TERJEBAK CINTA META

TERJEBAK CINTA META
Gedung Kenangan


5 Tahun Berlalu


Setelah kepergian Rendi, meta melanjutkan kuliahnya ke Jerman. Meski terasa berat semua dia jalani dengan lapang dada. Bahkan semenjak peristiwa dimana Devan dia tampar di depan makam rendi itu membuat devan menjauh darinya.


Bahkan waktu di rumah sakit Devan meninggalkannya sendiri, Devan memutuskan untuk kembali ke Jerman sendiri, melanjutkan studinya, devan juga memutuskan untuk pindah ke apartemen lain yang jauh dari apartemennya.


Bertahun-tahun ini rasanya Devan menjauhi meta, berat bagi meta karena setelah kepergian Rendi, saat dia butuh sahabat yang selalu ada, tapi kenyataannya Devan justru menghilang darinya.


Beberapa kali meta mencoba meminta maaf dengan Devan karna tak sengaja menamparnya waktu itu, namun entah kenapa rasanya Devan justru menjauhinya. Sampai akhirnya Devan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya di Jerman.


Meta pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah 2 tahun menjalani coas. Meneruskan pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit yang sudah dibangun oleh Rendi sebelum Rendi meninggal.


Sebelum meninggal rendi memang sengaja membangun rumah sakit untuk meta di Indonesia, bahkan di sela-sela aktivitas kuliah dan perusahaannya di Singapura rendi masih selalu bisa memantau proyek kerja sama dengan keluarga Ardian itu.


Awalnya bahkan meta tidak tahu kalau Rendi ternyata selama ini sudah mempersiapkan semuanya ini untuknya. Karena yang meta tahu selama ini Rendi bekerja sama dengan perusahaan Ardian karena membangun anak perusahaan yang baru tapi ternyata diam-diam Rendi membangun sebuah proyek rumah sakit untuk meta.


Hari ini di sela-sela kesibukannya, seperti biasa meta menatap pandangan dari lantai 4 gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Sebagai pimpinan rumah sakit yang masih baru, meta masih harus bekerja keras menata segala managerial rumah sakit itu, apalagi dia juga masih harus banyak belajar dari dokter-dokter senior lainnya.


Kantor pribadi berukuran 5 X 5 itu mempunyai salah satu sudut yang paling dia sukai semenjak dia bekerja di situ. Sudut dimana dia bisa memandang sekeliling tempatnya bekerja terutama tempat dimana ada banyak kenangan yang tersimpan di sana. Rumah sakit itu memang sengaja Rendi buat dekat dengan sekolah SMP mereka dulu, tempat pertama kali meta dan Rendi bertemu.


"Makasih atas semua kenangan indah yang kamu beri Rend....aku kangen banget sama kamu!! Tapi aku tahu ini adalah rencana Tuhan yang tak mungkin bisa kita lawan!" bisik meta sambil memandangi gedung sekolahnya yang terlihat belum banyak perubahan.


"Tempat pertama kali kita bertemu.....sampai sekarang masih tetap sama....seperti perasaanku yang tak akan pernah berubah sama kamu!!" kata meta sambil mengusap air matanya yang tak terasa menetes di pipinya.


Hari-hari boleh berlalu, namun itu tak mengubah perasaan meta yang masih mencintai Rendi. Hampir setiap hari meta selalu menghabiskan waktu memandangi gedung sekolah itu, seperti ritual yang selalu dia lakukan di sela-sela kesibukannya. Walaupun di setiap dia melakukan itu, pasti air matanya selalu mengalir tiada henti.


Tok tok tok


Ceklek


Suara pintu di buka oleh salah seorang perawat sekaligus asisten meta. Sinta melihat meta yang berdiri di depan kaca, entah sudah berapa kali dia melihat bosnya seperti itu


"Maaf Bu meta, apa saya mengganggu?"


"Tidak sin, ada apa?" kata meta mengusap air matanya supaya tidak diketahui oleh sinta meski sebenarnya tanpa disembunyikan pun Sinta juga pasti tahu kalau dia sedang menangis.


"Ada kiriman bunga untuk ibu!"


"Kiriman bunga?"


Sinta langsung memberikan sebuket bunga berwarna-warni itu pada meta.


"Dari siapa?" tanya meta heran, baru kali ini dia menerima kiriman bunga di rumah sakit.


"Kurang tahu Bu, tapi sepertinya ada kartunya!"


"Kalo gitu makasih yah sin, kamu boleh kembali bekerja!"


"Baik Bu, kalo gitu saya permisi!!"


Meta mendudukkan dirinya di meja kerjanya membuka sebuah amplop yang ada diantara bunga warna-warni itu.


Entah kenapa meta justru merasa Dejavu dengan masa-masa dulu saat dia mendapat kiriman-kiriman surat ataupun bunga dari para penggemarnya di sekolah.


Dear Meta,


*Entah sudah berapa lama aku menahan semua perasaan ini...


Atau mungkin sebenarnya kamu sudah melupakan semua kisah kita....


Sudah berapa lama rasa itu berkarat di hatiku...


Waktu mungkin boleh berganti....


Namun perasaan tak akan pernah terganti...


Meski sekuat tenaga mengingkari.....


Setidaknya aku ingin menebus masa-masa yang sudah hilang dan berat untuk mu....


Jika kamu mau mengulang kenangan itu dan memaafkan aku temui aku di Cafe dekat sekolah kita dulu malam ini jam 5 sore.....


Salam manis dari orang yang pasti kamu rindukan


Devan*


Meta menutup kembali amplop itu, sejenak dia merasa tak percaya Devan mengirimkan surat untuknya, bahkan mengajaknya untuk bertemu.


"Devan....untuk apa kamu mengajakku untuk bertemu?"


Selama ini meta dan Devan menjalani kehidupan mereka masing-masing, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya mereka tak pernah saling berkomunikasi.


Terakhir kali mereka bertemu saat reuni SMA beberapa tahun lalu, dan waktu itu Devan seperti sosok yang hampir meta tidak kenali karna rasanya Devan memang menjauhi dirinya.


Meta tahu sekarang Devan sibuk bekerja di salah satu perusahaan milik kolega papanya, bahkan sekarang Devan juga sering wara-wiri bernyanyi di televisi.


Jadi meta berpikir sudah tidak mungkin mereka bisa menjalin persahabatan seperti dulu lagi. Meta hanya berusaha mengikhlaskan kebahagian sahabatnya itu dengan kesibukannya saat ini.


"Apa aku harus datang?"


Meta berpikir sejenak, apakah dia harus pergi menemui Devan atau tidak. Walau bagaimanapun ini kesempatan meta untuk bertemu dengan sahabatnya yang sekian lama menghilang.


Meta mengemasi barang-barangnya, kemudian dia bergegas menuju cafe itu setelah meninggalkan beberapa pesan untuk Sinta sebelumi dia pergi.


Setengah jam kemudian meta sudah sampai di cafe itu, namun dia belum menemukan Devan di cafe itu. Meta melihat jam ditangannya sudah menunjukan pukul 5 lewat 10 menit.


"Mungkin devan terlambat!" gumam meta.


Meta mendudukkan dirinya di salah satu bangku cafe, memesan lemon squash sambil menunggu kedatangan Devan.


"Bukannya dia yang membuat janji, tapi kenapa dia yang terlambat!" gerutu meta.


Hampir setengah jam berlalu namun Devan belum juga muncul.


"Kenapa belum juga datang? Apa dia mengerjaiku!?" gerutu meta.


Seandainya meta mempunyai kontak Devan pasti dia akan menghubungi Devan saat ini juga tapi sayangnya dia tak pernah tahu nomor kontak Devan.


"Bodoh banget sih aku, mungkin bisa aja ada orang yang sengaja mengerjaiku!"


Meta berdiri dari tempat duduknya berniat untuk pergi.


"Hei...gimana rasanya menunggu seseorang?" sapa seseorang yang dari suaranya meta tahu betul suara siapa.


Meta membulatkan matanya pada sosok Devan yang sudah ada di depannya saat ini. Nampak Devan yang terlihat semakin dewasa dengan wajah yang semakin terlihat tampan. Mungkin waktu sudah mengubahnya selama ini.


"Devan?" kata meta gugup.


"Gimana rasanya nunggu lama??" kata Devan sambil memandang meta intens.


Sorot mata Devan yang tak pernah berubah, meski bertahun-tahun lalu seakan menghilang kini terlihat jelas di depan mata meta.