada orang yang bisa mendonorkan sum-sum tulang untuk Rendi mungkin itu juga bisa menjadi alternatif kesembuhannya!"
"Rendi sudah masuk ke stadium 4? Bukannya Rendi selalu check up ke dokter, dan bukannya dokter bilang kalo dia sudah sembuh?"
" Tante juga tidak tahu, beberapa tahun lalu Rendi memang sudah dinyatakan sembuh, tapi akhir-akhir ini memang dia terlalu sibuk dengan proyek barunya. Bahkan dia juga sibuk menyelesaikan kuliah sambil bekerja keras, sampai dia tak pernah lagi chekc up. Mungkin karena kesibukannya Rendi tak pernah memperhatikan kesehatannya. Sampai-sampai dia sudah tak pernah checkup lagi!'
Air mata kembali berurai membasahi pipi Karoline lagi.
"Lalu apa yang bisa Devan bantu Tante?"
"Tante gak tahu bagaimana cara menjelaskan semua ini ke meta. Pasti meta sangat sedih kalo tahu tentang kondisi Rendi sekarang! Tante gak sanggup cerita ke meta!"
"Sebenarnya kita juga gak bisa bohong sama meta, karena dia pasti tahu mengenai ilmu kedokteran, mungkin tanpa kita memberitahunya cepat atau lambat dia pasti tahu kondisi Rendi sebenarnya!"
"Kamu benar, tapi Tante gak bisa ngomong ini ke meta. Pasti meta bakalan sedih, padahal meta adalah salah satu sumber semangat Rendi, kalo dia tahu ini pasti meta juga bakal down!"
"Biar nanti Devan ngomong sama meta pelan-pelan, nanti coba devan cari info tentang donor sum-sum tulang untuk Rendi, siapa tahu ada pendonor yang mau mendonorkan sum-sum tulang untuk Rendi!"
"Terima kasih Devan, Tante tahu kamu anak yang baik. Bahkan Tante lihat kamu sangat tulus, apalagi saat Tante melihat kamu mengantarkan meta dari Jerman ke sini pasti itu semua butuh banyak pengorbanan yang kamu lakukan. Bahkan Tante tahu kamu sudah banyak mengorbankan perasaanmu untuk kebahagian meta dan Rendi. Tante sangat berterimakasih Sam kamu!"
"Sama-sama Tante, apa pun akan Devan lakuin demi membantu sahabat-sahabat Devan!"
"Kayaknya mau hujan, sebaiknya kita kembali ke kamar Rendi, nanti kalo kita terlalu lama nanti mereka nyariin kita,"
"Iya Tante!"
Karoline dan devan menuju ke kamar Rendi, saat mereka tiba di situ nampak meta tertidur di samping Rendi masih dengan menggenggam tangan Rendi. Terlihat meta tertidur pulas karena kelahan perjalanan dan juga kelelahan menangis.
Rendi pun sudah tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter beberapa jam lalu.
Dengan sigap Devan memindahkan meta ke sofa panjang yang berada di sebelah ranjang Rendi.
Devan merasa iba dengan meta yang nampak kelelahan karena dari tadi dalam perjalanan dia hanya menangis. Devan membuka jaketnya, menyelimutkannya ke meta.
Tante Karoline melihat semua perhatian Devan yang begitu tulus pada meta, saat itu dia tersadar bagaimana sesungguhnya perasaan Devan pada meta. Namun Karoline hanya bisa menyembunyikannya dalam benaknya. Karena mungkin itu juga bisa menyakiti hati Rendi.
Karoline berpamitan untuk pulang sebentar mengambil beberapa baju di rumah, karena sedari kemarin dia tak pulang karna tak ada yang menjaga Rendi di rumah sakit. Sekarang Karoline merasa lebih lega kalo ada meta di samping Rendi yang juga bisa menjaganya.
Setelah Karoline pergi, Devan mencoba mendekat duduk di samping Rendi. Devan menatap wajah Rendi yang nampak pucat.
"Hei bro...cepet sembuh ya!" bisik Devan.
"Aku bener-bener gak nyangka, dibalik kamu yang nampak kuat dan sehat saat bermain basket dulu ternyata kamu rapuh! Aku benar-benar gak nyangka kalo kamu ternyata separah ini!"
Entah kenapa devan justru teringat saat-saat dulu apalagi sewaktu SMA mereka berdua sering ribut dan tanding basket.
"Bahkan kamu satu-satunya orang yang bisa ngrebut fans-fans aku, waktu dulu SMA cuma aku yang paling keren karena aku terkenal, ketua tim basket dan aku paling keren! Tapi setelah ada kamu semua berubah, bahkan meta pun juga lebih memilih kamu dibanding aku!"
Devan seperti meracau bicara sendiri, bahkan air matanya sebenarnya berusaha dia tahan.
"Tapi karena aku melihat meta lebih bahagia denganmu, aku mengorbankan semua perasaanku untuk meta supaya dia bisa bahagia denganmu! Karena aku sangat menyayangi meta, aku bisa merelakan meta bahagia denganmu!"
Devan yang dari tadi bicara sendiri, menjadi tak bisa mengendalikan air matanya. Tersadar dia yang mulai meneteskan air mata di dekat Rendi .
"Sial!!Kenapa aku jadi menangis? Sebaiknya aku mencari udara segar di luar!"
Devan menyeka air matanya dan baginya lebih baik dia sementara waktu pergi dari tempat itu. Devan keluar dari kamar itu mencari udara segar di luar.
Sesat setelah Devan keluar, Rendi pun membuka matanya. Rendi yang dari tadi pura-pura tertidur tanpa sengaja mendengar semua yang dikatakan oleh Devan.
"Aku tahu Van, kamu sangat mencintai meta!" kata Rendi sambil melihat meta yang tertidur pulas di sofa.