
"Habis kamu sih dari tadi kayaknya lagi galau!"
"Gak lah sapa juga yang galau!" jawab meta.
"Kamu tuh kayak baru kemarin aja kita kenal, aku rambut panjang kamu jatuh satu aja aku bakal tahu!" kata Devan sambil menopang wajahnya menatap meta seksama.
"Kumat lebay nya! Ya kali kamu ngamatin aku sampai segitunya! Kayak kurang kerjaan aja, lagian bukannya kamu sekarang udah sibuk banget. Sampai-sampai udah jarang barengan ke kampus! Kayaknya kamu udah jadi artis sok sibuk sekarang!"
Devan tersenyum sambil meminum sisa minuman yang dia pesan tadi sambil mengamati meta yang sibuk protes.
"Ceilah....ada yang merasa kehilangan aku nih ceritanya?" goda Devan.
"Ya ampun...siapa juga yang merasa kehilangan!!!"
"Alah....ngaku aja deh....pasti kamu kehilangan karena gak ada orang yang bisa memahami kamu seperti aku memahami kamu. Plus.....aku adalah satu-satunya orang yang biasa membuatmu tersenyum!!" kata Devan narsis membetulkan rambut spikenya.
Selama ini memang secara tidak sengaja ada saja celetukan Devan yang selalu membuat meta gak sengaja tersenyum dan membuatnya merasa lebih baik.
"Gak ketemu kamu berapa hari aja kayaknya kamu makin parah!"
"Yah terserah sih kamu mau ngomong apa? Tapi harusnya kamu merasa beruntung masih bisa mengobrol sama calon penyanyi internasional kayak aku kayak gini. Bentar lagi pasti bakalan banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku buat minta tanda tanganku!"
Meta memegang kening Devan dan mematikan kalo temannya itu masih dalam keadaan waras.
"Kenapa?" tanya Devan heran melihat meta menggelengkan kepalanya sambil memegang keningnya.
"Pantes aja kamu dari tadi nglantur, badanmu panas kayaknya kamu mending harus segera cek ke dokter deh Van!" kata meta sambil mengacak-acak rambut Devan.
Devan langsung menampik tangan meta dan kembali merapikan rambutnya lagi.
"Kamu tuh, kamu pikir aku gak waras gitu! Ya kali ada orang gila sekeren gue!"
"PD banget sih!! Lagian buat apa keren tapi belum punya pacar juga! Uppsss....keceplosan....sorry!!!" goda meta.
Pada dasarnya Devan selama ini memang tidak pernah terlihat menggandeng cewek, meski dia dikejar banyak cewek-cewek tapi entah karena perasaannya yang masih tertuju ke meta atau memang dia tidak ingin menggantikan posisi meta dalam hatinya meski dia tahu hubungan meta dan Rendi seperti apa. Lagi pula sekarang Devan sudah terlihat lebih akrab dengan Rendi.
"Asal kamu tahu, aku paling selektif dalam memilih pacar. Jadi aku gak bisa sembarangan milih orang yang aku jadiin pacar! Tapi siapa pun pacar aku nanti pasti dia bakal beruntung bisa punya pasangan sekeren aku!"
"Haduh....masih aja narsis!! Yang jelas siapa pun cewek kamu nanti juga harus siap menghadapi kenarsisan kamu yang luar biasa itu!" celetuk meta.
"Aku gak narsis, tapi aku hanya bicara kenyataan tentang betapa kerennya aku!"
"Hemmm....!" jawab meta malas.
"Ya udah sih gak usah cemberut gitu. Lagi pula kenapa sih galau gitu?"
"Kan tadi aku udah bilang siapa yang galau sih?"
"Mata kami gak bisa boong kali, eh iya balik yukss. Aku udah capek nih pengen rebahan di kamar!"
"Ya udah yuk!!"
Mereka berdua berjalan meninggalkan Hungaria bingar cafe itu. Devan mengambil gitarnya, memasukan ke dalam tas dan dia tenteng di bahu kanannya.
Tidak banyak pembicaraan sepanjang perjalanan mereka pulang. Sesekali Devan mengamati meta yang menyilangkan tangannya di balik jaektnya karena merasa kedinginan.
Malam ini udara memang terasa lebih dingin karena sudah memasuki musim dingin. Beberapa hari ini pun salju sudah mulai turun di kota itu.
Devan melepaskan syalnya dan melongkarkannya ke leher meta, sepertinya meta lupa membawa syal tadi.
"Gak usah Van!"
"Udah gak usah bawel, kamu kedinginan kan! Lagian kok bisa lupa sih gak pakai syal? Kan kamu tahu dari kemarin turun salju!" kata Devan sambil merapikan syalnya ke leher meta.
"Tadi aku buru-buru jadi lupa!"
"Ya udah ayok cepet, udara makin dingin, mending kita jalan cepat supaya bisa cepet sampai apartemen?'
Devan berjalan cepat menyusuri jalanan menuju apartemen, sedang meta hanya mengikutinya dari belakang. Devan yang melihat meta tertinggal jauh di belakang tiba-tiba kembali menghampirinya.
"Ayo naik!" kata devan menyodorkan punggungnya.
"Udah gak usah berisik! Ayo cepetan naik, biar aku gendong! Nanti kalo nunggu kamu jalan kayak siput gitu kapan nyampai ke apartemennya. Yang ada saljunya makin lebat dan kamu tambah kedinginan!"
"Gak usah Van, aku bisa jalan sendiri!" tolak meta.
"Kelamaan!!!"
Tanpa aba-aba Devan pun menarik tangan meta ke bahunya dan menggendong meta sampai ke apartemen.
"Kamu makan apa sih, berat banget tahu!" kata devan.
Devan menggendong meta di tengah hujan salju yang semakin lama semakin lebat. Udara malam pun semakin dingin, dan itu yang membuat meta semakin menggigil kedinginan.
"Kok diem?" tanya Devan lagi tapi tak mendapat sautan dari meta.
Devan mengantar meta sampai di depan kamarnya. Tak terasa meta sepertinya tak sengaja tertidur saat digendong Devan.
"Met, udah sampai nih?"
Sesaat meta mengerjapkan matanya,.memandang sekeliling, terkaget kalo dia masih di bahu Devan yang menggendongnya. Cepat-cepat meta langsung turun saat dia tersadar.
"Eh maaf Van, aku ketiduran tadi!"
"Dasar, baru jalan gitu aja udah ketiduran, mungkin karna bahu aku terlalu nyaman kali yah makanya kamu langsung ketiduran gitu pas aku gendong!'
"Masih aja narsis! By the way makasih udah gendong aku, yah meskipun aku sebenarnya bisa jalan ke sini sendiri. Makasih juga syalnya, besok aku cuci dulu baru aku kembaliin!"
"Iya sama-sama, kayak ama siapa aja. Ya udah aku ke kamar dulu yah!"
"Hhhhhaaaaatttccchhimmmm!!!"
Devan yang tadinya menuju kamarnya berbalik lagi melihat meta yang bersin.
"Kamu kenapa?"
"Gak, cuma kedinginan aja!"
"Tapi wajah kamu pucat? Kamu sakit?"
"Aku gak papa kok Van! Aku masuk dulu yah!"
"Serius kamu gak papa?"
"Beneran! Mungkin aku cuma kedinginan aja! Ya udah sana gih masuk kamarmu!"
"Iya, ini juga mau masuk!"
Meta mencari kunci yang ada di tasnya, entah kenapa kepalanya tiba-tiba begitu pusing. Tak sengaja kunci yang dia cari jtuhbke lantai. Meta membungkukan badannya untuk mengambil kunci itu, namun kepalanya terasa begitu pusing membuatnya terjatuh ke lantai.
Devan yang melihat meta tiba-tiba terjatuh ke lantai langsung menghampirinya.
"Met, kamu kenapa?"
"Kepalaku pusing banget Van!"
Dengan cepat Devan mengambil kunci kamar meta, membuka pintu kamar dan menggendong meta masuk ke dalam kamarnya.
Devan merebahkan meta ke kasurnya, melapaskan sepatunya, kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal supaya meta tidak kedinginan.
"Kamu kenapa met? Aku bawa ke dokter yah kalo sakit?"
"Gak usah Van, aku gak papa, aku cuma kedinginan aja!"
"Ya udah tunggu sebentar yah, aku ambil selimut lagi di kamarku kalo kamu masih kedinginan!"
Devan yang panik melihat meta seperti itu tanpa pikir panjang langsung berlari mengambil selimut lagi di kamarnnya. Devan langsung menyelimutinya meta yang menggigil kedinginan dengan selimutnya itu.
^^^Ayo dong terus like dan vote yah.....^^^