
Rendi menyelesaikan hari pertamanya kerja, mengemas semua berkas yang ada di mejanya dan bersiap untuk pulang.
"Permisi pak, boleh saya masuk?"
Seorang wanita muncul dari balik pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Wanita itu tak lain adalah Stella. Entah kenapa semenjak pertemuannya dengan Rendi, membuatnya semakin penasaran untuk mendekatinya.
"Bisa gak lain kali kalo masuk ruangan orang ketok pintu dulu!" jawab Rendi dingin.
"Maaf pak, saya tadi lupa mengetuk pintu!"
"Lain kali jangan diulangi! Mau ada perlu apa ke ruangan saya?"
Stella kemudian melancarkan aksinya, mendekati Rendi dan mulai berusaha menggodanya.
"Begini pak Rendi, hari ini saya sedang berulang tahun dan rencananya saya ingin mentraktir teman-teman yang lain. Kalo pak Rendi tidak sibuk saya mengundang pak Rendi untuk bergabung. Lagi pula anggap saja ucapan selamat datang dari kami."
"Mohon maaf bukannya saya menolak, tapi saya masih ada keperluan lain."
Rendi beranjak dari tempat duduknya hendak pergi meninggalkan ruangannya. Namun refleks Stella menarik tangan Rendi.
"Pak Rendi, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi. Kami para karyawan ingin lebih dekat dengan bapak. Masak bapak tidak ada waktu untuk kami."
"Tolong lepaskan tanganmu dari tanganku!" kata Rendi ketus.
Kehadiran Stella yang selalu menggodanya membuat Rendi terganggu.
"Maaf pak, saya refleks!"
"Maaf mungkin lain kali, aku harus cepat-cepat pulang! Lain kali tolong lebih sopan dengan atasan kamu, asal kamu tahu tidak semua laki-laki bisa kamu goda!"
Rendi pun melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
"Benar-benar sombong sekali! Tapi justru itu dia membuatku semakin penasaran," kata Stella sambil menatap punggung Rendi yang sudah menjauh.
"Hei Stella, gimana pak Rendi mau ikut?" tanya citra, salah satu sahabat dekat Stella.
"Gak, dia ada urusan! Sayang sekali padahal aku pengen kenal lebih dekat dengan dia!"
"Udahlah Stella dia itu masih anak ingusan, masak kamu mau mengejar bocah ABG kayak dia. Jangan bilang kamu udah jatuh cinta lagi sama dia!"
"Memangnya kenapa? Cinta kan gak memandang umur! Lagi pula meski masih bocah dia itu keren dan berwibawa!"
"Kamu ngejar dia bukan karna dia anak yang punya perusahaan kan Stel?"
"Emmm, yah pastilah karna dia tajir. Lagi pula siapa sih di kantor ini yang bakal menolak kecantikan Stella. Semua cowok pasti bakal bertekuk lutut melihat kecantikanku!'
"Heleh jangan kepedean dulu, nanti terlalu tinggi ngayalnya kalo jatuh jadi sakit lagi! Lagian denger-denger Rendi udah punya cewek, ceweknya itu baru sekolah kedokteran di Jerman."
"Sok tahu kamu!"
"Beneran kali, aku gak boong, tuh pak Alex sendiri yang ngomong!"
"Alah baru pacar kan, belum jadi istri. Aku gak peduli dia udah punya pacar, justru itu membuatku lebih tertantang. Kita liat pasti nanti Rendi akan bertekuk lutut sama aku kayak cowok-cowok di kantor ini!"
"Gila Lo Stel!"
"Udah ah ayo buruan berangkat ke cafe, nanti temen-temen yang lain kelamaan nunggu pada ngomel lagi."
*********
Rendi merebahkan tubuhnya ke kasurnya setelah membersihkan diri. Mencoba menelpon meta, namun tidak ada jawaban. Perbedaan waktu 7 jam membuat rendi harus mencari waktu yang tepat untuk menelpon meta.
Betapa senangnya saat nada telepon mulai tersambung. Seperti biasa Rendi selaku menghubungi meta melalui video call.
"Hei sayang kamu lagi apa?" tanya Rendi dengan senyum mengembang.
"Aku baru aja pulang kuliah ni! Kamu lagi apa?"
"Aku habis pulang kerja, kamu udah makan!"
"Udah tadi sama....."
Meta tak bisa meneruskan kata-katanya, hampir saja dia keceplosan mau bilang habis makan sama Devan. Walau bagaimanapun meta masih belum bisa bicara tentang keberadaan Devan pada Rendi.
"Sama apa?"
"Mie instan?'"
"Iya kamu tahu kan aku masih harus beradaptasi dengan makanan di sini."
"Tapi jangan sering-sering makan mie instan, nanti sakit perut!"
"Iya, aku juga lagi belajar masak nih, kan kamu tahu kan aku harus benar-benar belajar mandiri di sini."
Saat meta melakukan video call dengan Rendi tiba-tiba Devan memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.
"Hei met, kamu lagi apa?"
Spontan meta kaget melihat Devan yang tiba-tiba masuk.
"Hah, Devan!! Meta, apa aku gak salah lihat? Itu Devan kan?" tanya Rendi yang jelas saja dia kaget melihat keberadaan Devan di kamar meta.
Meta yang gugup langsung mematikan video callnya.
"Devan sejak kapan kamu gak punya sopan santun masuk kamar orang tanpa permisi! Aku tadi lagi video call sama Rendi tahu gak! Aku gak mau dia salah paham nglihat kamu ada di sini!"
"Maaf, aku tadi cuma minta gula sama kamu buat bikin teh!"
"Tapi kamu bisa kan ketok pintu dulu jangan maen nyelonong aja! Ya ampun aku harus jelasin gimana ke Rendi! Pasti dia udah salah paham!"
Rendi menelponnya lagi, dan meta benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjelaskan keberadaan Devan di situ. Tapi kalo meta tidak mengangkat panggilannya pasti Rendi tambah curiga.
"Van, Lo keluar dulu, gue mau jelasin apa ke Rendi kalo tahu kamu di sini. Udah kamu keluar dari kamar aku!" kata meta sambil menarik Devan dari kamarnya.
"Tapi met..."
Bluuuukkk
Meta membanting pintu kamarnya setelah mengusir Devan keluar kamarnya. Meta memberanikan diri untuk mengangkat panggilan video call dari Rendi kembali.
"Iya Rend, maaf tadi keputusan panggilannya."
"Meta, kamu bisa jelasin kenapa Devan ada di situ? kenapa dia ada di kamarmu! Jelaskan meta, kenapa?"
Kata-kata Rendi yang penuh emosi dia luapkan karena melihat Devan ada di kamar meta. Saat ini Rendi benar-benar merasa dipenuhi emosi
"Rend...iya aku bakal jelasin!"
"Meta, kenapa kamu gak pernah bilang tentang hal ini! Apa yang Devan lakuin di kamar kamu!"
"Aku akan jelasin Rend, aku gak mau kamu salah paham sama aku! Devan satu kampus sama aku, dan apartemen kita berdekatan,
Sumpah aku juga gak tahu dia itu satu kampus sama aku. Tiba-tiba aja dia muncul!" jawab meta
"Apa? Dia satu kampus sama kamu!"
Rendi memijat dahinya, sekarang dia benar-benar merasa terbakar cemburu.
"Rend, aku minta maaf aku belum sempet ngomong sama kamu. Aku takut kalo kamu salah paham dan marah sama aku, makanya aku belum berani mengatakan semuanya sama kamu!"
"Berarti kalo tadi aku gak melihat sendiri Devan masuk ke kamarmu, berarti selamanya kamu akan nyembunyiin itu dari aku! Atau kamu memang sengaja nyembunyiin ini sama aku supaya kamu bisa berduaan sama Devan di sana!"
"Nggak gitu Rend, aku minta maaf kalo aku salah! Tapi aku juga gak tahu kenapa Devan bisa satu kampus bahkan aku juga gak tahu kalo dia menyewa apartemen di sebelahku! Aku mohon kamu percaya sama aku Rend!"
"Aku gak tahu apa aku masih bisa percaya sama kamu setelah semua kejadian ini. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh yang sudah dibohongi pacarnya sendiri."
"Aku mohon Rend kamu percaya sama aku! Aku gak ada apa-apa sama Devan!" kata meta sambil menitikkan air mata.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu!"
"Rend, aku mohon dengerin penjelasan aku..."
Tut Tut Tut
Rendi memutuskan panggilannya, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa meta membohonginya. Bayangan Devan yang memasuki kamar meta tadi membuatnya frustasi.
Meta hanya bisa menangis saat Rendi memutuskan telponnya, berusaha menelpon Rendi lagi tapi tak mendapat jawaban. Meta ingin menjelaskan kesalahpahaman ini.