TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Berpisah Lagi


"Kayaknya mamanya Rendi suka sama kamu!"


"Maksud kamu?"


Rendi menatap jalanan menuju bandara sambil fokus menyetir.


"Mamanya Rendi ngomong apa tadi pas bisik-bisik sama kamu tadi?"


"Nggak....dia cuma bilang kalo aku suruh nyemangati Ardian, itu aja kok."


"Jelas banget tadi seolah-olah dia ngremehin aku dan mau bandingin keluargaku dengan keluarga Ardian. Kalo bukan karena kamu, aku sebenarnya males ke rumah Ardian. Udah syukur waktu itu aku gak menghajar dia!"


"Ya udah sih Rend, gak usah digubris. Aku juga gak pengen punya urusan lagi dengan Ardian. Yang terpenting kan dia udah tahu kalo aku udah maafin dia, cuma itu doang niatan aku buat nemuin dia."


"Aku harap kamu gak ketemu lagi dengan Ardian atau mamanya. Yah meski sebenarnya kasihan juga kalo ngeliat Ardian kayak gitu. Tapi bukan berarti juga sakitnya Arfian adalah alasan buat dia dan mamanya buat ngedeketin kamu!"


"Aku tahu Rend, lagi pula kan nanti aku bakal di Jerman. Jadi mungkin gak akan ketemu lagi!"


"Yah awas aja kalo mereka sampai gangguin kamu. Itulah makanya sebenernya aku pengen banget kita cepat menyelesaikan kuliah dan cepat bisa menikah, biar gak ada orang yang gangguin kamu lagi!"


"Mulai deh posesifnya, jangan cemberut gitu ah....jadi ilang kerennya kalo cemberut kayak gitu," goda meta yang berusaha mencairkan suasana supaya Rendi tidak terus menerus terperangkap dalam rasa cemburunya.


"Iya, iya, hari ini kan kamu udah berangkat ke Jerman harusnya kita berpisah dengan kebahagiaan supaya kita semangat kuliah bukan dengan kecemburuan! Jadi aku gak pengen marah dan cemburu berlebihan seperti kemarin-kemarin. Oh iya apa Devan juga balik ke Jerman hari ini?"


"Emmm aku gak tahu sih, aku kan gak pernah tanya-tanya sama dia!"


"Oh..."


"Terus kapan kamu berangkat ke Singapura?"


"Besok, setelah ambil berkas di kantor karena mama bilang aku harus mewakili dia di meeting perusahaan di sini. Baru setelah itu aku berangkat ke Singapura."


"Keren banget sih pacar aku, muda, tampan dan juga smart. Pantesan banyak cewek-cewek yang dengan segala cara mau merebutnya dari aku!"


"Makasih, aku memang keren dan berbakat!" kata Rendi narsis.


"Narsis banget sih!"


"Biarin!"


Meta melihat tak ada amarah kecemburuan lagi di wajah Rendi, akhir-akhir ini meta melihat kalau Rendi memang sudah tidak begitu menumpahkan emosi kecemburuannya seperti dulu.


"Rend...."


"Hem...kenapa?"


"Kalo aku di Jerman nanti, kamu baik-baik yah di sini. Jaga kesehatan kamu, jangan capek-capek, terus juga jaga mata dan hati kamu juga, jangan sampai ada cewek lain yang menarik perhatian kamu!"


"Ceilah.... akhirnya kamu juga cemburu sama aku!" kata Rendi sambil tertawa kecil.


"Aku serius rend, kamu tahu kan cewek-cewek yang selalu ngedeketin kamu itu selalu melakukan segala macam cara supaya bisa mendapatkan kamu!"


Rendi tersenyum mendengar perkataan meta yang jelas-jelas penuh dengan kecemburuan. Tapi Rendi sangat menyukai sikap meta itu, karena biasanya dia yang lebih posesif dibanding meta.


"Kok malah senyum sih? Aku serius tahu!" kata meta sambil mencubit lengan Rendi karena kesal.


"Aw....kok nyubitnya beneran sih?"


"Abisnya kamu malah kayak gitu sih!"


"Iya deh gak gitu lagi, gitu aja ngambek!!"


Rendi menghentikan mobilnya di sebuah deretan pertokoan yang berada di pusat kota.


"Loh kenapa berhenti di sini?"


"Bentar aku mau beli sesuatu dulu, kamu tunggu di sini dulu yah!"


"Mau ngapain sih Rend?"


"Udah pokoknya tunggu sebentar aja!"


"Ya udah deh!"


Rendi pun menuju ke salah satu toko yang ada di situ, sedang meta pun mengutak-atik handphonenya sambil menunggu Rendi di dalam mobil.


"Rendi kemana sih, lama banget!" gerutu meta sambil sesekali melihat jam tangannya.


Tiba-tiba suara kaca mobil di ketuk, nampak Rendi berada di luar dan meminta meta untuk turun dari mobil. Meta pun langsung membuka pintu dan keluar dari mobil menghampiri Rendi.


"Dari mana aja sih lama banget?" gerutu meta.


"Taaaraaaaa.....!!"


Dari belakang tangannya Rendi mengeluarkan sebuah boneka HelloKitty besar.


"Buat kamu!"


"Ya ampun....makasih banget Rend!"


"Iya, aku tahu banget kamu suka banget sama HelloKitty! Anggep aja ini adalah sebagai pengganti aku saat aku jauh dari kamu! Jadi kalo kamu kangen sama aku, kamu bisa peluk bonekanya!"


"Iya deh, makasih ya sayang bonekanya!"


"Cuma makasih doang nih?"


"Lah terus?"


Rendi menunjuk pipinya memberi kode pada meta. Meta pun mencium sekilas pipi Rendi.


"Udah ah malu tahu! Ya udah kita langsung ke bandara aja yuk, nanti ketinggalan pesawat lagi!"


Rendi tersenyum melihat tingkah meta yang salah tingkah.


"Makasih!"


Rendi pun melajukan mobilnya lagi menuju bandara. Beberapa menit kemudian. mereka sampai di bandara. Rendi pun menurunkan koper meta dan membawanya ke ruang tunggu bandara.


"Kamu laper gak?" tanya Rendi.


"Laper sih, dari tadi belum sempat makan!"


"Masih ada waktu berapa menit?"


"Emm mungkin sekitar 30 menitan!"


"Kalo gitu kita makan dulu ya!"


"Okey!"


Mereka menuju ke restoran yang berada di sekitar situ, memesan sejumlah makanan untuk mengisi perut mereka.


Dret....dret..dret... handphone meta bergetar tanda panggilan masuk.


"Hallo ma!"


"Kamu sudah berangkat sayang, maaf mama gak bisa nganter kamu ke bandara!" kata mama meta di ujung sana.


"Iya gak papa kok ma, ini meta sama Rendi!"


"Syukurlah ada Rendi yang mengantar kamu! Kamu hati-hati ya sayang, baik-baik di sana. Kalo aja mama gak meeting hari ini, pasti mama akan nganterin kamu!"


"Iya ma, meta gak papa kok, mama baik-baik ya di sini, jangan capek-capek kerjanya, jangan lupa makan!"


"Makasih sayang, kamu juga hati-hati di sana ya, belajar ang rajin terus kalo pas lagi musim dingin jangan lupa pakai jaket tebal kamu supaya kamu gak kedinginan!"


"Iya ma!"


"Ya udah mama lanjut meeting dulu ya, salam buat nak Rendi! Love you sayang!"


"Love you mama!"


Tut Tut Tut panggilan terputus.


Sepintas met merasakan kesedihan saat dia harus meninggalkan orang-orang yang dia sayangi.


"Kok ngelamun?"


"Nggak....cuma sedih aja!"


"Sedih karena mamamu gak bisa nganterin kamu? Kan ada aku!"


"Aku sedih harus berpisah dengan kalian, rasanya berat buat aku harus jauh dari kalian!"


"Aku juga berat buat jauh dari kamu!"


Rendi menghampiri meta dan memeluknya erat, tak sengaja air mata meta mengalir begitu saja. Meta menangis tersedu sambil memeluk Rendi erat seolah tak ingin berpisah.


"Udah ya jangan nangis!" kata Rendi sambil mengelus rambut meta.


"Aku pasti bakal kangen banget sama kalian!"


Rendi membiarkan meta dalam pelukannya menumpahkan segala kesedihannya setidaknya hal itu bisa sedikit membuat meta lega.


"Udah ya....jangan nangis lagi dong!" kata Rendi sambil mengusap air mata meta.


Rendi memapah meta menuju ke tempat pemeriksaan tiket. Mungkin bukan hanya bagi meta, bagi Rendi ini juga berat tapi dia hanya bisa menahannya agar meta tidak melihatnya sedih.


"Aku berangkat ya Rend, kamu hati-hati ya!"


"Kamu juga hati-hati, jangan lupa telepon kalo sudah sampai di sana!"


Meta memeluk Rendi lagi, seolah tak ingin berpisah dengannya.


"Aku sayang banget sama kamu, jaga diri kamu baik-baik di sana! Nanti aku bakal sering-sering berkunjung ke sana!"


"Beneran ya, kamu bakal sering ke sana. Awas kalo boong!" ancam meta.


"Iya, janji!"


Meta melepaskan pelukannya, sedang Rendi pun masih menggenggam tangan meta erat.


"I Love you sayangku!"


Rendi menangkupkan kedua tangannya ke pipi meta, mencium kening meta dengan lembut.


"I Love you too!'


Sesaat Rendi mencium lembut bibir meta sebagai salam perpisahan. Rasanya begitu berat saat-saat seperti ini.


"Maaf aku gak bisa nganterin kamu ke Jerman, sebagai gantinya biar boneka ini yang menemani kamu di sana" kata Rendi melepaskan ciumannya.


Meta tersenyum kecil sambil memeluk boneka pemberian Rendi tadi.


"Kalo gitu aku berangkat dulu!"


"Iya, kamu hati-hati ya!" kata Rendi dengan suara parau karena menahan tangisnya.


Meta melangkah meninggalkan Rendi, sesaat melambaikan tangan sebelum pergi. Begitu berat berpisah dengan orang yang dia sayangi.


Rendi pun tak kuasa menahan kesedihannya kala melihat punggung meta yang mulai menghilang dari pandangannya.


"Aku sayang banget sama kamu meta, aku gak tahu apa aku bisa kuat jika suatu saat nanti aku sudah tidak bisa melihatmu lagi!" gumam Rendi dalam hati dan tak terasa air mata bening mengalir di pipinya.


^^HAI TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE YAH.....!!!^^