
Semua yang hadir di situ seolah terlarut dalam suasana berkabung, menahan rasa sedih dan seolah tak percaya dengan kepergian Rendi.
Meta yang dipapah oleh Devan dan risma seolah masih lemas setelah pingsan tadi. Sebenarnya Devan sudah melarang dia untuk ikut pergi karena Devan tak mau meta semakin bersedih, namun meta bersikukuh ingin melihat Rendi untuk terakhir kali.
Ini memang berat bagi meta, bahkan seolah dia tak punya daya untuk melihat kepergian Rendi untuk selamanya.
Suara Isak tangis mengiringi kepergian Rendi, bahkan teman-teman kuliah Rendi dan teman-teman semasa SMA juga turut hadir saat itu. Mereka juga merasakan kesedihan yang mendalam kehilangan Rendi.
Apalagi bagi Anisa, seolah dia tak percaya ketika mendengar kabar kepergian Rendi yang begitu tiba-tiba. Anisa menatap meta dengan tatapan sinis penuh amarah di benaknya.
"Ini semua pasti karna salah kamu!" pekik Anisa dalam hati saat melihat meta.
Satu per satu teman mereka mengucapkan bela sungkawa kepada Karoline dan juga meta sebelum mereka pergi.
Kini tersisa beberapa orang di samping makam Rendi. Bastian dan Rafael langsung menghampiri meta.
"Kamu meta yah?" tanya Bastian.
Meta mengangguk pelan menanggapi Bastian.
"Aku Bastian dan ini Rafael kita berdua sahabat Rendi sewaktu kuliah!' kata Bastian memperkenalkan diri.
"Aku gak nyangka kita dipertemukan dengan cara seperti ini! Padahal dulu jujur kita berdua selalu penasaran dengan kamu, karena gak tahu kenapa Rendi selalu bercerita tentang kamu tapi kita gak pernah ketemu sama kamu!!" kata Rafael menimpali.
"Makasih yah kalian udah bisa jadi sahabat Rendi selama ini! Aku tahu Rendi memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain!!"
"Rendi selalu cerita tentang kamu, dia bilang pacarnya adalah cewek yang paling cantik dan paling pintar, tidak ada yang bisa menggantikan kamu dihatinya sampai kapan pun. Bahkan Sling setianya Rendi sama kamu, dia sampai menolak para cewek-cewek yang selalu ngejar dia! Rendi adalah sosok yang luar biasa, bahkan dia masih bisa konsen dengan perusahaan meski dia juga sibuk kuliah! Aku benar-benar salut dengan Rendi!" kata Rafael mengingat kebersamaan mereka saat itu.
"Dan kita juga gak habis pikir, Rendi bisa pergi secepat ini. Aku tahu Rendi pasti punya alasan kenapa dia tidak cerita ke kita berdua mengenai penyakitnya!" kata Bastian menimpali.
"Aku tahu Rendi gak pengen ngrepotin banyak orang, apalagi dia dianggap harus dianggap dan dikasihani orang lain! Aku tahu Rendi tak ingin menyusahkan kalian, karna aku tahu Rendi adalah sosok yang kuat! Bahkan di depanku sekalipun dia tak pernah mengeluh tentang penyakitnya itu!"
Meta berjongkok di depan nisan Rendi, sambil menaburkan bunga di pusara Rendi meta mengingat semua kenangan bersama rendi. Air mata mengalir deras di pipinya begitu pula Karoline yang tak sanggup kehilangan orang terpenting dalam hidup mereka.
"Aku tahu kamu pasti kuat meta, Rendi juga pasti sedih melihat kami seperti ini!" kata Bastian sambil menepuk pundak meta.
"Rendi sangat mencintai kamu meta, pasti dia tidak ingin melihat kami terpuruk seperti ini! Apalagi Rendi pernah bercerita sama aku kalo kamu menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter, memang berat bagi Rendi saat dia memutuskan untuk LDR dengan kamu tapi dia tak ingin menjadi penghalang cita-cita kamu itu!" kata Rafael menimpali.
"Aku sangat beruntung pernah memiliki Rendi, sosok yang benar-benar bisa menerima aku apa adanya!"
Anisa yang dari tadi masih berdiri di situ masih berdiri di situ seolah masih merasakan kemarahan pada meta.
"Ini semua gara-gara kamu!" pekik Anisa tiba-tiba.
Semua orang yang ada disitu langsing mengarahkan pandangannya ke arah Anisa.
"Kamu kan yang bikin Rendi kayak gini! Dari dulu aku udah bilang kan, kalau kalian itu gak bisa bersama!"
"Tutup mulut kamu! Ngapain kamu tiba-tiba teriak-teriak gak jelas kayak gitu! Kamu ngomong kayak gitu karna kamu dari SMA dulu selalu bucin sama Rendi tapi sayangnya Rendi gak milih kamu kan!" jawab Devan.
Bastian dan Rafael baru tersadar kalau itu adalah Anisa, mahasiswa baru yang waktu itu pernah cari perhatian dengan Rendi.
"Kenapa sih kak Devan dari dulu selalu aja belain meta, apa kak Devan juga gak pernah nyadar kalau dari dulu kak Devan juga bucin sama meta tapi meta lebih memilih kak Rendi!!"
"Kamu tuh udah bener-bener gak punya sopan santun yah, dalam kondisi kayak gini kamu masih bisa ngomong kayak gitu ke meta!"
Anisa hanya bisa mendengus kesal, dan lebih memilih untuk pergi dari situ.
"Meta, ayo sayang kita pulang!!" kata mama meta yang tak kuat melihat anaknya terus bersedih seperti itu.
"Aku pengen di sini ma, aku masih pengen di sini dulu!"
"Biar aku yang nemenin meta di sini Tante, Tante risma sama Tante Karoline pulang duluan aja!" kata Devan.
"Ya udah, kamu jaga meta ya Van! Biar tante yang bawa jeng Karoline pulang!"
Risma membawa Karoline pergi dari makam rendi, sedang meta masih ditemani oleh Devan, Bastian dan Rafael berada di situ.
"Meta, aku berharap kamu bisa kuat menghadapi semua ini! Kamu jangan sungkan-sungkan menghubungi kita kalau kamu butuh bantuan, anggap saja kita juga sahabatmu!" kata Rafael.
"Makasih yah, kalian udah begitu perhatian sama aku! Makasih juga atas penawaran kalian, aku juga berharap kalian bisa selalu mendoakan Rendi!"
"Pasti kita bakal selalu kirim doa untuk Rendi, kalo gitu kita berdua pamit dulu ya!" kata Bastian.
Meta menyalami kedua sahabat Rendi itu masih dengan air mata yang tak dapat dia bendung.
"Kita juga harus pulang meta!!" kata Devan.
"Kalau kamu mau pulang, kamu pulang aja dulu, aku masih mau di sini!"
"Met, bentar lagi mau hujan, mau sampai kapan kamu di sini!!"
"Tinggalin aku sendiri Van! Aku butuh waktu buat sendiri!!"
"Nggak...aku gak bakal ninggalin kamu di sini sendiri, aku udah bilang sama mama kamu buat jagain kamu di sini!"
Beberapa saat kemudian rintik hujan mulai turun membasahi. Devan tak tega melihat meta seperti itu.
"Met, ayo kita pulang, hujan makin deres, kamu gak bisa kayak gini!!"
"Kamu pulang aja Van!! Aku masih mau di sini!"
Devan yang melihat meta seperti itu rasanya membuatnya tersiksa, Devan menarik tangan meta namun meta berusaha melepaskan genggaman Devan.
"Van, aku udah bilang kan, kalo kamu mau pulang kamu pulang aja dulu, aku masih mau di sini!"
"Terus sampai kapan kamu mau kayak gini! Rendi juga pasti sedih ngeliat kamu terpuruk kayak gini! Mau sampai kapan kamu di sini, sampai kamu kehujanan atau kamu mau nunggu sampai sakit di sini!!"
"Kenapa sih kamu selalu ikut campur urusan aku!"
"Aku akan selalu ikut campur urusan kamu!!"
"Kenapa Van? Gak seharusnya kamu selalu ikut campur urusanku!! Kalopun aku mau di sini itu juga bukan urusan kamu!!"
"Jelas ini urusan aku!! Asal kamu tahu sebelum Rendi meninggal, dia udah bilang sama aku supaya aku bisa ngejagain kamu saat dia gak ada di samping kamu!!"
Meta menatap ke arah Devan, dia bahkan sama sekali tak pernah mengetahui hal itu selama ini. Kenapa Devan bisa berkata seperti itu padanya.
^^^Hai teman-teman jangan lupa vote dan like yah....^^^