
Selesai kuliah Rendi berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Seperti biasa dia mengecek beberapa file yang sudah menumpuk karena beberapa Minggu lalu dia sudah meninggalkan pekerjaannya untuk liburan ke Indonesia.
Beberapa hari ini pun dia menemani Ardian menjalani check up sembari dia juga melakukan medical checkup seperti yang rutin dia lakukan.
"Permisi mas rendi! Boleh saya masuk?"
Seseorang yang tak lain adalah pak Alex, sekretaris pribadi mamanya namun sekarang sudah beralih menjadi sekertaris pribadinya meminta ijin untuk masuk ruangan Ardian.
"Silakan masuk pak!"
Alex membawa berkas penting perusahaannya yang siap untuk ditanda tangani.
"Ini berkas yang perlu ditanda tangani mas Rendi!"
"Baik, taruh saja di situ pak Alex, terus gimana kondisi perusahaan selama saya tinggal?"
Pasalnya selama berminggu-minggu di Indonesia kemarin dia menyerahkan semua urusannya pada pak Alex. Karena sekarang Rendi dipercaya mengurusi salah satu perusahaan mamanya seorang diri. Bahkan kali ini mamanya memberinya kepercayaan penuh untuk mengelola salah satu perusahaan tanpa campur tangan dari mamanya.
"Semua urusan sudah saya back up pak, terus mengenai rencana proyek baru yang bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia itu bagaimana pak?"
Rendi baru teringat, proyek yang kemarin diperbincangkan dengan Tante Dina belum final karena kemarin di sibuk dengan urusannya dengan Ardian.
"Oh mengenai itu, kemarin saya sudah menemui pemilik perusahaan itu dan kebetulan dia itu adalah orang yang saya kenal, nanti biar saya diskusikan lagi dengannya!"
"Proyek ini adalah proyek besar mas rendi, saya harap kita bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka. Kalo perusahaan kita bisa bekerja sama dengan mereka, itu akan menghasilkan keuntungan besar untuk perusahaan kita!"
"Saya tahu pak, saya akan berusaha supaya bisa mendapat kerja sama itu. Karena saya punya perusahaan untuk membangun anak perusahaan di Indonesia!"
"Jadi mas Rendi ingin membuka perusahaan baru di Indonesia?"
"Iya pak, dalam waktu dekat saya ingin fokus untuk persiapan anak cabang perusahaan kita yang ada di Indonesia. Saya ingin stay di sana, makanya saya pengen mengembangkan perusahaan di sana!"
"Saya tahu, pasti mas Rendi pengen bersama-sama dengan mbak meta kan?" selidik pak Alex.
Rendi menatap pak Alex dengan tersenyum, entah kenapa pak Alex selalu saja tahu jalan pikirannya. Padahal antara dia dengan pak Alex belum lama saling mengenal, tapi entah kenapa Rendi selalu suka dengan cara kerja pak Alex bahkan dia langsung bisa akrab dengannya.
"Pak Alex memang selalu tahu apa yang saya pikirkan, bahkan tanpa sepengetahuan saya pak Alex bisa menebak apa yang saya inginkan!"
"Saya tahu mas Rendi pasti cinta mati dengan mbak meta kan?" kata pak Alex sambil tertawa kecil.
"Ini pertanyaan beneran atau pertanyaan ngledek nih? Tapi memang bener sih, aku emang bucin sama meta. Meta memang perempuan spesial yang gak akan tergantikan dengan siapa pun!"
"Memang yah, kalo orang lagi jatuh cinta semua terasa indah!"
"Kayak gak pernah muda aja sih pak!" jawab Rendi sambil menandatangani berkas yang tadi disodorkan pak Alex.
"Mas Rendi itu masih muda, keren, sudah bisa memimpin perusahaan dan masih punya mas depan yang panjang. Biasanya kalo orang yang punya segalanya itu tidak bisa hanya dengan satu orang wanita, dan saya percaua mas Rendi bukan tipe seperti itu!"
"Aku kan laki-laki setia, buktinya aku sama meta sudah pacaran dari SMP dulu. Bahkan dia juga masih setia saat dulu aku menghilang selama 3 tahun!"
"Berarti mbak meta itu wanita istimewa dan juga beruntung. Karena bisa menaklukanmas Rendi yang dingin dan serius!'
"Hahahaha! Pak Alex memang benar, mungkin hanya dengan meta aku bisa menjadi diri sendiri. Pak Alex tahu gak kalo dia itu di sekolah dulu banyak yang ngejar-ngejar, tapi meta gak nggubris sama orang-orang itu!"
"Berarti dia benar-benar istimewa, jaman sekarang memang sudah mencari wanita yang baik apalagi setia. Mas Rendi beruntung punya tunangan seperti dia!Semoga mas Rendi bisa menikah dan hidup bahagia bersama mbak meta!"
Mendengar kata-kata pak Alex membuat Rendi berpikir, bagaimana jika dia tidak bisa menjaga meta , bagaimana jika semua kenangan indah itu akan berakhir begitu saja karena penyakitnya.
"Mas, mas Rendi!" kata pak Alex yang melihat Rendi tiba-tiba melamun.
"Eh iya, maaf pak, pak Alex ngomong apa tadi!"
"Kok mas Rendi jadi sedih?"
Padahal raut mukanya tak bisa berbohong kalau ada kegalauan yang menyergap di hatinya.
"Mas Rendi mikirin apa sih? Kayaknya berat banget, maaf kalau saya lancang bicara seperti ini!"
"Gak apa-apa kok pak, aku cuma berpikir gimana kalau suatu saat nanti aku gak bisa menemani meta sampai tua nanti!"
"Kok tiba-tiba mas Rendi jadi pesimis seperti itu! Kita pasrahkan semuanya sama Tuhan saja mas, umur dan jodoh itu adalah takdir Tuhan. Kita gak pernah tahu apa besok kita masih hidup atau nggak. Orang yang hari ini sehat saja, kalau sudah waktunya meninggal bisa saja besoknya dia meninggal. Hidup ini yang terpenting adalah mengisi waktu terbaik dengan orang-orang yang kita sayangi."
"Pak Alex benar, mungkin kita harus menjadi orang yang bersyukur atas semua yang Tuhan berikan ke kita. Dan yang terpenting selagi kita masih diberikan waktu maka kita harus memanfaatkan waktu itu dengan baik!"
"Betul sekali mas Rendi, bagaimana berkasnya sudah selesai ditandatangani?"
"Ini pak, sudah saya tanda tangani semua!" kata Rendi sambil menyodorkan map berwarna kuning yang tadi diserahkan pak Alex.
"Terimakasih mas Rendi. O iya hari ini pukul 4 sore mas Rendi ada meeting bersama klien di star cafe."
"Star cafe? Meeting dengan siapa?"
"Dengan perusahaan Royal Poin, jangan khawatir nanti saya temani ke sana!"
"Iya, nanti saya siap-siap dulu sambil menyelesaikan berkas ini."
"Baik, kalo gitu saya permisi dulu mas rendi!"
"Iya."
Dret dret dret hp Rendi bergetar tanda panggilan masuk. Spontan Rendi langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo, selamat siang Rendi!" sapa Dina di seberang telpon.
"Hallo Tante, ada yang bisa dibantu Tante?"
"Tante hanya ingin berterima kasih dengan nak Rendi, karena nak Rendi sudah berhasil membuat Ardian kembali bersemangat menjalani perawatannya. Bahkan nak Rendi juga sudah merekomendasikan dokter terbaik di Singapura ini. Tante sungguh sangat berterimakasih!"
"Saya hanya menjalankan kewajiban saya kok Tante. Sebagai sesama manusia kita kan memang wajib tolong menolong, apalagi Ardian itu teman saya. Gimana sekarang dengan kondisi ardian?"
"Sekarang dia sedang di ruang perawatan, masih menunggu hasil pemeriksaan yang kemarin. Minta doanya ya nak Rendi, semoga Ardian bisa lekas membaik!"
"Semoga Ardian cepat sembuh ya Tante, semoga Ardian bisa pulih lagi dan bisa mengejar cita-citanya lagi!"
"Cita-cita, memang Ardian punya cita-cita apa nak Rendi?"
"Aku gak tahu pasti sih Tante apa cita-citanya Ardian, karna dia juga gak cerita detailnya. Tapi apa pun itu semoga Ardian lekas membaik!"
"Terimakasih nak Rendi atas doanya. Emm sebenarnya maksud Tante menelpon nak Rendi itu, Tante ingin membicarakan masalah kerja sama proyek perusahaan! Tante harap bisa bertemu secara langsung untuk membahas masalah ini! Gimana nak Rendi ada waktu?"
"Ada Tante, kapan aja Tante mau ketemu Rendi pasti usahain. Karena jujur proyek itu sangat berarti bagi saya!"
"Baik kalo begitu, mumpung Tante masih di Singapura bagaimana kalo besok Tante ke kantor kamu saja untuk bertemu. Sekalian biar nanti Tante juga tahu kantor kamu."
"Wah terimakasih Tante, Tante sampai mau repot-repot untuk datang ke kantor saya! Nanti saya kirim alamat kantor saya!"
"Nggak repot kok, ini tidak sebanding dengan apa yang nak Rendi lakukan dengan Tante dan juga Ardian. Kalo gitu sampai bertemu besok."
"Iya Tante, terimakasih!"
Rendi pun menutup sambungan telponnya, dia melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukan pukul 3.
Rendi pun beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di jendela melihat pemandangan kota singapura sambil memikirkan sesuatu yang ada di benaknya.
"Meta, aku janji, aku bakal membangun perusahaan di Indonesia nanti supaya kelak kalau kamu udah kembali ke Indonesia nanti. Aku sudah bisa membuktikan kepada kamu kalo aku memang sudah mampu untuk bertanggung jawab dengan perusahaan yang aku rintis sendiri," janji Rendi pada dirinya sendiri.