
Acara reuni pun dimulai dengan sambutan kepala sekolah dan pertunjukan band para adik angkatan yang ikut memeriahkan acara itu. Terdengar lantunan lagu band pengisi acara yang sengaja diundang mengumandangkan lagu-lagunya untuk menghibur para alumni SMA yang datang malam itu.
SAMPAI JUMPA
Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut bertemu akan berpisah
Hey!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut bertemu akan berpisah
Hey!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu
Hei!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu
Du duu duuduuu
Semua yang hadir di situ ikut terlarut dan ikut melantunkan lagu itu.
Acara malam itu benar-benar meriah, setelah band pengisi acara itu selesai, Devan maju ke depan untuk unjuk kebolehannya dalam bernyanyi.
Seperti waktu perpisahan sekolah dulu, kali ini Devan juga tampil dengan gitarnya. Para adik-adik angkatan yang dulu suka berteriak histeris pada saat Devan bermain basket sekarang terulang kembali. Mungkin mereka juga merindukan saat-saat Devan bermain basket di sekolahnya.
"Selamat malam semuanya, senang sekali kita bisa berjumpa lagi di sekolah kita tercinta ini. Rasanya baru kemarin kita lulus dari sekolah ini, tapi sekarang kenyataannya kita sudah punya almamater sendiri-sendiri di tempat kuliah kita masing-masing. Dan buat adik kelas yang juga hadir di sini, kejarlah impian kalian setinggi mungkin!" kata Devan seperti memberi sambutan sebuah pidato.
"Kak Devan tambah keren yah, katanya dia kuliah di Jerman loh, keren banget yah!" kata salah seorang adik kelas yang ada di situ.
"Si Devan sukanya caper banget sih!" celetuk Rendi.
"Cari perhatian?" tanya meta heran.
"Iyalah, pasti dia kayak gitu mau cari perhatian sama kamu!"
"Ya ampun udahlah Rend, lagian si Devan kan dari dulu memang suka nyanyi!"
AT MY WORST
Can I call you baby?
Can you be my friend?
Can you be my lover up until the very end?
Let me show you love, oh, I don't pretend
Stick by my side even when the world is givin' in, yeah
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
No, I'm not perfect, but I hope you see my worth
'Cause it's only you, nobody new, I put you first
And for you, girl, I swear I'll do the worst
If you stay forever, let me hold your hand
I can fill those places in your heart no else can
Let me show you love, oh, I don't pretend, yeah
I'll be right here, baby, you know I'll sink or swim
Oh, oh, oh, don't
Don't you worry
I'll be there, whenever you want me
I need somebody who can love me at my worst
No, I'm not perfect,…
Seperti biasa Devan menyanyikan lagu itu dengan pembawaannya yang penuh penghayatan.
Seperti yang bisa dilihat, Devan memang terkenal sebagai kapten tim basket yang dulu saat bermain basket para anak-anak cewek selalu berteriak menjadi suporter dadakan untuknya. Apalagi dengan Devan yang sebenarnya jago bernyanyi dan bermain gitar, memang bisa membuat siapa pun wanita pasti terpesona olehnya.
"Tuh kan bener, dia sengaja nyanyiin lagu itu buat kamu!" gerutu Rendi.
Meta pun tak ingin menanggapi perkataan Rendi yang kalo dia tanggapi justru akan membuat mereka bertengkar.
Devan yang turun dari panggung kemudian dikerubuti oleh para adik-adik kelas yang ingin kenal lebih dekat dengan dia.
Dulu mungkin Devan sangat suka mencari perhatian supaya cewek-cewek di sekolahnya kagum dan terpesona padanya walaupun sebenarnya alasan sesungguhnya dia seperti itu adalah mencari perhatian dari meta. Tapi malah justru cewek-cewek lain yang terpesona dengannya.
"Kak Devan aku minta tipsnya dong, gimana caranya bisa kuliah ke Jerman?" kata salah seorang cewek.
"Oh iya kapan-kapan bisa gue ajarin tapi gue mau ke situ dulu yah!"
Devan hanya menanggapi cuek para adik-adik kelasnya yang menjadi fans dadakannya.
"Yah kok malah pergi sih!"
Devan duduk di meja yang sudah di siapkan, dia bergabung dengan teman-teman basketnya dulu. Rasanya semenjak dia pergi ke Jerman dia hampir tak pernah berkumpul dengan teman-teman tim basketnya. Padahal dulu mereka selalu berkumpul setelah sepulang sekolah.
Sesekali Devan menatap meta dan Rendi yang duduk di seberang sana. Sedang meta dan Rendi sibuk berbincang berdua.
"Tes tes tes!"
Tiba-tiba suara Dinda di atas panggung mengalihkan perhatian mereka.
"Hai semua, malam ini acara reuni sekolah seru banget yah, em kali ini aku bakal kasih kalian surprise kompilasi foto-foto masa-masa SMA kita dulu! Semoga kalian suka yah!"
Slide demi slide ditayangkan, awal mulanya slide itu berisi foto-foto kenangan masa-masa SMA mereka dulu. Beberapa foto yang mungkin mengingatkan mereka pada masa-masa sekolah dulu.
Namun entah kenapa slide foto-foto di situ justru menampilkan foto-foto meta bersama Devan yang entah dari mana Dinda mendapatkan foto-foto itu.
"Gaes-gaes.... sebenarnya dalam foto-foto ini aku merangkum kejadian salah satu kisah kasih tak sampai dari masa SMA kita dulu yang mungkin sampai sekarang juga masih sama!"
Meta yang kaget melihat foto-foto dirinya bersama Devan membuatnya terbakar emosi.
"Apa-apaan sih tuh Dinda, mau mempermalukan gue kayak gini. Ini gak bisa dibiarin!" gerutu meta.
Rendi yang melihat foto-foto itu juga baru tahu kenyataan yang sebenarnya selama ini dia tidak ketahui.
Meta beranjak dari tempat duduknya dan di tempat lain yang hampir bersamaan Devan juga menuju panggung. Alhasil meta dan Devan sudah berdiri di depan Dinda saat ini bersiap untuk menumpahkan emosi mereka.
"Matiin gak slide itu!"
Meta benar-benar marah karena kali ini Dinda sudah benar-benar keterlaluan mencampuri hidupnya, bahkan terang-terangan mempermalukannya.
"Kenapa met? Lo takut Rendi dan semua orang di sini tahu tentang kedekatan kalian di Jerman!"
Foto-foto itu memang menunjukkan beberapa foto antara meta dan Devan yang sedang berdua saat di Jerman.
"Lo udah bener-bener keterlaluan ya Din!" teriak Devan.
"Salah apa sih gue sama Lo sampai Lo tuh cari masalah sama gue terus!!"
Meta sudah tidak bisa mengontrol emosinya saat ini, rasanya dia benar-benar ingin menampar Dinda yang sudah mempermalukannya.