
Setelah pemutusan hubungannya dengan meta tadi Rendi menjadi tak bersemangat lagi untuk sekolah. Rendi berusaha mencari meta namun nihil. Dia tak ingin hubungannya kandas begitu saja.
Rendi memutuskan untuk pergi dari sekolah menuju ke kantor papanya. Walau bagaimanapun permasalahan ini penyebabnya adalah hubungan papanya dengan mamanya meta.
Mobil Rendi tiba di kantor papahnya, Rendi melangkah menuju ruangan yang terletak di lantai 3.
Sekertaris papanya mempersilahkan untuk memasuki ruangan.
Terlihat papan nama bertulis Hanssyahputra Pratama dibawahnya bertuliskan direktur utama terpampang di meja kerja papa Rendi. Selama ini Rendi tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di kantor papanya.
"Permisi pak....ini mas Rendi ingin bertemu dengan bapak!" kata sekertaris itu.
Tanpa basa basi Rendi pun menghampiri meja papanya.
"Ada apa Rend?Tumben?"
"Gak usah basa basi deh pa! Papa kan yang nyuruh meta buat jauhin aku supaya papa bisa nikah sama mamanya meta?Aku gak terima pa!"
"Apa maksud kamu? datang tiba-tiba terus marah-marah sama papa kayak gini!! Papa gak ngerti maksud kamu apa?"
"Meta mutusin aku setelah tahu kalo papa dan mamanya mau menikah!!Harusnya papa yang mengalah sama aku pa!! Selama ini aku sama mama sudah berjuang sendiri tanpa papa tapi sekarang papa datang dengab membawa masalah ini. Rendi sudah bersabar pa....dulu waktu Rendi sakit...hanya mama yang peduli sama aku....gak pernah papa peduli sama aku...papa justru sibuk dengan bisnis papa!!"
"Rend...kamu udah salah paham!'
"Salah paham??Semuanya udah jelas pa!Meta udah putusin aku demi apa....demi kebahagiaan mamanya! Kalo papa menikah dengan mamanya meta papa tau kan akibatnya apa?"
"Rend....papa benar-benar gak tahu kalau Tante Risma itu mamanya meta...papa juga kaget waktu itu!"
"Aku sudah cukup sabar papa ninggalin mama dankemarin aku baru aja bisa memaafkan papa dan aku senang bisa deket lagi sama papa....tapi ternyata!"
"Papa gak pernah bermaksud seperti itu Rend...papa harap kamu gak salah paham sama papa!"
"Udah cukup pa...!!Asal papa tahu...aku gak akan pernah ninggalin meta...!aku gak bakal ngijinin papa buat menikah dengan mamanya meta!'
Rendi pun melangkah keluar ruangan papanya
"Rendi ...Rend....tunggu papa belum selesai ngomong"
Tapi terlambat, Rendi sudah berlalu bahkan tak menghiraukan ucapan papanya
Saat ini hati Rendi benar-benar hancur, mencoba menghubungi meta tapi nihil.
Rendi masuk ke dalam mobil dan berniat menuju rumah meta.
Rendi memarkirkan mobilnya di depan rumah meta, memandang sekeliling memastikan keberadaan meta. Namun rumahnya nampak sepi, mobil mamanya meta pun belum ada di parkiran.
Rendi menunggu di dalam mobilnya aesekali mencoba menghubungi meta. Setengahbjam kemudian dari kejauhan Rendi melihat meta membonceng motor. Awalnya Rendi mengira kalo meta diantar oleh ojek online. Tapi setelah motor itu mendekat ternyata dia melihat meta diantar oleh Devan. Spontan Rendi keluar mobil dan menghampiri mereka berdua.
"Jadi kayak gini kamu dibelakangku!!" kata Rendi menghampiri meta yang baru saja turun dari motor Devan.
Meta terkejut melihat Rendi yang tiba-tiba sudah berada di situ.
"Rendi...ini gak seperti yang kamu pikir rend!' kata meta.
"Iya aku cuma nganter meta pulang aja kok....kamu gak usah salah paham Rend!"
"Diem Lo gak usah ikut campur!Sekali lagi gue liat Lo deketin meta Lo bakal tau sendiri akibatnya!!"teriak Rendi sambil memegang baju Devan.
Rendi mengepalkan tangannya bersiap memukul Devan.
"Rendi udah cukup!!!Kamu gak perlu kayak gitu sama Devan!!"
"Gak gitu Rend!!Udah Rend...lepasin Devan!!"
Rendi pun melepaskan cengkeramannya dan berjalan ke arah meta, menarik meta ke dalam mobil.
"Aku pengen ngomong sama kamu!!"
"Tapi Rend...kita udah putus...gak ada yang perlu diomongin lagi!"
Rendi menatap tajam meta.
"Kamu serius bener-bener mau putus sama aku?Tatap mata aku met dan bilang kalo kamu udah gak sayang sama aku!!" kata Rendi sambil memegang pipi meta.
Tanpa terasa air mata meta mengalir di pipinya.
"Iya aku....aku...udah gak sayang sama kamu lagi...aku bener-bener mau putus sama kamu Rend....jadi tolong....jangan ganggu aku lagi!!"
Meta berusaha mengucapkan itu, kata-kata yang sebenernya juga melukai hatinya sendiri.
"Gak met kamu bohong!!Harusnya kamu gak kayak gini met, harusnya kita berjuang bersama!"
"Maaf Rend.....aku benar-benar gak bisa! Kita gak bisa bersama! Lepasin aku Rend!!"
Rendi pun memeluk meta erat seolah tak ingin melepaskan meta.
Devan yang masih di situ sebenarnya merasa terbakar cemburu melihat mereka berdua berpelukan seperti itu. Devan mencoba mencerna mengapa hubungan mereka harus berakhir meski jauh dalam lubuk hatinya terdalam ada sedikit kebahagian terselip karena mereka putus, namun Devan tak tega melihat meta seperti itu. Devan tahu betul walaupun meta mengucapkan kata putus tapi hatinya masih ada rasa cinta untuk Rendi.
"Rend...aku mohon.....tinggalin aku!!Biarkan orang tua kita bahagia!"
"Aku gak mau met....aku pengen kita bersama terus...aku gak mau pisah sama kamu!!"
"Maaf Rend...aku benar-benar gak bisa nglanjutin hubungan kita...maaf!"
Meta pun melepaskan pelukan Rendi, keluar dari mobil rendi dan berlari memasuki rumah.
"Meta....aku gak bisa terima...!!Aku sayang sama kamu....met!!" teriak Rendi.
Meta hanya bisa menangis, masih terdengar jelas teriakan Rendi kala dia memasuki rumah. Kata-kata yang manis namun sangat menyakitkan untuknya. Berusaha menerima kenyataan dan mengikhlaskan semuanya. Meta tak ingin egois, saat ini meta hanya ingin melihat mamanya bahagia dan kebahagiaan mamanya adalah bersama om Hans.
Rendi tak tahu harus bagaimana lagi?Menyandarkan badannya di pintu mobil, meraung meratapi penyesalan. Dia memukul pintu dan mobilnya sebagai pelayan kekesalan. Devan yang menghampiri Rendi mencoba menenangkannya.
"Rend!!"kata Devan menepuk pundak rendi namun kemudian ditepis oleh Rendi.
"Ngapain lo masih di sini!!Lo pasti seneng kan lihat gue sama meta putus!!"
"Gue gak bermaksud kayak gitu Rend!Gue tahu meta sayang banget sama lo....dan asal lo tau meskipun gue suka dan berusaha ngedeketin dia tapi meta hanya menganggap gue sahabat karna dia sayang banget sama lo...!!"
"Lo gak usah cari muka depan gue!!Pasti dalam batin Lo pasti ngetawain gue kan!"
"Lo boleh gak percaya sama omongan gue...tapi satu hal yang perlu Lo percaya dari omongan gue....apa pun masalah kalian saat ini...aku tahu banget kalo meta masih sayang banget sama lo....jadi kalian harus memperjuangkan cinta kalian!" kata Devan menepuk pundak Rendi.
Devan pun berlalu menuju motornya meninggalkan tempat itu.
Rendi pun masih mematung di situ.
Dari lantai 2 kamarnya, meta melihat dari jendela Rendi yang masih tertunduk lesu.
"Maafin aku Rend! Aku juga sakit, aku juga tersiksa, aku juga masih sayang sama kamu!!" kata meta lirih dibalik tangisnya.